Jumat, 17 Desember 2010

True To Yourself...

Semua orang tahu : Anda tidak dapat menjadi segalanya bagi semua orang. Anda tidak dapat melakukan segala hal sekaligus. Anda tidak dapat melakukan segalanya dengan baik secara merata. Anda tidak dapat melakukan semua hal dan menjadi lebih baik dari semua orang. Sisi kemanusiaan Anda sangat nampak jelas sama seperti orang-orang lain.

Jadi : Anda harus menemukan siapa diri Anda, dan jadilah seperti itu. Anda harus memutuskan hal apa yang utama, dan lakukanlah. Anda harus menemukan kekuatan Anda, dan mulai menggunakannya. Anda harus belajar untuk tidak bersaing dengan orang lain, karena tidak seorangpun berada dalam sebuah kontes untuk menjadi seperti Anda.

Lalu : Anda akan belajar menerima keunikan diri Anda. Anda akan belajar menentukan prioritas dan mengambil keputusan. Anda akan belajar untuk hidup dengan keterbatasan Anda. Anda akan belajar menghargai hal-hal yang memang patut dihargai. Dan Anda akan menjadi seorang manusia yang berarti.

Berani untuk percaya : Bahwa Anda adalah seorang pribadi yang indah dan unik. Menyadari bahwa diri Anda adalah bagian dari sejarah yang terjadi hanya sekali. Mengetahui bahwa untuk menjadi diri Anda bukan hanya hak Anda, tapi juga kewajiban Anda. Meyakini bahwa hidup bukanlah sebuah masalah untuk dipecahkan, tapi sebuah anugrah yang patut disyukuri. Dan akhirnya dengan semua ini Anda akan dapat terus bangkit dalam menghadapi hal-hal yang biasanya membuat Anda terpuruk.

“Being happy doesn't mean that everything is perfect. It means that you've decided to look beyond the imperfections.”

Rabu, 01 Desember 2010

Menjaga Lidah...

Lahir dalam keluarga miskin dengan banyak anak, tidaklah mudah. Kurang terurus, nakal, tak dihargai. Di kelas 3 SD, guru saya berkata: “Hei, kamu adiknya Badu ya? Jangan buat ulah seperti kakakmu, ya - sudah goblok, nakal lagi, tahu sendiri nanti!” Ucapan itu seperti kutuk yang menusuk hati. Setahun itu, saya tersiksa. Saya jadi suka bolos, malas belajar, dan akhirnya tidak naik kelas.

Tahun ajaran berikutnya, dengan baju lusuh dan celana bertambal, saya mengulang kelas 3. Malu rasanya. Namun, setelah 2 bulan, guru baru saya berkata, “Kamu bukan anak bodoh, tetapi anak pintar. Ibu akan buktikan.” Kata-kata berkat itu mengiang dan membakar semangat saya untuk belajar. Walau saya harus menunggu malam, agar bisa meminjam buku teman yang telah selesai belajar - sebab saya tak mampu membeli. Menjelang penerimaan rapor, ibu guru memanggil saya. Ia bandingkan rapor saya dengan si juara 1, ternyata nilai saya ada di atasnya. Hanya, karena sudah mengulang, saya tak bisa menjadi juara satu. Namun, kata penguatannya terngiang hingga kini, khususnya saat menghadapi kesulitan hidup.

Biarlah berkat saja yang keluar dari mulut kita. Kata yang terucap tak bisa ditarik kembali, dan ia bisa membangun atau menghancurkan. Jagalah lidah kita dalam bertutur kata...

Marilah Jaga Mulut Kita, Ucapkan Berkat Bukannya Mengutuk

Selasa, 23 November 2010

Mengalah...

Ada sebuah cerita tentang dua kakak beradik yang hidup rukun. Rumah mereka bersebelahan. Sampai memasuki usia lanjut, tak sekali pun mereka berselisih paham. Perbedaan pendapat di antara mereka tentu ada, tetapi tidak membuat mereka bertengkar apalagi saling membenci. Suatu hari si adik berkata, “Saudaraku, kita telah lama hidup berdampingan, dan tidak pernah sekali pun kita bertengkar tentang apa pun. Aku punya ide, bagaimana kalau untuk sekali ini kita bertengkar.”

Kakaknya berpikir sejenak, “Baiklah,” katanya. ”Apa yang akan kita pertengkarkan?” ia bertanya. “Bagaimana kalau sepiring nasi yang sedang kamu makan itu?” usul sang adik. Kakaknya setuju. Si adik lalu merebut piring nasi dari tangan kakaknya sambil berkata ketus, “Nasi ini kepunyaanku, kamu tidak boleh mengambilnya sedikit pun!” Sang kakak memandang si adik. “Baiklah, ambil saja,” katanya. Dan pertengkaran pun selesai.

Pertengkaran besar antar saudara atau antar teman, kerap terjadi karena adanya sikap tidak mau mengalah. Masing-masing ngotot mempertahankan pendapat dan keinginannya. Kita bisa belajar dari kisah sederhana di atas. Pelajaran untuk kita: dalam sebuah pertengkaran, selama bisa mengalah, mengalahlah. Tuhan tidak akan salah memberi berkat-Nya.

MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH

Kamis, 11 November 2010

Till Death Do Us Part...

Serombongan turis Amerika yang berwisata di pedalaman Tiongkok berpapasan dengan arak-arakan meriah. Sebuah arak-arakan pernikahan; pengantin pria sedang menjemput pengantin wanita untuk menuju balai pesta. “Siapa yang wajahnya ditutup cadar tebal itu?” tanya para turis. “Pengantin wanita,” sahut pemandu lagi. “Mengapa wajahnya harus ditutup?” “Di desa ini, orangtua menjodohkan anak-anaknya, dan seorang pengantin dilarang melihat calon pasangannya sampai resmi menikah,” jelas si pemandu.

Seorang turis penasaran: “Di negara saya, di mana setiap orang memilih jodohnya sendiri - bahkan ada yang sudah serumah sebelum menikah - angka perceraian sangat tinggi. Di sini, pasti jauh lebih tinggi ya?” Dengan heran si pemandu menjawab: “Di sini justru hampir tak ada perceraian.” “Apa rahasianya?” tanya turis itu lagi. Si pemandu terdiam lama sebelum menjawab: “Di negara Anda, orang menikah dengan orang yang mereka cintai. Di sini, nenek moyang kami mengajar bahwa kami harus mencintai orang yang kami nikahi”.

Betapa sederhana petuah ini, tetapi masih berguna bagi setiap pasangan pada zaman ini; bahwa pernikahan, sejak penciptaan manusia, berarti penyatuan laki-laki dan perempuan menjadi satu daging. Perceraian hanya akan menimbulkan luka yang menyakitkan bagi keduanya, terlebih bagi anak-anak. Karenanya, lebih baik berjuang untuk bersatu, memperjuangkan keutuhan dan kelanggengan pernikahan.

PERNIKAHAN DIMULAI UNTUK DIPERJUANGKAN
AGAR IA TETAP UTUH HINGGA MAUT MEMISAHKAN

Kamis, 04 November 2010

Bangun Lagi...

Bruce adalah raja negeri Skotlandia pada zaman dulu. Enam kali ia gagal memimpin pasukannya melawan Inggris. Mereka selalu kalah dihajar musuh dan terpaksa melarikan diri ke hutan. Sementara bersembunyi di gubuk kosong - menyesali kegagalannya dan berputus asa, ia melihat laba-laba yang merajut sarang. Enam kali berturut-turut serangga itu berusaha sekuat tenaga mengaitkan salah satu ujung benang ke balok kayu di seberang, tetapi selalu gagal. “Kasihan, seharusnya kau menyerah saja!” bisik hati Bruce. Namun, laba-laba itu mencoba lagi dan berhasil! Ini memberinya inspirasi dan semangat baru. “Aku akan bertempur lagi untuk yang ketujuh kalinya!” teriak Bruce. Ia bangun, mengumpulkan dan melatih lagi sisa-sisa pasukannya; mengatur strategi dan menggempur kembali pertahanan musuh, sampai mereka terusir dari tanah airnya.

Salah satu penyebab orang tawar hati adalah kegagalan berulang kali. Namun, banyak tokoh besar dunia punya sederet pengalaman gagal sebelum berhasil tiba di puncak. Sebut saja Abraham Lincoln dan Albert Einstein. Yang pasti, keberhasilan mereka tak akan terpatri di sejarah jika pada kegagalan terakhir mereka tidak mau bangun lagi. Apakah kegagalan sedang menimpa Anda? Jangan tawar hati atau menyerah; bangkit dan berjuanglah lagi!

TAK JADI MASALAH BERAPA KALI ANDA JATUH - YANG PENTING MASIHKAH ANDA MAU UNTUK BANGUN KEMBALI?

Jumat, 29 Oktober 2010

Akibat Salah Bergaul...

Berbagai penelitian mengungkap bahwa pengaruh teman terhadap pengambilan keputusan dan perilaku seseorang sangat besar. Hasil penelitian Profesor Dadang Hawari, misalnya, menyatakan bahwa 81,3% pengguna narkotika didorong oleh pengaruh teman. Komnas Perlindungan Anak juga mencatat pengaruh teman sebagai salah satu pendorong utama anak-anak terjerumus ke dalam kebiasaan merokok. Di Amerika pernah dilakukan penelitian tentang bagaimana seseorang memutuskan membeli sebuah barang. Hasilnya, pengaruh teman menduduki urutan nomor dua di bawah iklan.

Besarnya pengaruh teman tak dapat disangkal. Kedekatan dan keakraban dengan seseorang dapat membuat kita percaya bahkan memercayakan diri, kepadanya. Kita bisa lebih mendengar dan menghargai pendapatnya daripada orang lain, bahkan keluarga. Tak jarang keputusan kita ikut ditentukan oleh teman.

Siapa teman-teman dekat kita akan turut mengasah pemikiran dan batin kita, bahkan juga membentuk kebiasaan-kebiasaan dan karakter kita. Tidak jarang teman-teman dekat kita itu juga turut memengaruhi keberhasilan dan kegagalan kita, bahagia dan derita kita. Maka, baiklah kita berhati-hati memilih teman-teman dekat.

- Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik -

Selasa, 12 Oktober 2010

Sakit Hati

Orang sulit. Begitulah julukan bagi orang yang mudah tersinggung. Ia sering merasa diejek atau dihina, padahal orang lain tidak bermaksud apa-apa. Ketika kita berbisik-bisik, ia mengira kita membicarakannya. Saat lupa mengucapkan salam atau terlambat membalas SMS, ia pikir kita memusuhinya. Ia bagai kentang berkulit tipis. Sedikit saja tergores, sudah merasa sakit hati.

Apakah kita cepat tersinggung? Sering salah paham? Rasa sakit hati bisa membuat kita bersikap membela diri. Ingin balas melukai, padahal belum tentu orang tersebut bermaksud buruk kepada kita. Orang yang cepat tersinggung akan dijauhi orang! Sakit hati tak perlu dibalas dengan menyakiti hati orang, yang terbaik hanyalah dengan mencurahkan isi hati kepada Tuhan.

Do not give in too much to feelings. A overly sensitive heart is an unhappy possession on this shaky earth.
- Johann Wolfgang von Goethe -

Kamis, 02 September 2010

Terlalu Betah...

Merhan Karimi Nasseri, seorang warga Iran, dicabut kewarganegaraannya ketika menaiki pesawat terbang menuju Paris. Pas­pornyapun diambil. Tanpa bukti kewarga­nega­raan, setibanya di Paris ia tidak diizinkan meninggalkan bandara. Selama sebelas ta­hun ia tinggal di Terminal 1; mandi di toi­let bandara, dan hidup dari bantuan staff bandara. Pada tahun 1999, pemerintah Pran­­­cis akhirnya memberinya izin untuk ting­gal dan bekerja. Sekarang ia bebas pergi ke­mana pun. Anehnya, ia memilih tetap ting­gal di ban­dara - sudah telanjur betah. Se­telah di­bujuk beberapa hari, barulah ia mau pergi.



Sebuah bandara, sebesar dan seba­gus apa pun, bukan rumah. Begitu juga du­nia ini bukan rumah sejati kita. Kita tinggal di dunia hanya sementara. Oleh karena itu jangan sampai kita terlalu lekat dengan daya tarik dan kenikmatannya. Gaya hidup yang masih mementingkan perkara duniawi; mengejar hanya soal ma­kanan, kenikmatan, kemewahan, kehormatan, dan keuntungan. Se­ba­gai warga surga, cara hidup kita seharusnya berbeda - me­ngejar hal yang bernilai kekal, seperti kasih, keadilan dan kebenaran.

Orang yang terlalu lekat pada dunia akan takut meninggalkan dunia ini apabila saatnya tiba. Segala hal yang telah telanjur digeng­gam erat biasanya sangat sulit dilepaskan. Maka, bersyukurlah jika terkadang Tuhan mengizinkan kita mengalami kehilangan, baik benda, kuasa, maupun kekasih tercinta. Semuanya menyadarkan bahwa dunia bukan rumah kita. Semuanya fana dan akan lenyap.

"Saat Hati Terpikat oleh Silaunya Dunia, Surga Tidak Lagi Tampak Mempesona"

Jumat, 27 Agustus 2010

Kisah Sup Batu

Alkisah ada tiga pengembara, yang dalam perjalanannya singgah di se­buah kota. Warga kota itu tak pernah ber­gem­bira, sebab hidup mereka sa­ngat mementingkan diri sendiri. Mereka me­nger­jakan segala sesuatu sendiri dan un­tuk dirinya sendiri. Selain itu mereka su­ka mencurigai semua orang, termasuk kepa­da tiga pengembara kela­paran yang duduk di tengah alun-alun kota itu.

Tiga pengembara itu mem­buat api la­lu merebus sebuah batu. “Apa yang kau­buat?” tanya seorang anak yang lewat. “Kami membuat sup batu yang sangat enak,” kata si pengembara, “tetapi akan ja­uh lebih enak jika ditambah se­siung kecil bawang,” lanjutnya. Anak itu pun berlari dan mengambilkan bawang. Orang-orang kota itu mulai penasaran. Mereka mengintip dan menengok satu per satu. “Sup ini akan jauh lebih enak jika ditambah wortel dan tomat. Seiris kecil daging juga membuat rasanya jauh lebih baik.” Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mereka membawakan satu per satu bahan yang disebut para pengembara. Alhasil, jadilah sup yang enak dan penduduk kota itupun turut menik­matinya. Untuk pertama kalinya penduduk kota itu meniadakan rasa curiga dan mengalami indahnya hidup berbagi dalam kebersamaan.

Betapa indahnya apabila kita hidup ber­sa­­ma dengan rukun. Tidak hanya tinggal bersama-sama, teta­pi saling menerima dan saling berbagi dalam kasih. Hidup rukun tan­pa prasangka yang menghalangi interaksi dengan sesama.

"Orang yang Selalu Menaruh Curiga Membatasi Dirinya Untuk Bahagia"

Selasa, 17 Agustus 2010

Jika Sudah Normal...

Sejak ditinggal mati suaminya, Desi kehilangan semangat hidup. Ia tidak lagi tertarik untuk berolahraga atau merawat tubuh seperti dulu. Ia selalu berpikir, “Nanti jika situasinya sudah kembali normal, aku akan berolahraga lagi.” Tiga tahun berlalu dan Desi merasa situasinya belum berubah. Tiba-tiba ia tersadar, ”Jika aku tidak mulai berusaha melakukan apa yang masih bisa kulakukan, situasi tidak akan kembali menjadi normal!” Ia pun memutuskan untuk kembali beraktivitas, lalu semua menjadi normal lagi.

Situasi yang kita hadapi kerap kali tidaklah ideal. Tidak normal. Investasi yang kita tanam belum tentu langsung membuahkan hasil. Pemberian kita kepada orang lain belum tentu bisa menolongnya keluar dari musibah. Cuaca dan arah angin hari ini mungkin tidak ideal untuk menabur benih. Apa pun yang kita lakukan selalu punya risiko untuk gagal. Namun, jauh lebih baik kita berusaha berbuat sesuatu ketimbang terus menunggu situasi hingga menjadi ideal. Jika kita selalu menanti ”saat yang tepat” untuk bertindak, kita akan menunggu selamanya tanpa hasil apapun! Lebih baik kalah setelah mencoba, daripada menyerah sebelum berusaha.

Apakah Anda merasa beban persoalan membuat hidup Anda menjadi ”tidak normal”? Jangan menunggu semuanya menjadi normal kembali. Bisa jadi Anda tidak akan pernah bisa mengalami hidup seperti dulu. Pengalaman hidup kerap mengubah diri dan lingkungan kita. Jadi, lebih baik lakukan saja apa yang bisa Anda lakukan hari ini. Carilah ”rasa normal” yang baru...

Situasi hidup kita selalu normal saat kita berusaha menjalaninya dengan normal