Tampilkan postingan dengan label Judgement. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judgement. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Desember 2010

Menjaga Lidah...

Lahir dalam keluarga miskin dengan banyak anak, tidaklah mudah. Kurang terurus, nakal, tak dihargai. Di kelas 3 SD, guru saya berkata: “Hei, kamu adiknya Badu ya? Jangan buat ulah seperti kakakmu, ya - sudah goblok, nakal lagi, tahu sendiri nanti!” Ucapan itu seperti kutuk yang menusuk hati. Setahun itu, saya tersiksa. Saya jadi suka bolos, malas belajar, dan akhirnya tidak naik kelas.

Tahun ajaran berikutnya, dengan baju lusuh dan celana bertambal, saya mengulang kelas 3. Malu rasanya. Namun, setelah 2 bulan, guru baru saya berkata, “Kamu bukan anak bodoh, tetapi anak pintar. Ibu akan buktikan.” Kata-kata berkat itu mengiang dan membakar semangat saya untuk belajar. Walau saya harus menunggu malam, agar bisa meminjam buku teman yang telah selesai belajar - sebab saya tak mampu membeli. Menjelang penerimaan rapor, ibu guru memanggil saya. Ia bandingkan rapor saya dengan si juara 1, ternyata nilai saya ada di atasnya. Hanya, karena sudah mengulang, saya tak bisa menjadi juara satu. Namun, kata penguatannya terngiang hingga kini, khususnya saat menghadapi kesulitan hidup.

Biarlah berkat saja yang keluar dari mulut kita. Kata yang terucap tak bisa ditarik kembali, dan ia bisa membangun atau menghancurkan. Jagalah lidah kita dalam bertutur kata...

Marilah Jaga Mulut Kita, Ucapkan Berkat Bukannya Mengutuk

Minggu, 14 Februari 2010

Cinta Tak Bersyarat....

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang prajurit yang akhirnya pulang setelah selesai bertugas di Vietnam. Sang prajurit menelpon kedua orang tuanya dari San Fransisco. "Ayah dan Ibu, saya akan segera pulang, tapi saya punya sebuah permintaan. Saya mau mengajak seorang teman bersama-sama dengan saya." "Tentu saja boleh," jawab mereka, "Kami sangat senang untuk bertemu dengannya." "Tapi sebelumnya ada suatu hal yang perlu kalian ketahui," lanjut sang anak, "Dia kehilangan sebuah tangan dan sebuah kakinya. Dia tidak memiliki tempat untuk pergi dan saya ingin dia untuk tinggal bersama-sama dengan kita." "Kami sangat menyesal mendengar hal itu, nak. Mungkin kita dapat membantunya untuk menemukan tempat di mana dia dapat tinggal." "Tidak, Ayah dan Ibu. Saya mau dia tinggal bersama-sama dengan kita." "Anakku," kata sang ayah, "Kau tidak tahu apa yang kau minta. Seseorang dengan kondisi cacad seperti itu akan menjadi beban yang sangat berat bagi kita semua. Kita memiliki kehidupan kita masing-masing, dan kita tidak dapat hal-hal seperti ini mengganggu kehidupan kita. Menurut kami kau sebaiknya pulang dan lupakan mengenai orang ini. Dia akan menemukan jalan untuk hidup mandiri."

Seketika itu juga, sang anak memutuskan telepon. Kedua orang tua itu tidak pernah mendengar lagi kabar tentang anaknya. Namun beberapa hari kemudian, mereka menerima telepon dari kepolisian San Fransisco. Mereka mendapat kabar bahwa anak mereka telah meninggal setelah terjatuh dari atap sebuah gedung. Pihak kepolisian meyakini bahwa kejadian ini adalah bunuh diri. Kedua orang tua yang berduka itu terbang ke San Fransisco dan diantar ke kamar mayat untuk mengidentifikasi tubuh sang anak. Mereka mengenalinya, tetapi hal yang lebih mengejutkan bagi mereka adalah ketika mereka mengetahui suatu hal yang tidak pernah mereka tahu. Anak mereka hanya memiliki satu kaki dan satu tangan.

Orang tua dari anak di dalam kisah ini mirip dengan banyak dari kita. Kita merasa mudah untuk mencintai dan menyukai orang yang tampan/cantik atau menyenangkan, tetapi kita tidak menyukai pribadi yang membuat kita tidak nyaman atau membuat kita tidak merasa senang. Kita memilih untuk menjauh dari orang-orang yang tidak sesehat, secantik/setampan, atau sepandai kita. Namun untungnya masih ada orang-orang yang tidak memperlakukan kita seperti itu. Seseorang yang mencintai kita dengan cinta tak bersyarat yang selalu menyambut kita ke dalam keluarga mereka, tidak peduli seberapa kacau balaunya diri kita.

Sebuah video mengenai cinta tak bersyarat, "People Helping People." Semoga video ini dapat membuka mata hati kita semua untuk mengetahui bahwa masih ada banyak pribadi di luar sana yang membutuhkan bantuan.



Di hari kasih sayang ini, marilah kita belajar untuk mengasihi sesama kita bukan karena kelebihannya, tapi karena mereka juga manusia seperti kita, insan-insan yang butuh kasih sayang. Kalau hanya orang-orang sempurna yang layak mendapatkan cinta, alangkah malangnya orang-orang yang cacad atau memiliki kekurangan. Mereka juga manusia, sama seperti kita. Mari berbagi cinta tidak hanya bagi mereka yang elok dipandang mata, tetapi juga bagi mereka yang memiliki kekurangan, karena mereka juga butuh untuk dicintai dan diterima...

Jumat, 13 November 2009

Susan Boyle, Sebuah Pembuktian Eksistensi Diri

Dia jelas-jelas tidak memiliki "potongan" artis. Gemuk, berusia 47 tahun, kikuk dan cara dandannya sangat pas-pasan. Para juri Britain's Got Talent, termasuk Simon Cowell yang terkenal tajam lidahnya dalam American Idol, meragukan Susan Boyle saat ia muncul di panggung. Begitu pula dengan penonton yang melihat syuting acara pencari bakat Inggris itu.



Tapi begitu Susan Boyle menyanyikan lagu opera, "I Dreamed a Dream" dari Les Miserables, semua penonton takjub luar biasa. Suaranya yang sangat indah dan merdu membuat para penonton berulang-ulang berdiri memberi tepuk tangan. Para juri - Cowell, Piers Morgan, dan Amanda Holden - juga ikut ternganga mendengar suara menakjubkan Susan Boyle.
Piers menyebutkan "biggest yes." Amanda Holden berdiri memberi tepuk tangan. Sedangkan Cowell mengganti kata-kata pedas dengan pujian semanis gula.

Susan Boyle si perawan tua, dalam sekejab menjadi bintang. Video pentasnya di Britain's Got Talent di YouTube diklik lebih dari 34 juta orang dalam waktu sepekan atau dengan kata lain video paling banyak diklik di YouTube pada bulan itu.

Demi Moore, seorang aktris Hollywood, mengungkapkan saat melihat video itu di Twitter diapun menangis terharu. Bahkan Oprah Winfrey sudah mengundangnya datang untuk duduk di sofanya dalam acara yang ditonton di seluruh dunia.

Ia memang memiliki cerita hidup yang layak diceritakan di Oprah Winfrey Show. Bukan hanya penampilan yang tidak "ngartis" tapi juga kisah hidupnya yang dramatis. Saat lahir, ia sempat kehabisan oksigen dan membuat perkembangan otak sedikit abnormal. Di sekolah, dia sedikit terbelakang dan sering menjadi bahan ejekan teman-temannya. Namun dia sangat rajin ke gedung teater untuk menyaksikan para penyanyi profesional. Sekitar 14 tahun silam, ia ikut audisi acara televisi My Kind of People. Tapi karena grogi iapun gagal.

Susan begitu serius bernyanyi sehingga dia belajar dari seorang guru vokal, Fred O'Neil. Satu dekade silam ia pernah rekaman berjudul "Cry Me a River" untuk album peringatan pergantian milenium di kampung asalnya.

Sang Ibunda sampai saat-saat terakhir beliau meninggal dua tahun silam pada usia 91 tahun, terus mendorong anaknya itu untuk ikut kompetisi menyanyi nasional, bukan sekedar lomba menyanyi lokal yang telah beberapa kali ia menangkan. Tapi Susan selalu merasa tidak siap.

Pentas pertama setelah kepergian ibunya adalah di hadapan Simon Cowell yang mengguncangkan dunia itu. Sesaat sebelum tampil, Cowell sempat bertanya tentang umur dan hal-hal sepele lainnya. Boyle mengaku belum pernah pacaran. Berciuman pun juga belum pernah. Bahkan sekarang dia tinggal hanya dengan seekor kucing di rumahnya.

Pentas yang mengukir sejarah ini membuatnya diundang ke acara Oprah. Cowell, juri yang juga produser itu, tahu arti diundang tampil ke acara Oprah Show. "Jika ia pergi ke acara Oprah, saya pikir besar peluang Susan Boyle untuk memiliki album nomor satu di Amerika."

Kata “Susan Boyle” itu sendiri saya temukan ketika saya melakukan market research, “Susan Boyle” di Google Trends Amerika Serikat menjadi rising keyword nomor dua setelah “Swine Flu” saat itu. Saya jadi penasaran sekali dengan “Susan Boyle” ini, maka saya pun googling dan menemukan kisah dan video seorang Susan Boyle. Seorang yang dipandang sebelah mata oleh dunia ini, telah berhasil membuktikan eksistensi dirinya kepada dunia bahwa dia berharga. I love you Susan, not because your beautiful voice only, but because you fight for your dreams...

Rabu, 11 November 2009

How Beautiful Are You Inside?

Operasi plastik belakangan ini semakin banyak peminatnya. Banyak orang rela menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk mengubah bentuk wajah maupun tubuhnya. Lewat operasi seperti ini diharapkan bagian tubuh yang tidak menarik bisa langsung berubah menjadi lebih cantik. Orang gemuk bisa mendadak menjadi kurus. Pendek kata, orang merindukan terjadinya perubahan radikal. Sebuah metamorfosis. Bagai ulat buruk rupa berubah menjadi kupu-kupu nan jelita. Hasil akhir yang sangat berbeda dari asal mulanya.

Tapi selain metamorfosis fisik, sebuah metamorfosis batiniah juga diperlukan. Perubahan radikal di dalam hati ternyata jauh lebih penting dibanding perubahan fisik. Ini yang saya sebut dengan istilah "Beautiful Inside."

Seringkali kita lebih sibuk mendandani penampilan luar dan mengabaikan penampilan dalam kita. Tulisan ini adalah sebuah refleksi terhadap kenyataan bahwa bagian dalam kita juga butuh dibenahi. Pada akhirnya yang benar-benar penting adalah bukan bagaimana Anda terlihat di luar, tapi justru bagian dalam Anda.

Saya mengenal begitu banyak wanita dalam hidup saya dan satu hal identik yang saya lihat dari mereka adalah keinginan untuk terlihat cantik setiap saat. Saya yakin ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Seorang wanita dapat berdiri lama di depan cermin untuk waktu yang lama demi memastikan bahwa dia terlihat menarik dan segala hal mengenai dirinya sempurna. Semakin banyak ketidak-sempurnaan yang mereka temui, semakin lama mereka bertahan bersama cerminnya walaupun ada hal yang lebih penting untuk dilakukan.

Saya seringkali takjub mengapa orang menghabiskan begitu banyak waktu untuk terlihat indah di luar sementara menghabiskan lebih sedikit waktu atau bahkan mengabaikan kecantikan batin mereka. Kita menghabiskan begitu banyak biaya berusaha untuk terlihat elok secara fisik tapi begitu sedikit sekali untuk menghiasi 'inner self' kita. Izinkan saya memberi tahu Anda, bagian dalam juga butuh untuk diperhatikan. Tidak seorangpun yang waras berpikir untuk mengenakan baju lusuh pada sebuah acara penting, tapi itulah yang sering kita lakukan terhadap bagian dalam kita. Kita mengenakan pakaian mahal di luar tapi mengenakan baju lusuh di dalam kita. Pada akhirnya, orang-orang yang masuk ke dalam kategori ini, menjadi malu karena baju lusuh yang ada di dalam akan selalu terlihat bagaimanapun caranya.

Mempercantik bagian dalam Anda, adalah tentang belajar sesuatu setiap hari yang akan membangun Anda dan menambah nilai dalam hidup Anda. Belajar adalah sebuah aspek penting dalam hidup manusia yang telah diabaikan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Untuk mengetahui apakah Anda juga 'bersalah' atau tidak, ambil sebuah pena dan tulis seberapa banyak yang telah Anda habiskan untuk barang seperti pakaian, perhiasan dan hal-hal lainnya. Kemudian imbangi dengan menulis berapa banyak yang telah Anda keluarkan untuk hal-hal yang akan mengembangkan pikiran Anda seperti buku, kaset dan video edukasi, dan juga seminar-seminar.

Saat Anda melihat daftar tersebut, Anda akan menyadari apakah Anda memiliki yang disebut sebagai 'Inner Beauty.' Ada beberapa orang yang tidak pernah memusingkan diri untuk membenahi bagian dalam mereka tapi mereka justru menjadikannya sebuah tempat penampungan sampah. Sungguh disayangkan. Ternyata tidak sedikit manusia yang 'satu ras' dengan tikus.

Investasi terbaik adalah investasi terhadap pikiran Anda. Saat berinvestasi pada inner self, Anda membangun otot-otot mental yang suatu saat dapat membantu Anda untuk bertahan di dunia ini. Sebagian orang menghabiskan waktu berjam-jam di gym berusaha untuk membangun otot fisik mereka tetapi meninggalkan otot mental mereka tidak terjaga. Ketika otot fisik mereka gagal untuk menyelesaikan masalah, apa yang dapat mereka lakukan untuk menyelamatkan diri...

Luar biasa melihat begitu banyak orang 'kekar' yang ternyata tidak memiliki tujuan dalam hidup. Pernahkah Anda mendengar kisah seseorang yang 'kecil' sedang dijaga oleh orang-orang yang kekar? Apa yang terjadi pada kisah ini? Ketika orang-orang perkasa ini sedang berfokus pada otot fisik mereka, makhluk 'mini' yang sedang mereka jaga justru sedang sibuk membangun otot mental mereka sehingga mereka mampu mengalahkan segala rintangan yang ada di hadapan mereka.

Jika Anda ingin mengalami sebuah kesukesan yang lengkap dalam hidup, mulailah membaca buku yang bagus, beli kaset dan video yang membangun dan hadiri seminar-seminar yang menjadikan Anda seimbang secara mental. Jika Anda di dalam menawan, Anda akan selalu diterima dimanapun Anda berada peduli bagaimana dengan penampilan luar Anda. Kecantikan batiniah akan selalu memancar kapanpun Anda membuka mulut untuk berbicara. Sebuah refleksi bagi Anda dan saya untuk jadi bahan perenungan sudahkah kita cantik luar dan dalam...

Jika Kita Tidak Mau Diubah Oleh Tuhan, Dunialah Yang Akan Mengubah Kita

Minggu, 18 Oktober 2009

Sejarah Mengajarkan...

Tahukah Anda?

Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankannya untuk menggugurkan kandungannya?

Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh salah satu komponis mashyur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.

Sekarang adalah waktunya untuk memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang. Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:

Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap hari.
Calon B: dipecat dua kali dari kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum wiski tiap sore.
Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh diluar perkawinannya.

Siapa diantara ketiga calon ini yang akan anda pilih? Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini.

Calon A adalah Franklin D. Roosevelt.
Calon B adalah Winston Churchill.
Calon C adalah Adolf Hitler.

Sekali lagi sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan.

Jumat, 16 Oktober 2009

Cara British Airways Menghadapi Rasialisme

Kejadian di bawah ini berlangsung dalam penerbangan British Airways antara Johannesburg dan London. Seorang wanita kulit putih Afrika Selatan berusia sekitar 50 tahunan duduk di samping seorang pria berkulit hitam. Hal ini agaknya mengganggu wanita ini sehingga dia memanggil pramugari, "Nyonya, ada masalah apa?" tanya parmugari.

"Anda tidak melihat apa yang terjadi?" tanya wanita itu. "Anda menempatkan saya di samping pria berkulit hitam. Saya keberatan duduk di samping orang yang tergolong menjijikan seperti itu. Berikan saya kursi pengganti," kata wanita itu. "Tolong tenang dulu," jawab sang pramugari. "Hampir semua kursi dalam pesawat ini telah terisi. Akan saya lihat dulu kalau-kalau masih ada kursi yang kosong."

Pramugari itu pun berlalu dan kembali lagi beberapa menit kemudian.

"Nyonya, seperti yang telah saya perkirakan, tidak ada lagi kursi kosong di kelas ekonomi. Saya sudah berbicara dengan kapten dan dia bilang kalau masih ada satu kursi kosong di kelas bisnis. Juga ada satu kursi kosong di kelas utama (first class)."

Sebelum wanita itu berkata apa-apa, pramugari itu pun melanjutkan kata-katanya: "Perusahaan kami biasanya tidak memperbolehkan penumpang dari kelas ekonomi untuk duduk di kelas utama. Namun, dalam situasi semacam ini, kapten merasa bahwa akan sangat memalukan membiarkan seorang penumpang duduk di samping penumpang lain yang begitu menjijikan."

Pramugari itu lalu berpaling kepada pria berkulit hitam itu dan berkata : "Karena itu Pak, jika Anda berkenan, silakan kemasi bawaan Anda, dan pindahlah ke kelas utama."

Seketika itu juga, penumpang lain yang masih terkejut oleh apa yang baru saja terjadi, serentak berdiri dan memberi tepuk tangan penghormatan. sebuah cara jitu untuk memerangi rasialisme baru saja ditunjukkan oleh British Airways.

This is a true story...

Rabu, 07 Oktober 2009

Tidakkah Kita Semua Butuh Bantuan?????

Suatu hari saya sedang parkir di jalan raya sepulang dari bengkel selesai mencuci mobil. Sambil menunggu seseorang, saya mengambil secarik kain dan mulai membersihkan mobil saya, daripada saya hanya menunggu, saya pikir alangkah baiknya kalau saya membersihkan sedikit bercak-bercak air yang masih tersisa. Tak lama kemudian, dari seberang jalan datang seseorang dianggap oleh masyarakat sebagai seorang gelandangan.

Dari penampilannya, dia tidak memiliki mobil, rumah, baju bersih, apalagi uang. Ada saatnya kita merasa murah hati namun adakalanya juga saat dimana kita tidak ingin diganggu. Saat itu adalah salah satu saat dimana perasaan saya tidak ingin diganggu. "Saya harap dia tidak meminta uang kepada saya," gumam saya dalam hati.

Dan memang dia tidak memintanya kepada saya. Dia datang menghampiri saya dan duduk di trotoar. Setelah beberapa menit dia berkata : "Sungguh mobil yang sangat bagus." Memang tampangnya sangat lusuh namun dia mempunyai suatu aura harga diri yang sangat terasa di sekelilingnya. Jenggotnya yang tidak terawat tidak dapat menutupi aura kehangatan yang terpancar di wajahnya. Saya berkata, "Terima kasih", dan kembali melanjutkan membersihkan mobil saya.

Dia terus duduk di trotoar sambil terdiam saat saya melanjutkan pekerjaan saya. Kata-kata meminta uang yang saya harapkan tidak pernah keluar dari mulutnya. Saat keheningan diantara kami berdua terus berlanjut, ada suara di dalam hati saya yang berkata "Tanyakan padanya apakah dia butuh bantuan." Saya sangat yakin sekali bahwa dia akan berkata "iya" tapi saya hanya menyimpan prasangka itu di dalam hati saya.

"Apakah anda membutuhkan bantuan" tanya saya. Dia menjawah dalam empat kata sederhana namun sangat mendalam yang tidak akan pernah saya lupakan. Kita seringkali mencari kebijaksanaan dari orang-orang hebat. Kita berharap mendapatkannya dari mereka yang telah lebih banyak mengerti, lebih banyak belajar dan lebih berprestasi dari kita. Saat itu saya mengharapkan tidak lebih dari sebuah uluran tangan yang siap menerima bantuan. Namun dia menjawab dengan lima kata sederhana yang sangat membuat saya tersentak kaget.

"Tidakkah Kita Semua Butuh Bantuan?" kata orang itu.

Saat itu saya merasa tinggi dan berkuasa, sukses dan penting, dibandingkan dengan seorang gelandangan jalanan, sampai empat kata tersebut menghantam diriku seperti sebuah godam raksasa.

Tidakkah Kita Semua Butuh Bantuan?

Saya memang membutuhkan bantuan. Mungkin memang bukan untuk ongkos naik bis atau sebuah tempat membaringkan badan untuk tidur, tapi pada kenyataannya saya memang membutuhkan bantuan. Saya meraih dompet saya dan memberinya uang bukan hanya untuk ongkos naik bis, tapi juga cukup untuk membeli makanan hangat dan tempat berteduh untuk hari itu. Empat kata-kata kecil itu masih terus terngiang di telinga saya sampai saat ini. Tidak peduli seberapa banyak materi yang kita punya, tidak peduli seberapa jauh yang telah kita capai, kita juga membutuhkan bantuan. Tidak perduli sesedikit apapun materi yang kita punya, tidak perduli sebanyak apapun masalah yang kita hadapi, bahkan tanpa uang di kantong sekalipun atau tanpa punya tempat untuk tidur, kitapun tetap dapat memberikan bantuan. Walaupun hanya sekedar kata-kata pujian, terkadang itu akan sangat membantu. Bahkan terhadap seseorang yang memiliki segalanya.

Mungkin saja mereka menunggu anda untuk memberikan sesuatu yang mereka tidak miliki. Sebuah perspektif hidup yang berbeda, sekelebat hal yang indah, sebuah kelonggaran dalam menghadapi tuntutan dan kekacauan hidup, yang kebetulan hanya anda yang dapat melihatnya saat itu.

Mungkin orang tersebut hanyalah orang asing yang tidak memiliki apapun yang berkeliling di jalanan. Mungkin saja dia lebih daripada itu. Mungkin saja dia adalah seseorang yang dikirim oleh suatu kuasa yang luar biasa dan bijaksana, untuk melayani jiwa-jiwa yang terlalu nyaman dengan keadaan mereka. Mungkin Tuhan melihat ke bawah, memanggil seorang malaikat, berpenampilan seperti seorang gelandangan, dan berkata "Layanilah orang yang sedang membersihkan mobil itu, sepertinya orang itu butuh bantuan."

Tidakkah Kita Semua Butuh Bantuan?

Sabtu, 03 Oktober 2009

Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya...

Hari ini saya menemui pengalaman lucu, tapi sekaligus menjadi pelajaran buat kita semua. Saat duduk di sebuah kafe, sambil menunggu rekan-rekan untuk ngopi bersama. Saat kami duduk-duduk memesan minuman, sang pelayan melayani kami dengan ramah dan sopan. Tak lama kemudian datang seorang pemuda separuh baya, duduk sambil mengeluarkan rokoknya. Sambil membaca koran, beliau menunggu pelayan melayani dia untuk mendapatkan pesanannya. Yang mengherankan, pelayan yang sama dengan pelayan yang melayani kami memperlakukan orang tersebut dengan acuh tak acuh, boleh dibilang sambil lalu saja. Sungguh suatu sikap yang kontras, dimana pelayan tersebut melayani kami dengan sikap yang sangat ramah dan bersahabat, sedangkan pelayanannya terhadap pemuda tersebut sangatlah acuh tak acuh. Melihat notebook-notebook bertebaran di atas meja, handphone-handphone dan blackberry tergeletak di meja kami membuat sang pelayan semakin ramah melayani kami, sedangkan sang pemuda yang hanya membaca koran mengalami perlakuan yang berbeda, bahkan boleh dibilang sangat berbeda dengan perlakuan yang kami terima.

Apakah pantas seseorang dibedakan karena penampilan luarnya? Haruskah kita membedakan antara orang-orang berdasi dengan orang yang hanya mengenakan cenala jeans, kaos belel, dan sendal jepit? Apakah karena seseorang memiliki gadget, menggendong tas notebook, menenteng blackberry pantas dibedakan dengan seseorang yang hanya menggulung koran di tangannya? Kalau memang harus dibedakan, alangkah kejamnya dunia ini, sehingga hanya orang-orang berduit saja yang layak mendapatkan rasa segan dan hormat dari dunia ini.

Ada satu pepatah yang selalu saya ingat sampai saat ini : "Kita dilahirkan ke dunia ini tanpa membawa apa-apa, demikian pula kita meninggalkan dunia ini tidak membawa apa-apa". Sadarilah bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan Yang Diatas. Kalau kita memiliki lebih dari orang lain, bersyukurlah, karena Tuhan mempercayakan kita hal yang lebih dari orang lain. Tapi tetaplah sadari, segala kelebihan itu hanyalah titipan Tuhan, bukan milik kita. Kalau Tuhan saja tidak membedakan umatNya berdasarkan materi, apalah hak kita sebagai manusia untuk membeda-bedakannya?

Don't Judge A Book Book By Its Cover, jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja. Mereka juga manusia, yang memiliki kelebihan. Mungkin sebagian orang memiliki kekayaan materi dalam hidupnya, tapi bukan berarti orang yang tidak memilikinya berarti tidak memiliki apa-apa dalam hidupnya. Banyak hal yang lebih bernilai selain materi, seperti kekayaan mental dan akhlak, yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang pada zaman sekarang ini. Marilah kita bersama-sama belajar, bahwa manusia di mata Tuhan sama, dan Beliau tidak membeda-bedakan satu sama lain. Kalau Sang Pencipta saja berlaku adil terhadap umatNya, apalah hak kita yang sekedar manusia biasa untuk membeda-bedakan satu sama lain? God Bless You all...