Hari ini adalah waktu yang indah untuk melihat kembali dan bercermin pada momen-momen yang telah berlalu, kemenangan-kemenangan yang telah Anda raih, waktu yang telah Anda habiskan dengan keluarga dan teman, dan pilihan-pilihan baik yang telah Anda buat dalam usaha/karir Anda. Tapi untuk dapat bertumbuh dan berkembang baik secara pribadi maupun secara profesional, Anda juga harus melihat ke belakang dan mengakui ada beberapa hal yang telah menjadi tantangan bagi Anda, hal-hal yang tidak berjalan dengan baik.
Tidak ada yang salah dengan kemunduran, bahkan saya percaya jika kita tidak memiliki kendala yang perlu diatasi dalam kehidupan ini, kita tidak akan dapat belajar dan bertumbuh. Thomas Watson, pendiri IBM pernah berkata, "Jika Anda ingin meningkatkan tingkat keberhasilan Anda, lebih baik Anda bersiap-siap untuk meningkatkan tingkat kegagalan Anda."
Kita semua memiliki harapan dan mimpi untuk masa depan. Sebentar lagi lembaran rencana tahunan kita akan dihapus bersih dan memulai segalanya dengan baru dan segar. Mengapa tidak meluangkan waktu sejenak untuk merenungkan tentang mimpi dan cita-cita Anda untuk tahun yang akan datang? Dalam bidang apa Anda ingin bertumbuh? Apa yang sesungguhnya penting bagi Anda? Tantangan apa yang ingin Anda hadapi? Banyak dari kita tidak menyadari bahwa kita dapat memperoleh sesuatu ketika kita melepaskan bakat tersembunyi yang kita miliki.
Untuk membantu Anda menjadikan tahun mendatang sebagai tahun yang terbaik, luangkan waktu sebentar untuk merenungkan 11 saran ini :
1. Tantang Diri Anda
Miliki pandangan yang jelas dan fokus pada apa yang ingin Anda capai dan tentukan kurun waktunya. Tantang diri Anda untuk menjadi yang terbaik dalam setiap waktu. Visualisasikan apa yang ingin Anda raih. Bayangkan hal itu dalam benak Anda. Tulis harapan-harapan Anda, buat sebuah rencana pelaksanaan, dan jangan pernah ragu rencana tersebut tidak akan berhasil.
2. Temukan Faktor Cinta
Tempatkan diri Anda dalam lingkungan orang-orang yang penuh kasih dan suportif. Jauhi orang-orang yang menjatuhkan Anda, orang-orang yang merendahkan mimpi-mimpi Anda. Hargai orang-orang istimewa dalam hidup Anda dan biarkan mereka mengetahui bahwa Anda menghargai mereka.
3. Dedikasikan Waktu Berkualitas
Hidup ini sangat berharga, manfaatkan sebaik-baiknya setiap hari. Bangun pagi, luangkan waktu berkualitas untuk diri Anda sendiri dan juga dengan orang-orang yang Anda kasihi. Pergilah berjalan-jalan, berolahraga, membaca buku. Hargai waktu-waktu yang Anda habiskan bukan hanya dengan orang-orang terdekat, tapi juga waktu yang Anda gunakan untuk diri Anda sendiri.
4. Perbesar Zona Nyaman Anda
Lakukan sedikitnya sebuah hal dalam sehari yang membuat Anda merasa tidak nyaman. Paksa diri Anda, dan Anda akan terkejut mengetahui sejauh mana Anda dapat mendorong diri Anda sendiri. Ingatlah sisi lain dari rasa takut adalah kebebasan. Tetap stagnan berarti tidak bertumbuh. Untuk meraih potensi penuh, Anda harus bangkit di atas rasa takut dan membubung bagai seekor elang.
5. Bergairah
Tunjukkan gairah dalam setiap hal yang Anda lakukan. Biarkan hal itu terlihat melalui bahasa tubuh, dalam senyum dan suara Anda. Biarkan mata Anda berkilau. Biarkan dunia melihat dan mendengarkan antusiasme dan merasakan semangat Anda.
6. Layani Orang Lain
Jadilah teladan dan guru bagi orang lain. Jadikan diri Anda seorang sukarelawan dalam komunitas dan bantu orang lain untuk meraih mimpi mereka. Dunia Anda akan diperkaya dan menjadi lebih baik dengan berbagi talenta dan memberikannya secara gratis. Tinggalkan sebuah warisan yang abadi.
7. Jangan Dipusingkan Dengan Hal-Hal Kecil
Tinggalkan hal-hal kecil yang tidak dapat Anda kendalikan. Jangan menganggapnya terlalu serius. Sadari bahwa kesempurnaan bukanlah satu-satunya pilihan. Jangan biarkan ketidak-sempurnaan hidup mengganggu Anda. Ringankan perasaan Anda dan lihat sisi jenaka dari hal-hal yang berjalan salah, dan pelajarilah kesalahan tersebut. Jadilah toleran, tersenyum... Jangan habiskan energi Anda untuk hal-hal kecil, Anda masih memiliki hal-hal lain yang lebih besar untuk dikerjakan.
8. Hidup Dalam Kejujuran
Selalu jujur terhadap diri Anda sendiri. Banggalah dengan apa yang Anda lakukan. Hargai diri Anda sendiri. Terimalah orang lain dengan kekurangan mereka. Tunjukkan kasih, kepedulian dan niat baik sebagai sesama manusia. Hidup dengan bermartabat. Jalani sebuah kehidupan dengan tujuan dan hargailah nilai-nilai yang ada dalam diri Anda.
9. Tunjukkan Rasa Syukur
Tunjukkan rasa syukur dan katakan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu Anda. Kirimkan sebuah surat dengan tulisan tangan pribadi kepada orang-orang yang telah membantu dan menyentuh batin Anda. Telepon seorang sahabat atau orang yang Anda kasihi dan katakan betapa berharganya mereka bagi Anda. Berikan pujian pada sesama rekan kerja atau rekan bisnis pada saat mereka berprestasi. Tunjukkan pada orang bahwa Anda menghargai dan peduli terhadap mereka. Tindakan penuh kebaikan tidaklah sulit untuk dilakukan namun sangat berarti bagi mereka yang menerimanya.
10. Rayakan Keberhasilan
Banggalah terhadap prestasi Anda. Luangkan waktu untuk merayakan pencapaian Anda dan orang lain walaupun itu hanyalah sebuah kesuksesan kecil. Selain itu Anda juga harus tetap rendah hati dan bermartabat, peka terhadap orang-orang yang tidak seberuntung Anda.
11. Pancarkan Sikap Positif
Saya tidak dapat mengungkapkan betapa pentingnya untuk memiliki sebuah sikap positif dan percaya pada diri Anda sendiri. Ya, Anda bisa saja bertujuan baik, Anda bisa saja bertekad, namun tanpa sebuah sikap positif dalam diri dan kehidupan, Anda tidak akan berhasil. Impian akan mati, cita-cita akan menghilang, kemurungan dan kegelapan akan menggantikan langit biru dan sinar mentari dalam pikiran dan hati Anda.
Ingatlah bahwa orang seringkali melupakan apa yang Anda katakan atau lakukan bagi mereka, namun mereka tidak akan pernah melupakan bagaimana Anda mempengaruhi perasaan mereka. Buat suatu komitmen bagi diri Anda sendiri bukan hanya untuk menjadikan tahun berikutnya sebagai tahun yang terbaik, tapi juga untuk menolong orang yang Anda kasihi untuk dapat memperoleh tahun yang terbaik juga bagi mereka.
Tampilkan postingan dengan label Influence. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Influence. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Desember 2010
Rabu, 01 Desember 2010
Menjaga Lidah...
Lahir dalam keluarga miskin dengan banyak anak, tidaklah mudah. Kurang terurus, nakal, tak dihargai. Di kelas 3 SD, guru saya berkata: “Hei, kamu adiknya Badu ya? Jangan buat ulah seperti kakakmu, ya - sudah goblok, nakal lagi, tahu sendiri nanti!” Ucapan itu seperti kutuk yang menusuk hati. Setahun itu, saya tersiksa. Saya jadi suka bolos, malas belajar, dan akhirnya tidak naik kelas.
Tahun ajaran berikutnya, dengan baju lusuh dan celana bertambal, saya mengulang kelas 3. Malu rasanya. Namun, setelah 2 bulan, guru baru saya berkata, “Kamu bukan anak bodoh, tetapi anak pintar. Ibu akan buktikan.” Kata-kata berkat itu mengiang dan membakar semangat saya untuk belajar. Walau saya harus menunggu malam, agar bisa meminjam buku teman yang telah selesai belajar - sebab saya tak mampu membeli. Menjelang penerimaan rapor, ibu guru memanggil saya. Ia bandingkan rapor saya dengan si juara 1, ternyata nilai saya ada di atasnya. Hanya, karena sudah mengulang, saya tak bisa menjadi juara satu. Namun, kata penguatannya terngiang hingga kini, khususnya saat menghadapi kesulitan hidup.
Biarlah berkat saja yang keluar dari mulut kita. Kata yang terucap tak bisa ditarik kembali, dan ia bisa membangun atau menghancurkan. Jagalah lidah kita dalam bertutur kata...
Tahun ajaran berikutnya, dengan baju lusuh dan celana bertambal, saya mengulang kelas 3. Malu rasanya. Namun, setelah 2 bulan, guru baru saya berkata, “Kamu bukan anak bodoh, tetapi anak pintar. Ibu akan buktikan.” Kata-kata berkat itu mengiang dan membakar semangat saya untuk belajar. Walau saya harus menunggu malam, agar bisa meminjam buku teman yang telah selesai belajar - sebab saya tak mampu membeli. Menjelang penerimaan rapor, ibu guru memanggil saya. Ia bandingkan rapor saya dengan si juara 1, ternyata nilai saya ada di atasnya. Hanya, karena sudah mengulang, saya tak bisa menjadi juara satu. Namun, kata penguatannya terngiang hingga kini, khususnya saat menghadapi kesulitan hidup.
Biarlah berkat saja yang keluar dari mulut kita. Kata yang terucap tak bisa ditarik kembali, dan ia bisa membangun atau menghancurkan. Jagalah lidah kita dalam bertutur kata...
Marilah Jaga Mulut Kita, Ucapkan Berkat Bukannya Mengutuk
Kamis, 10 Desember 2009
Terlalu Sibuk Untuk Seorang Teman...
Suatu hari seorang guru meminta murid-muridnya untuk membuat sebuah daftar yang berisi nama-nama murid lainnya yang ada di dalam kelas pada selembar kertas. Kemudian dia menyuruh mereka untuk memikirkan hal-hal baik yang mereka lihat mengenai teman-teman sekelas mereka tersebut dan kemudian menuliskannya di kertas tersebut.
Tugas ini menghabiskan waktu satu semester untuk dapat diselesaikan oleh mereka, dan ketika saatnya tiba, tiap murid menyerahkan kertas yang ditugaskan tersebut. Hari Sabtu itu, sang guru menuliskan nama tiap murid pada lembaran kertas yang berbeda, dan mencantumkan apa yang telah dituliskan oleh murid lain hal-hal baik mengenai orang tersebut.
Pada hari Senin dia memberikan tiap murid kertas yang bertuliskan namanya. Tak lama berselang, seluruh kelas tersenyum. "Sungguh?" dia mendengar bisikan. "Saya tidak pernah tahu bahwa saya berarti untuk seseorang!" dan "Saya tidak tahu bahwa orang lain begitu menyukai diri saya" adalah sebagian besar komentar-komentar yang terlontar. Tidak ada seorangpun yang pernah membahas lagi mengenai tugas tersebut di kelas. Sang guru juga tidak tahu apakah mereka mendiskusikannya di luar kelas atau dengan orang tua mereka, tetapi hal itu tidak lagi menjadi masalah. Tugas itu telah mengenai sasarannya. Para murid telah menghargai murid-murid lainnya dan juga diri mereka sendiri.
Dan hidup pun berlanjut. Beberapa tahun berselang, salah seorang murid tersebut terbunuh di Vietnam dan sang guru datang menghadiri pemakaman murid istimewa tersebut. Dia tidak pernah melihat pemakaman ala militer sebelumnya. Muridnya terlihat begitu tampan, begitu dewasa. Gereja tempat acara berlangsung penuh dengan teman-temannya. Satu persatu orang yang mengasihinya berjalan memberi penghormatan terakhir di sisi peti matinya. Sang guru adalah orang terakhir yang memberikan penghormatan kepada murid tersebut. Saat dia berdiri di sana, salah seorang perwira yang berperan sebagai pengusung jenazah menghampirinya. "Apakah Anda guru matematika Mark?" tanyanya. Sang guru menjawab : "Ya." Kemudian perwira tersebut berkata : "Mark banyak bercerita tentang Anda."
Setelah pemakaman, sebagian besar bekas teman-teman sekelas Mark berkumpul bersama untuk ikut dalam perjamuan. Ibu dan ayah Mark juga hadir di sana, terlihat jelas sedang menunggu kesempatan untuk berbicara dengan gurunya. "Kami ingin menunjukkan Anda sesuatu," kata ayahnya, sambil mengeluarkan sebuah dompet dari kantungnya. "Mereka menemukan ini pada saat Mark terbunuh. Kami pikir Anda mungkin mengenalinya."
Sambil membuka dompet tersebut, dia dengan hati-hati mengambil selembar kertas tua yang dengan jelas telah direkatkan dengan isolasi, terlipat dan berulang kali terlipat. Sang guru saat itu juga tahu tanpa harus membaca isinya bahwa itu adalah secarik kertas berisi hal-hal baik yang dituliskan oleh teman-teman sekelas Mark.
"Terima kasih banyak untuk melakukan hal ini," kata ibunda Mark. "Seperti yang Anda lihat, Mark menyimpan dan memeliharanya baik-baik." Semua bekas teman-teman sekelas Mark mulai ikut berkerumun dan berkumpul. Charlie tersenyum dengan malu-malu dan berkata, "Saya masih memiliki daftar itu. Kertas itu ada di laci atas meja saya di rumah."
Istri Chuck berkata, "Chuck meminta saya untuk meletakkan kertas yang serupa pada album pernikahan kami." "Saya juga masih memilikinya," kata Marilyn. "Daftar tersebut masih terselip dalam buku harian saya." Kemudian Vicki, teman sekelas lainnya, merogoh kantongnya, mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan kertas dengan daftar tersebut yang sudah lapuk dan kusam. "Saya selalu membawa kertas ini setiap saat," kata Vicki dan tanpa berkedip, dia melanjutkan : "Saya rasa semua dari kita menyimpan daftar kita masing-masing."
Seketika itu juga sang guru terduduk dan menangis. Dia menangis untuk Mark dan semua teman-temannya yang telah meninggal dan tak akan pernah bisa ditemuinya lagi. Kericuhan manusia dalam masyarakat begitu menyita perhatian sampai-sampai kita lupa bahwa hidup suatu saat akan berakhir. Dan kita tidak tahu kapan hari tersebut tiba. Jadi marilah, katakan kepada orang-orang yang Anda cintai dan kasihi, bahwa mereka sangat istimewa dan penting. Katakan kepada mereka, sebelum hal itu terlambat.
Dan salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah : Bagikan kisah ini kepada orang lain. Jika Anda tidak melakukannya, Anda telah melewatkan sebuah kesempatan yang mengagumkan untuk melakukan sesuatu yang baik dan indah bagi orang-orang di sekeliling Anda. Jika Anda membaca kisah ini, itu karena seseorang peduli dengan Anda dan itu berarti setidaknya ada satu orang yang Anda kasihi yang patut mendengar hal ini. Jika Anda "terlalu sibuk" untuk menyempatkan beberapa menit itu sekarang untuk membagikan kisah ini kepada orang lain, bukan tidak mungkin ini bukanlah PERTAMA KALINYA Anda tidak melakukan hal kecil yang bisa membuat perbedaan besar dalam hubungan Anda dengan orang-orang yang Anda kasihi.
Semakin banyak Anda berbagi kisah ini kepada orang lain, semakin jelas kasih Anda meraih orang-orang yang Anda kasihi. Ingatlah, Anda menuai apa yang Anda tabur. Apa yang Anda lakukan terhadap orang lain akan berpulang kembali kepada diri Anda sendiri.
Tugas ini menghabiskan waktu satu semester untuk dapat diselesaikan oleh mereka, dan ketika saatnya tiba, tiap murid menyerahkan kertas yang ditugaskan tersebut. Hari Sabtu itu, sang guru menuliskan nama tiap murid pada lembaran kertas yang berbeda, dan mencantumkan apa yang telah dituliskan oleh murid lain hal-hal baik mengenai orang tersebut.
Pada hari Senin dia memberikan tiap murid kertas yang bertuliskan namanya. Tak lama berselang, seluruh kelas tersenyum. "Sungguh?" dia mendengar bisikan. "Saya tidak pernah tahu bahwa saya berarti untuk seseorang!" dan "Saya tidak tahu bahwa orang lain begitu menyukai diri saya" adalah sebagian besar komentar-komentar yang terlontar. Tidak ada seorangpun yang pernah membahas lagi mengenai tugas tersebut di kelas. Sang guru juga tidak tahu apakah mereka mendiskusikannya di luar kelas atau dengan orang tua mereka, tetapi hal itu tidak lagi menjadi masalah. Tugas itu telah mengenai sasarannya. Para murid telah menghargai murid-murid lainnya dan juga diri mereka sendiri.
Dan hidup pun berlanjut. Beberapa tahun berselang, salah seorang murid tersebut terbunuh di Vietnam dan sang guru datang menghadiri pemakaman murid istimewa tersebut. Dia tidak pernah melihat pemakaman ala militer sebelumnya. Muridnya terlihat begitu tampan, begitu dewasa. Gereja tempat acara berlangsung penuh dengan teman-temannya. Satu persatu orang yang mengasihinya berjalan memberi penghormatan terakhir di sisi peti matinya. Sang guru adalah orang terakhir yang memberikan penghormatan kepada murid tersebut. Saat dia berdiri di sana, salah seorang perwira yang berperan sebagai pengusung jenazah menghampirinya. "Apakah Anda guru matematika Mark?" tanyanya. Sang guru menjawab : "Ya." Kemudian perwira tersebut berkata : "Mark banyak bercerita tentang Anda."
Setelah pemakaman, sebagian besar bekas teman-teman sekelas Mark berkumpul bersama untuk ikut dalam perjamuan. Ibu dan ayah Mark juga hadir di sana, terlihat jelas sedang menunggu kesempatan untuk berbicara dengan gurunya. "Kami ingin menunjukkan Anda sesuatu," kata ayahnya, sambil mengeluarkan sebuah dompet dari kantungnya. "Mereka menemukan ini pada saat Mark terbunuh. Kami pikir Anda mungkin mengenalinya."
Sambil membuka dompet tersebut, dia dengan hati-hati mengambil selembar kertas tua yang dengan jelas telah direkatkan dengan isolasi, terlipat dan berulang kali terlipat. Sang guru saat itu juga tahu tanpa harus membaca isinya bahwa itu adalah secarik kertas berisi hal-hal baik yang dituliskan oleh teman-teman sekelas Mark.
"Terima kasih banyak untuk melakukan hal ini," kata ibunda Mark. "Seperti yang Anda lihat, Mark menyimpan dan memeliharanya baik-baik." Semua bekas teman-teman sekelas Mark mulai ikut berkerumun dan berkumpul. Charlie tersenyum dengan malu-malu dan berkata, "Saya masih memiliki daftar itu. Kertas itu ada di laci atas meja saya di rumah."
Istri Chuck berkata, "Chuck meminta saya untuk meletakkan kertas yang serupa pada album pernikahan kami." "Saya juga masih memilikinya," kata Marilyn. "Daftar tersebut masih terselip dalam buku harian saya." Kemudian Vicki, teman sekelas lainnya, merogoh kantongnya, mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan kertas dengan daftar tersebut yang sudah lapuk dan kusam. "Saya selalu membawa kertas ini setiap saat," kata Vicki dan tanpa berkedip, dia melanjutkan : "Saya rasa semua dari kita menyimpan daftar kita masing-masing."
Seketika itu juga sang guru terduduk dan menangis. Dia menangis untuk Mark dan semua teman-temannya yang telah meninggal dan tak akan pernah bisa ditemuinya lagi. Kericuhan manusia dalam masyarakat begitu menyita perhatian sampai-sampai kita lupa bahwa hidup suatu saat akan berakhir. Dan kita tidak tahu kapan hari tersebut tiba. Jadi marilah, katakan kepada orang-orang yang Anda cintai dan kasihi, bahwa mereka sangat istimewa dan penting. Katakan kepada mereka, sebelum hal itu terlambat.
Dan salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah : Bagikan kisah ini kepada orang lain. Jika Anda tidak melakukannya, Anda telah melewatkan sebuah kesempatan yang mengagumkan untuk melakukan sesuatu yang baik dan indah bagi orang-orang di sekeliling Anda. Jika Anda membaca kisah ini, itu karena seseorang peduli dengan Anda dan itu berarti setidaknya ada satu orang yang Anda kasihi yang patut mendengar hal ini. Jika Anda "terlalu sibuk" untuk menyempatkan beberapa menit itu sekarang untuk membagikan kisah ini kepada orang lain, bukan tidak mungkin ini bukanlah PERTAMA KALINYA Anda tidak melakukan hal kecil yang bisa membuat perbedaan besar dalam hubungan Anda dengan orang-orang yang Anda kasihi.
Semakin banyak Anda berbagi kisah ini kepada orang lain, semakin jelas kasih Anda meraih orang-orang yang Anda kasihi. Ingatlah, Anda menuai apa yang Anda tabur. Apa yang Anda lakukan terhadap orang lain akan berpulang kembali kepada diri Anda sendiri.
You cannot do a kindness too soon, for you never know how soon it will be too late.
- Ralph Waldo Emerson -
- Ralph Waldo Emerson -
Senin, 12 Oktober 2009
Teladan...
Lagi-lagi sumber inspirasi saya hari ini berasal dari sebuah lelucon. Kali ini kita berbicara mengenai keteladanan. Kira-kira begini kisahnya :
Tiga orang anak datang ke dapur dan duduk di meja makan untuk menikmati sarapan. Sang ibu bertanya kepada anak tertua apa yang ingin dimakannya. "Aku ingin roti bakar keparat," katanya. Ibunya sangat marah mendengar bahasa kasar yang keluar dari mulut anak tertua tersebut, memukulnya, dan menyuruhnya pergi ke lantai atas. Kemudian sang ibu bertanya kepada anak kedua. "Hmm, berarti sekarang yang pasti aku yang harus makan roti bakar keparat itu," katanya. Sang ibu pun kembali marah besar, memukul anak itu karena berkata kasar, dan menyuruhnya pergi. Dan terakhir dia bertanya kepada anaknya yang paling kecil apa yang ingin dia makan untuk sarapan. "Aku tidak tahu," katanya sambil memelas, "Tapi aku yang pasti tidak mau makan roti bakar keparat itu."
Lucu sekali melihat bahwa kata-kata kasar tersebut begitu cepat menular. Bahkan anak yang paling kecil pun ikut-ikutan menggunakan kata tersebut, padahal mungkin dia sendiri tidak mengerti apa artinya. Semoga lelucon ini dapat mengingatkan kita, apapun yang kita lakukan, akan sangat berpengaruh bagi orang-orang di sekeliling kita, terutama orang-orang terkasih kita. God bless you, hope this joke helps you all...
Tiga orang anak datang ke dapur dan duduk di meja makan untuk menikmati sarapan. Sang ibu bertanya kepada anak tertua apa yang ingin dimakannya. "Aku ingin roti bakar keparat," katanya. Ibunya sangat marah mendengar bahasa kasar yang keluar dari mulut anak tertua tersebut, memukulnya, dan menyuruhnya pergi ke lantai atas. Kemudian sang ibu bertanya kepada anak kedua. "Hmm, berarti sekarang yang pasti aku yang harus makan roti bakar keparat itu," katanya. Sang ibu pun kembali marah besar, memukul anak itu karena berkata kasar, dan menyuruhnya pergi. Dan terakhir dia bertanya kepada anaknya yang paling kecil apa yang ingin dia makan untuk sarapan. "Aku tidak tahu," katanya sambil memelas, "Tapi aku yang pasti tidak mau makan roti bakar keparat itu."
Lucu sekali melihat bahwa kata-kata kasar tersebut begitu cepat menular. Bahkan anak yang paling kecil pun ikut-ikutan menggunakan kata tersebut, padahal mungkin dia sendiri tidak mengerti apa artinya. Semoga lelucon ini dapat mengingatkan kita, apapun yang kita lakukan, akan sangat berpengaruh bagi orang-orang di sekeliling kita, terutama orang-orang terkasih kita. God bless you, hope this joke helps you all...
Senin, 28 September 2009
Solider atau Bodoh?
Saya pernah membaca suatu kisah di forum yang cukup lucu, yang ingin saya bagikan kepada Anda. Sebuah kisah yang bercerita mengenai solidaritas, atau lebih tepatnya mengenai kebodohan. Demikian kisahnya :
Di sebuah proyek pembangunan apartement, ada 3 orang pekerja yang sedang menikmati makan siang mereka.
Pekerja 1 : Yah ampun!!!! Roti isi telor lagi!!! TELOR TELOR TELORRR terussss!!!!! Kalo besok gue masih dibawain roti isi telor lagi, gue bakalan loncat dari gedung atas!!!!!!!!!!!!
Pekerja 2 : NASI UDUK, NASI UDUK, NASI UDUK terus!!!!!!!!!!! Bisa gila nih gue!!!! Kalo besok masih nasi uduk, gue bakalan bunuh diri!
Pekerja 3 : ROTI SELAI KACANG??????? Tiappppp hari gue makan roti selei kacang!!! Kalo besok masih selei kacang juga gue bakalan ikutan loncat bareng elu berdua!!!!
Keesokan harinya, si pekerja pertama diberi bekal roti isi telor lagi oleh istrinya, tukang kedua membawa nasi uduk lagi, dan tukang ketiga juga membawa roti selai kacang lagi. Akhirnya mereka bertigapun loncat dari gedung!!!!
Di pemakaman, ketiga istri pekerja-pekerja itu sedih sekali, sambil berkata :
Istri 1 : Kalau saja saya tahu dia tidak mau makan roti isi telur, pasti sudah saya buatkan bekal yang lain....
Istri 2 : Kalau saja dia bilang dia bosan dengan nasi uduk, pasti tidak seperti ini jadinya........
Istri 3 : Saya bingung kenapa suami saya bunuh diri, dia selalu bikin bekalnya sendiri......
Kisah yang menggelitik, tapi membuka wawasan saya. Solidaritas itu adalah hal yang bagus, tetapi waspadalah pada suatu titik solidaritas dapat berubah menjadi suatu kebodohan. God bless you, hope this joke can inspire you all...
Di sebuah proyek pembangunan apartement, ada 3 orang pekerja yang sedang menikmati makan siang mereka.
Pekerja 1 : Yah ampun!!!! Roti isi telor lagi!!! TELOR TELOR TELORRR terussss!!!!! Kalo besok gue masih dibawain roti isi telor lagi, gue bakalan loncat dari gedung atas!!!!!!!!!!!!
Pekerja 2 : NASI UDUK, NASI UDUK, NASI UDUK terus!!!!!!!!!!! Bisa gila nih gue!!!! Kalo besok masih nasi uduk, gue bakalan bunuh diri!
Pekerja 3 : ROTI SELAI KACANG??????? Tiappppp hari gue makan roti selei kacang!!! Kalo besok masih selei kacang juga gue bakalan ikutan loncat bareng elu berdua!!!!
Keesokan harinya, si pekerja pertama diberi bekal roti isi telor lagi oleh istrinya, tukang kedua membawa nasi uduk lagi, dan tukang ketiga juga membawa roti selai kacang lagi. Akhirnya mereka bertigapun loncat dari gedung!!!!
Di pemakaman, ketiga istri pekerja-pekerja itu sedih sekali, sambil berkata :
Istri 1 : Kalau saja saya tahu dia tidak mau makan roti isi telur, pasti sudah saya buatkan bekal yang lain....
Istri 2 : Kalau saja dia bilang dia bosan dengan nasi uduk, pasti tidak seperti ini jadinya........
Istri 3 : Saya bingung kenapa suami saya bunuh diri, dia selalu bikin bekalnya sendiri......
Kisah yang menggelitik, tapi membuka wawasan saya. Solidaritas itu adalah hal yang bagus, tetapi waspadalah pada suatu titik solidaritas dapat berubah menjadi suatu kebodohan. God bless you, hope this joke can inspire you all...
Langganan:
Postingan (Atom)