Selasa, 22 Februari 2011

Maafkan Aku Bila Aku Mengeluh...

Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang gadis cantik berrambut hitam kemilau. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan kuharap aku bisa merasakan keceriaan itu. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Ternyata, dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu. Namun ketika lewat dia tersenyum.

Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku.

Aku berhenti untuk membeli bunga lili. Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona. Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira. Seandainya aku terlambat, tidaklah apa-apa. Ketika aku pergi, dia berkata, "Terima kasih. Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Engkau sudah begitu baik mau berbicara pada saya yang buta ini."

Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.

Lalu, sementara berjalan. Aku melihat seorang anak dengan bola mata biru. Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain. Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Aku berhenti sejenak, tanyaku, "Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, nak?" Dia memandang ke depan tanpa bersuara, lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar.

Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.

Dengan dua kaki untuk membawa aku ke mana aku mau. Dengan dua mata untuk memandang mentari terbenam. Dengan dua telinga untuk mendengar apa yang ingin kudengar.

Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar