Jumat, 27 Agustus 2010

Kisah Sup Batu

Alkisah ada tiga pengembara, yang dalam perjalanannya singgah di se­buah kota. Warga kota itu tak pernah ber­gem­bira, sebab hidup mereka sa­ngat mementingkan diri sendiri. Mereka me­nger­jakan segala sesuatu sendiri dan un­tuk dirinya sendiri. Selain itu mereka su­ka mencurigai semua orang, termasuk kepa­da tiga pengembara kela­paran yang duduk di tengah alun-alun kota itu.

Tiga pengembara itu mem­buat api la­lu merebus sebuah batu. “Apa yang kau­buat?” tanya seorang anak yang lewat. “Kami membuat sup batu yang sangat enak,” kata si pengembara, “tetapi akan ja­uh lebih enak jika ditambah se­siung kecil bawang,” lanjutnya. Anak itu pun berlari dan mengambilkan bawang. Orang-orang kota itu mulai penasaran. Mereka mengintip dan menengok satu per satu. “Sup ini akan jauh lebih enak jika ditambah wortel dan tomat. Seiris kecil daging juga membuat rasanya jauh lebih baik.” Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mereka membawakan satu per satu bahan yang disebut para pengembara. Alhasil, jadilah sup yang enak dan penduduk kota itupun turut menik­matinya. Untuk pertama kalinya penduduk kota itu meniadakan rasa curiga dan mengalami indahnya hidup berbagi dalam kebersamaan.

Betapa indahnya apabila kita hidup ber­sa­­ma dengan rukun. Tidak hanya tinggal bersama-sama, teta­pi saling menerima dan saling berbagi dalam kasih. Hidup rukun tan­pa prasangka yang menghalangi interaksi dengan sesama.

"Orang yang Selalu Menaruh Curiga Membatasi Dirinya Untuk Bahagia"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar