Minggu, 25 April 2010

Attitude of Gratitude...

Siapapun yang menulis ini, adalah seorang ahli dalam bersikap penuh syukur (attitude of gratitude). Saya sangat ingin memberikan penghargaan kepada si penulis, tapi saya tidak tahu siapa penulisnya. Saya menerima referensi ini via email dan berusaha mencari sumbernya di internet, tapi tidak pernah berhasil untuk menemukan si penulis.

Silahkan baca tulisan ini dan bila Anda merasa bersikap penuh syukur adalah hal yang sulit untuk dipelajari, saya yakin setelah membacanya Anda akan menyadari bahwa hal ini sesungguhnya tidak sesulit yang Anda bayangkan.

Saya Berterima Kasih
Penulis Tidak Diketahui

Saya berterima kasih untuk seorang istri walaupun dia hanya menyajikan hot dog untuk makan malam namun dengan demikian saya tahu bahwa dia berada di rumah bersama saya bukan dengan orang lain.

Untuk seorang suami yang berada di sofa dengan setumpuk keripik kentang karena itu berarti dia berada di rumah bersama saya dan bukan di luar di sebuah bar.

Untuk remaja yang mengeluh ketika mencuci piring, karena dia berada di rumah, bukan berada di jalanan.

Untuk pajak yang saya bayar, karena hal itu berarti saya bukan pengangguran.

Untuk kekacauan yang harus saya bereskan sesudah sebuah pesta, karena itu berarti saya dikelilingi oleh teman-teman.

Untuk pakaian yang terasa agak sempit, karena berarti saya cukup makan.

Untuk bayangan saya yang menemani sepanjang hari, karena hal itu berarti saya masih disinari oleh mentari.

Untuk rumput yang perlu di potong, jendela yang perlu dibersihkan, dan selokan yang perlu dikeruk, karena hal itu berarti saya memiliki sebuah rumah.

Untuk semua keluhan yang saya dengar mengenai pemerintahan, karena itu berarti kita memiliki kebebasan berpendapat.

Untuk tempat parkir yang tersedia di ujung lapangan parkir, karena itu berarti saya masih mampu berjalan dan saya telah diberkati dengan sarana transportasi.

Untuk tagihan listrik yang membengkak akibat AC, karena itu berarti saya merasa sejuk.

Untuk seorang perempuan di gereja yang berada di belakang saya dan menyanyi dengan sumbang, karena itu berarti saya dapat mendengar.

Untuk tumpukan pakaian yang perlu di cuci dan di setrika, karena itu berarti saya tidak kekurangan pakaian untuk dipakai.

Untuk kelelahan dan otot yang sakit di penghujung hari, karena itu berarti saya mampu untuk bekerja keras.

Untuk alarm yang berbunyi dan segera mati di pagi hari, karena itu berarti saya masih hidup.

Yang terakhir, untuk terlalu banyak email, karena itu berarti saya memiliki teman-teman yang peduli dengan saya.

Jumat, 09 April 2010

Survival... True Story...

Joe Simpson dan rekannya sesama pemanjat tebing, Simon Yates, berhasil mencapai puncak sebuah gunung dengan ketinggian puncak 21.000 kaki pegunungan Andes ketika sebuah bencana menerpa mereka. Simpson terjatuh dari sebuah permukaan es vertikal dan mematahkan kakinya. Dalam beberapa jam berikutnya, keadaan menjadi gelap dan badai salju mulai menerpa saat Yates mencoba untuk menurunkan temannya ke tempat yang aman. Dan akhirnya, Yates dengan sangat terpaksa mengambil keputusan untuk memotong tali yang menopang temannya, beberapa saat sebelum mereka berdua terjatuh bersama-sama.

Tiga hari berikutnya adalah hari-hari penuh perjuangan yang hampir tidak masuk akal bagi mereka berdua. Yates yakin bahwa Simpson telah meninggal, kembali ke base camp diliputi perasaan duka dan bersalah karena meninggalkan temannya. Tapi sebuah keajaiban terjadi, Simpson bertahan hidup walaupun terjatuh dari tebing, tapi dalam kondisi pincang, kelaparan, dan kedinginan parah akibat terjebak dalam jurang yang dalam. Dengan berbagai cara dia mengeluarkan seluruh kekuatan fisik dan spiritualnya, dan Simpson merangkak melewati jurang dan ngarai pegunungan Andes, sampai ke base camp beberapa jam sebelum Yates meninggalkan tempat itu.

Bagaimana kedua pria ini mengatasi siksaan dan tekanan pada hari-hari yang mengerikan itu menjadi sebuah legenda kepahlawanan dalam mengatasi rasa takut, penderitaan, kelangsungan hidup dan juga sebuah kesaksian yang pedih mengenai sebuah keberanian dan persahabatan yang tidak tergoyahkan.

Kisah nyata ini sudah didokumentasikan dalam sebuah buku, Touching The Void, dan juga sebuah film. Berikut trailernya :



12 seri wawancara dari Joe Simpson dan Simon Yates yang menceritakan perjuangan mereka dapat juga Anda saksikan di sini :

























Sebuah kisah luar biasa, keadaan yang sungguh tidak mungkin menjadi mungkin, dengan satu modal yang sederhana : Tekad. Sebuah pelajaran bagi kita yang merasa saat ini tidak kuat lagi menghadapi tekanan-tekanan hidup atau apapun masalah kita, selalu ada jalan keluar dan selalu ada kekuatan lebih selama kita mau dan tidak putus asa.

Sebuah pemikiran sederhana dari saya, surviving bukanlah suatu pergumulan dengan kekuatan penuh dan semaksimal mungkin untuk mencari jalan keluar, tetapi lebih tepat kalau saya sebut bagaimana bertahan dengan diri kita, keeping us in one piece, keep a clear head, bukan masalah kekuatan, tetapi masalah daya tahan. Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua...

Minggu, 28 Maret 2010

Menerima Diri Sendiri...

Sebuah kisah pribadi mengenai menerima dan menyangkal
Ketika saya masih muda, saya tidak menyukai senyum saya.
Saya memiliki gigi taring yang besar, dan hasilnya, senyum yang menakutkan.
Saya terus menyangkal senyum saya; Saya tidak mau tersenyum. Saya selalu berusaha untuk menyembunyikannya.
Tapi saya tidak bahagia, jadi saya mengambil kesimpulan bahwa saya harus mengubah keadaan ini.
Anda tahu cara terbaik untuk mengubah keadaan? Justru lakukanlah kebalikannya.
Jadi saya melakukan yang sebaliknya - saya tersenyum setiap saat.
Saya berkata kepada diri saya sendiri bahwa saya memiliki senyum yang paling indah.
Dan Anda tahu apa yang terjadi?
Orang-orang mulai berkata saya memiliki senyum yang indah!
Dan saya mulai merasa senang mengenai hal itu, saya menyukai senyum saya - seketika itu juga saya telah mengubah keadaan.

Apa yang dapat Anda pelajari dari cerita ini?

Hubungan yang Anda miliki dengan dunia ini adalah sebuah refleksi dari hubungan Anda dengan diri Anda sendiri. Coba Anda renungkan sejenak.
Dalam bahasa lain, inilah yang disebut dengan percaya diri. Semua dimulai dari hal-hal yang sederhana. Cara Anda memegang gelas, cara Anda menulis dengan sebuah pena, cara Anda berjalan, dan sebagainya.
Semua ini terjadi secara alamiah jika Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri. Tentu saja, Anda bisa "memalsukannya" sampai Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri, tapi mengapa harus melakukan hal itu?
Bukankah lebih baik menjadi seorang yang percaya diri, dan memiliki segala hal sepele tersebut bekerja untuk diri Anda, bukan sebaliknya justru Anda yang bekerja untuk hal-hal sepele tersebut? Saya rasa ini adalah pendekatan yang lebih baik.

Terimalah segalanya. Terimalah diri Anda sendiri. Silahkan Anda coba sendiri dan beri tahu saya bagaimana hasilnya.

“Love yourself - accept yourself - forgive yourself - and be good to yourself, because without you the rest of us are without a source of many wonderful things.” - Leo F. Buscaglia

Jumat, 12 Maret 2010

Pribadi Yang Di Dalam...

Hari ini saya membaca sebuah kisah menarik dari sebuah buku. Kira-kira begini kisahnya :

Seorang ayah yang sangat lelah baru saja tiba di rumah, dan berharap dapat bersantai sejenak menonton televisi. Tapi kelihatannya hal tersebut tidak mungkin dilakukan, karena saat dia membuka pintu rumahnya sang anak sudah menunggunya di depan pintu dengan wajah "butuh perhatian." Sang anak pun langsung menyibukkan sang ayah dengan permintaannya untuk diperhatikan. Namun kelelahan sang ayah sudah tidak tertahankan lagi, dia butuh waktu untuk bersantai sejenak. Tanpa ingin mengecewakan anaknya, dia memutar otak bagaimana caranya dia dapat menyelesaikan situasi sulit ini.

Sambil melihat surat kabar, dia mendapat sebuah ide untuk menyibukkan anaknya itu. Pandangannya tertuju pada sebuah gambar peta dunia di salah satu halaman surat kabar tersebut. Beliau mengambil gunting, dan menggunting gambar peta tersebut menjadi banyak bagian. Lalu kata sang ayah : "Nak, coba kau gabungkan serpihan-serpihan gambar ini menjadi sebuah peta dunia yang utuh." Sang anak pun mulai sibuk dengan potongan-potongan kertas tadi dan mulai berkonsentrasi penuh. Melihat perhatian anaknya telah terpecah, sang ayah merasa akhirnya saya memiliki waktu setidaknya satu jam untuk bersantai dan menyaksikan acara televisi kesayangannya.

Lima belas menit berlalu, sang ayah sedang asyik menonton televisi, dan si anak pun sibuk dengan potongan-potongan kertas tersebut. Tak lama kemudian sang anak memanggil ayahnya : "Sudah selesai pa. Kita main apalagi sekarang?" Sang ayah pun terkejut, mana mungkin anak sekecil itu tahu letak posisi tiap negara dengan tepat? Bagaimana mungkin secepat itu dia dapat menyusunnya kembali? Dengan rasa penasaran, sang ayah bertanya kepada anaknya : "Bagaimana caramu menyusun gambar itu dengan begitu cepat nak?" Dengan polos anak itu menjawab : "Mudah sekali pa. Di belakang gambar peta itu ada gambar orang. Saya hanya menyusun gambar orang tersebut, ketika selesai saya membalikkan gambarnya dan saya telah menyelesaikan sebuah peta dunia yang utuh."

Sering kali kita tidak bertindak seperti anak itu. Dalam menghadapi kehidupan setiap hari kita disibukkan dengan banyak masalah, berusaha menyusun kepingan-kepingan permasalahan tersebut dalam susunan yang benar. Yang sebenarnya perlu kita lakukan sangat sederhana, kita hanya perlu menyusun "gambar orang" yang ada di dalam diri kita. Mengapa kita sibuk membenahi apa yang di luar, sedangkan sebenarnya inti permasalahan hidup kita ini datang dari kita sendiri? Apakah tidak lebih mudah untuk menyelesaikan "pribadi" yang di dalam, sehingga masalah-masalah yang ada di luar juga secara otomatis akan selesai dengan sendirinya?

It is not easy to find happiness in ourselves, and it is not possible to find it elsewhere.
- Agnes Repplier -

Memang pembenahan pribadi bukanlah suatu hal yang mudah. Saya sendiri merasa sulit untuk membenahi hal-hal yang kurang baik di dalam diri saya. Tapi hanya melalui pembentukan karakter saja saya dapat menghadapi dunia yang semakin lama semakin kejam ini. Dunia ini tidak akan berubah menjadi lebih baik, dan kita tidak dapat melakukan apapun untuk mengubah hal itu. Hanya dengan pribadi yang utuh dan tangguh saya dapat berjalan dengan berani untuk menghadapi hari-hari yang sulit ini...

Jumat, 26 Februari 2010

Kebutuhan Atau Kecanduan???

Hari ini saya menonton sebuah film fiksi berjudul Surrogates. Sebuah gambaran tentang kemajuan teknologi yang mempermudah hidup banyak orang, dan mengurangi banyak resiko dalam hidup ini. Dalam film ini dikisahkan tentang kehidupan manusia di masa depan dengan menggunakan teknologi terbaru memungkinkan untuk manusia dapat mengerjakan banyak hal dari dalam rumahnya.

Sang pengguna hanya perlu berbaring dan mengenakan sensor untuk mengendalikan sebuah boneka yang mirip dengan manusia dan melakukan kegiatannya sehari-hari. Sang boneka pun keluar beraktifitas, menggantikan sang manusia dalam melakukan banyak hal. Saat terjadi kecelakaan, yang mengalami musibah adalah sang boneka, bukan manusianya. Saat dirampok, sang pengguna boneka tersebut pun terhindar dari resiko luka ataupun terbunuh. Segala macam resiko ditanggung oleh boneka tersebut, sedangkan si manusia aman berbaring di dalam rumah. Selengkapnya mengenai kisah film tersebut, silahkan Anda tonton sendiri. Saya tidak mau merusak kesenangan Anda dengan membeberkan seluruh kisah film tersebut di blog ini :p

Kira-kira begitulah nantinya kehidupan manusia di masa mendatang, setidaknya itu yang digambarkan dalam film "Surrogates." Saat teknologi semakin maju, manusia dapat mengurangi resiko bencana  yang akan menimpa dirinya. Tidak hanya di film itu, saat ini hal tersebut juga mulai dapat dirasakan. Kemudahan berkomunikasi, video call, conference call, dan lain-lain banyak memudahkan hidup kita untuk bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain tanpa harus keluar rumah.

Mungkin film tersebut adalah sebuah contoh yang terlalu ekstrim, menggambarkan bagaimana sebuah boneka akan menggantikan seluruh kegiatan dalam hidup kita. Tetapi hal tersebut bukanlah tidak mungkin, melihat bagaimana perkembangan teknologi sekarang yang sedemikian pesat. Memang teknologi adalah hal yang baik, bahkan hal-hal seperti inipun juga bermanfaat, seperti memungkinkan penyandang cacat untuk dapat hidup normal dengan organ buatan yang dapat dikendalikan sepenuhnya, dan bagi para pekerja konstruksi atau pekerjaan apapun yang mengandung resiko tinggi sehingga kehilangan nyawa dapat dihindarkan.

Namun bagi saya apapun yang dilakukan dengan "terlalu" tidak pernah berdampak baik. Saat manusia mulai mengandalkan teknologi dalam menjalani hidupnya, segalanya akan menjadi lebih mudah. Namun saat manusia mulai "terlalu" mengandalkan teknologi dalam hidup, sesuatu yang pada awalnya adalah kebutuhan berubah menjadi kecanduan. Sama seperti kita sekarang ini. Berapa banyak dari kita yang mulai kecanduan, dan merasa tak berdaya saat kita tidak menggunakan teknologi? Berapa banyak dari kita yang mulai panik saat kita lupa dan tidak membawa ponsel? Berapa banyak dari kita yang saat listrik mati mulai merasa gelisah? Berapa banyak dari kita saat komputer kita rusak kita merasa bingung karena tidak dapat bekerja? Saya pun pernah mengalami hal seperti itu, merasa tidak lengkap saat tidak membawa ponsel, merasa haus informasi saat internet saya mati, dan lain sebagainya. Beruntung saya menonton film ini, menyadarkan saya tentang bagaimana manusia dapat merasakan kecanduan terhadap hal yang disebut dengan "teknologi."

Disinilah saya menyadari, bahwa teknologi yang demikian maju memang baik untuk hidup saya, tetapi teknologi tersebut hanyalah alat bantu. Saya sendirilah yang harus menyelesaikan segala sesuatunya saat teknologi tersebut gagal untuk membantu saya. Sebagai manusia saya diciptakan dengan segala macam kemampuan untuk menyelesaikan berbagai macam tugas, dengan ataupun "tanpa" bantuan teknologi. Jangan membuat hal berbalik 180 derajat, sebuah teknologi yang harusnya menjadi budak kita, bukan kita yang menjadi budak teknologi...

Senin, 22 Februari 2010

Kepingan Puzzle

Dia orangnya begitu, saya orangnya begini. Dia pelit, saya royal. Dia baik hati, saya tidak baik hati. Dia supel, saya sulit bergaul, Dia hemat, saya boros. Dia mandiri, saya bergantung pada orang. Dia tegas, saya plin plan. Dia jenaka, saya serius. Dia pandai melihat peluang, saya sering melewatkan peluang. Dia pendiam, saya bawel. Dan lain sebagainya. Tapi mengapa saya masih bergaul dengannya? Dan mungkin dia pun bertanya mengapa dia bergaul dengan saya? Begitu banyak ketidak cocokan dalam sifat dan karakter kami masing-masing.

Mungkin pertanyaan seperti itu sering terbersit di pikiran kita. Sering kali kita bersosialisasi dengan orang yang jauh berbeda dengan kita. Sifat yang bertolak belakang, namun "get along" baik-baik saja, bahkan sampai bertahun-tahun lamanya. Mungkin bukan hanya sekedar kenal, tapi teman, bahkan menjadi sahabat terlebih lagi menjadi pasangan hidup tempat berbagi suka dan duka.

Suatu pertanyaan besar yang sempat mengisi hati saya mengenai hal ini, mengapa orang dengan berbagai sifat yang tidak cocok bisa menjadi sahabat, bahkan tidak jarang menjadi pasangan hidup. Dan mereka bahagia dengan hal itu. Begitu banyak ketidak cocokan, tetapi mereka tetap bertahan menjadi orang-orang yang dekat di hati. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sepanjang hidup mereka. Sampai saya tiba di sebuah pemikiran yang membuka mata hati saya.

Bayangkan ini. Seperti apa dunia ini saat Anda keluar dari rumah, dan melihat semua orang seperti Anda. Tabiat, perilaku, karakter, sifat, bahkan sampai ke penampilan fisik yang identik dengan Anda. Mungkin pada awalnya Anda akan merasa nyaman, karena Anda berpikir mereka tentu mengerti Anda sebab mereka sama dengan Anda. Tapi apakah tidak membosankan, setiap hari bertemu sosok yang identik dengan diri Anda sendiri, tanpa mengetahui begitu banyak karakter-karakter lain yang dapat di eksplorasi?

Inilah realita kehidupan di dunia ini. Saat Anda merasa sedih dan terluka, seseorang dengan karakter yang riang dan ceria akan mampu mengobati rasa pedih di hati Anda. Saat Anda berperilaku boros dalam keuangan Anda memiliki seseorang yang mengingatkan untuk berhemat. Saat Anda terdiam dan merasa hening dan hampa selalu ada seseorang yang begitu gemar berbicara berbagi hal-hal menarik untuk dipikirkan dan direnungkan. Saat Anda hampir melewatkan peluang besar dalam hidup, selalu ada orang yang mengingatkan dan mendorong Anda untuk mengambil langkah ekstrim untuk mengambil peluang tersebut. Saat Anda merasa pesimis akan selalu ada orang yang memberikan rasa nyaman dan optimisme di hati Anda untuk bangkit kembali menghadapi masalah Anda. Dan lain sebagainya.

Kita semua diciptakan berbeda. Bahkan sepasang anak kembar yang identik pun memiliki karakter yang berbeda. Tidak ada manusia yang sama persis satu pun di dunia ini. Semua memiliki ciri dan karakternya masing-masing, diciptakan sesuai dengan perannya masing-masing di dunia ini.

Bagaikan susunan puzzle yang berbeda setiap kepingnya, masing-masing keping memiliki peranannya sendiri untuk melengkapi rangkaian puzzle tersebut menjadi suatu karya yang indah. Anda dan saya adalah sebuah kepingan puzzle yang memiliki tugas untuk menjadi bagian dari mahakarya yang indah dalam hidup ini. Perbedaan individu bukanlah suatu kekurangan, melainkan suatu bentuk rangkaian kehidupan antar manusia yang unik, yang terkait satu sama lain. Yang jadi pertanyaan, apakah kita mau menempatkan diri kita sebagai kepingan puzzle di tempat dimana seharusnya kita berada, dan terkait satu sama lainnya dengan puzzle-puzzle lainnya yang berbeda dengan kita?

Perbedaan akan selalu ada dalam hiidup ini, dan kehadiran kita bukanlah tanpa arti. You can make a difference. Apalah artinya sebuah puzzle yang sempurna, namun memiliki sebuah lubang kecil karena kita tidak mau ikut berperan sebagai kepingan puzzle yang melengkapi rangkaian puzzle-puzzle tersebut.

Sampai detik ini pun saya masih belajar, belajar untuk menerima orang dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Menjadi pribadi yang semakin hari semakin bijak, menjadi pribadi yang lebih dapat bertoleransi dengan segala keadaan di lingkungan yang ada. Marilah kita belajar untuk memahami peranan kita, sebesar apapun perbedaan yang ada di sekitar kita...

Pahamilah bahwa kita pribadi yang unik, dan kita adalah spesial. Sebab tanpa kita, dunia ini tidak akan lengkap. Be yourself, and try to accept people as they are, because we are connected one another. GBU all...

Minggu, 14 Februari 2010

Cinta Tak Bersyarat....

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang prajurit yang akhirnya pulang setelah selesai bertugas di Vietnam. Sang prajurit menelpon kedua orang tuanya dari San Fransisco. "Ayah dan Ibu, saya akan segera pulang, tapi saya punya sebuah permintaan. Saya mau mengajak seorang teman bersama-sama dengan saya." "Tentu saja boleh," jawab mereka, "Kami sangat senang untuk bertemu dengannya." "Tapi sebelumnya ada suatu hal yang perlu kalian ketahui," lanjut sang anak, "Dia kehilangan sebuah tangan dan sebuah kakinya. Dia tidak memiliki tempat untuk pergi dan saya ingin dia untuk tinggal bersama-sama dengan kita." "Kami sangat menyesal mendengar hal itu, nak. Mungkin kita dapat membantunya untuk menemukan tempat di mana dia dapat tinggal." "Tidak, Ayah dan Ibu. Saya mau dia tinggal bersama-sama dengan kita." "Anakku," kata sang ayah, "Kau tidak tahu apa yang kau minta. Seseorang dengan kondisi cacad seperti itu akan menjadi beban yang sangat berat bagi kita semua. Kita memiliki kehidupan kita masing-masing, dan kita tidak dapat hal-hal seperti ini mengganggu kehidupan kita. Menurut kami kau sebaiknya pulang dan lupakan mengenai orang ini. Dia akan menemukan jalan untuk hidup mandiri."

Seketika itu juga, sang anak memutuskan telepon. Kedua orang tua itu tidak pernah mendengar lagi kabar tentang anaknya. Namun beberapa hari kemudian, mereka menerima telepon dari kepolisian San Fransisco. Mereka mendapat kabar bahwa anak mereka telah meninggal setelah terjatuh dari atap sebuah gedung. Pihak kepolisian meyakini bahwa kejadian ini adalah bunuh diri. Kedua orang tua yang berduka itu terbang ke San Fransisco dan diantar ke kamar mayat untuk mengidentifikasi tubuh sang anak. Mereka mengenalinya, tetapi hal yang lebih mengejutkan bagi mereka adalah ketika mereka mengetahui suatu hal yang tidak pernah mereka tahu. Anak mereka hanya memiliki satu kaki dan satu tangan.

Orang tua dari anak di dalam kisah ini mirip dengan banyak dari kita. Kita merasa mudah untuk mencintai dan menyukai orang yang tampan/cantik atau menyenangkan, tetapi kita tidak menyukai pribadi yang membuat kita tidak nyaman atau membuat kita tidak merasa senang. Kita memilih untuk menjauh dari orang-orang yang tidak sesehat, secantik/setampan, atau sepandai kita. Namun untungnya masih ada orang-orang yang tidak memperlakukan kita seperti itu. Seseorang yang mencintai kita dengan cinta tak bersyarat yang selalu menyambut kita ke dalam keluarga mereka, tidak peduli seberapa kacau balaunya diri kita.

Sebuah video mengenai cinta tak bersyarat, "People Helping People." Semoga video ini dapat membuka mata hati kita semua untuk mengetahui bahwa masih ada banyak pribadi di luar sana yang membutuhkan bantuan.



Di hari kasih sayang ini, marilah kita belajar untuk mengasihi sesama kita bukan karena kelebihannya, tapi karena mereka juga manusia seperti kita, insan-insan yang butuh kasih sayang. Kalau hanya orang-orang sempurna yang layak mendapatkan cinta, alangkah malangnya orang-orang yang cacad atau memiliki kekurangan. Mereka juga manusia, sama seperti kita. Mari berbagi cinta tidak hanya bagi mereka yang elok dipandang mata, tetapi juga bagi mereka yang memiliki kekurangan, karena mereka juga butuh untuk dicintai dan diterima...

Seperti Apa Harimu?

Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini, sangat bersemangat untuk melakukan banyak hal sebelum lonceng jam 12 malam berdentang. Tugas saya adalah untuk memilih hari seperti apa yang akan saya jalani hari ini.

Hari ini saya dapat mengeluh karena hujan yang menyebalkan atau saya dapat bersyukur karena rumput-rumput mendapat air secara gratis.

Hari ini saya dapat merasa sedih karena saya tidak memiliki uang atau justru saya dapat merasa senang bahwa kondisi keuangan saya mendorong saya untuk merencanakan pembelanjaan saya secara bijak dan menuntun saya untuk tidak melakukan pemborosan.

Hari ini saya dapat menggerutu mengenai kondisi kesehatan saya atau saya dapat bersukacita karena saya masih diberi kesempatan untuk hidup.

Hari ini saya dapat meratapi atas hal-hal yang tidak diberikan oleh orang tua saya ketika saya tumbuh dewasa atau saya dapat merasa bersyukur karena mereka memberikan saya kesempatan untuk dilahirkan.

Hari ini saya dapat menangis karena mawar-mawar memiliki duri atau saya dapat bergembira karena duri-duri itu memiliki mawar.

Hari ini saya dapat berduka karena kehilangan teman atau saya dapat merasa bersemangat untuk memulai suatu petualangan baru dalam menjalin hubungan pertemanan dengan lebih banyak orang lagi.

Hari ini saya dapat mengeluh karena saya harus pergi bekerja atau saya dapat berteriak kegirangan karena saya memiliki pekerjaan.

Hari ini saya dapat mengeluh karena saya harus pergi ke sekolah atau justru merasa bersemangat untuk membuka pikiran saya dan mengisinya dengan pengetahuan dan petualangan baru.

Hari ini saya dapat merasa jengkel karena saya harus membereskan rumah atau saya dapat merasa bersyukur karena memiliki tempat bernaung untuk pikiran, tubuh dan jiwa saya.

Hari ini membentang di hadapan saya, menunggu untuk dibentuk, dan inilah saya, sang pemahat yang bertugas untuk membentuknya.

Bagaimana hari ini akan berjalan adalah tergantung saya sendiri. Dan saya yang memutuskan hari seperti apa yang akan saya jalani.

Bagaimana Anda akan menjalani HARI INI?

Kamis, 28 Januari 2010

Kebahagiaan Adalah Sebuah Keputusan

Ada sebuah kisah mengenai seorang penjudi yang terjerat hutang sedemikian besar sehingga satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalahnya adalah dengan menikahi anak dari boss mafia yang buruk rupa. Sayangnya, sang penjudi telah menikah. Atas nama persahabatan sejati, seorang teman sang penjudi setuju untuk menikahi anak perempuan yang buruk itu agar dapat membantu sahabatnya. Pada malam pengantin mereka, ketika teman sang penjudi keluar dari kamar mandi untuk menemui istri barunya yang jelek itu, dia tidak menemuinya di sana. Sang wanita buruk itu telah berubah menjadi wanita cantik.

Tanpa sepengetahuan siapapun sebelumnya, sang istri menjelaskan bagaimana sebuah mantra telah diberikan kepadanya. Dia dikutuk untuk menjadi cantik selama dua belas jam dan buruk selama dua belas jam. Sekarang dia memberikan kesempatan kepada suami barunya untuk memilih dua belas jam mana yang akan dilalui dengan tampil cantik - sepanjang siang hari saat dia berada di tempat umum, atau pada malam hari saat mereka berdua.

Jawaban suaminya? "Lakukan apa yang membuatmu bahagia." Coba tebak, respon sang suami tersebut membebaskan perempuan itu dari mantra tersebut dan dia bisa tampil cantik selama dua puluh empat jam penuh dalam sehari.

Sebuah cerita yang bagus bukan? Jika saja kita mengetahui mengenai hal ini dari awal. Tidak perlu berusaha untuk menyenangkan masyarakat, keluarga, teman. Tidak ada perasaan sengsara akibat apa yang diharapkan orang lain dari kita. Lakukanlah hal-hal yang membuat Anda bahagia. Hal ini penting supaya dapat tetap sehat, untuk terus melakukan apa yang membuat kita bahagia. Daripada terjebak dalam situasi untuk membuat orang lain bahagia, kita perlu untuk mengijinkan diri kita sendiri untuk melakukan apa yang membuat kita bahagia.

Untuk sebagian orang, hal ini berarti tinggal di rumah dan membesarkan anak. Untuk sebagian lainnya, hal ini berarti memiliki karir. Beberapa akan memilih pernikahan dengan segala hal di dalamnya yang akan merubah kehidupan seseorang secara drastis; yang lainnya memilih untuk tetap sendiri. Hidup tidak dimaksudkan untuk menjadikan kita individu yang penurut. Hidup kita bukanlah suatu keharusan sebagai suatu hasil dari apa yang orang lain paksakan terhadap kita.

Hidup dimaksudkan untuk bahagia. Hidup dimaksudkan untuk dijalani sepenuh-penuhnya.

Lakukan apa yang membuat ANDA bahagia.

Dikutip dari sebuah artikel oleh Bernie Siegel, MD.

Apakah Anda bahagia? Apakah Anda telah sungguh-sungguh membuat suatu keputusan untuk menjadi bahagia dalam hidup Anda?

Apakah Anda gembira dalam menjalani hidup Anda setiap hari? Apakah Anda bahagia menjalani hidup Anda hari ini, saat ini juga?

Jika tidak, mengapa demikian?

Alangkah indahnya untuk bangun di pagi hari dengan penuh rasa syukur atas kesempatan untuk menjalani hidup yang luar biasa hari ini, dan kemudian keluar untuk menjalaninya.

Anda bisa memiliki dan mengalami itu semua, dan Anda dapat mulai memilikinya sekarang juga, mulai hari ini.

Saya menghabiskan bertahun-tahun masa hidup dewasa saya (belum lagi masa kanak-kanak pertumbuhan saya selama beberapa tahun) dengan mempercayai bahwa saya harus menjalani hidup sesuai dengan aturan seseorang. Saya terkunci dalam sebuah rumus dan pedoman yang memberi tuntutan kepada saya oleh lingkungan (orang tua, sekolah, pemerintah, gereja, dan lain sebagainya.) dimana saya dibesarkan.

Kira-kira intinya seperti ini : dapatkan pendidikan yang baik, dapatkan pekerjaan yang baik, bekerja keras dan tekun, berhemat dan simpan uangmu, tunda melakukan hal-hal yang kamu sukai, hindari mengambil resiko, dan jika kamu beruntung maka kamu akan menikmati hidup di usia senja.

Apakah ini samar- samar terdengar familiar?

Dalam kasus khusus saya, hal-hal ini berjalan dengan baik dan masuk akal. Saya pernah memiliki pendidikan yang baik, sebuah pekerjaan yang baik, mendapat gaji yang lumayan dan pernah mencapai sebuah tingkat kesuksesan dalam hidup saya. Atau setidaknya itu yang terlihat di luar.

Tetapi di dalam batin saya merasa sengsara. Saya terjebak dalam pergumulan untuk hidup dari hari ke hari - secara harafiah memilih untuk menjadikannya sebuah pergumulan tanpa pernah menyadari bahwa itulah yang sedang saya lakukan. Saya berjalan dalam tidur dengan kebosanan dari hari ke hari. Saat itu saya tahu bahwa saya tidak menjalani kehidupan yang saya impikan, kehidupan yang saya cintai.

Sampai suatu hari saya secara sederhana memutuskan bahwa ini adalah waktunya untuk berhenti. Saya memilih untuk bangun.

Akhirnya datang suatu hari ketika saya secara sederhana tidak dapat menanggungnya lagi dan saya membuat sebuah keputusan bahwa ini adalah waktunya untuk berhenti. Saya membuat keputusan untuk mengubah cara saya menjalani hidup dan melompat turun dari treadmill. Saya telah membuat keputusan untuk mengubah hidup saya. Saya telah mengambil keputusan untuk menjalani hidup sesuai dengan definisi saya.

Dampaknya sangat luar biasa. Ratusan kilo beban terangkat dari pundak saya. Saya merasa lega. Saya merasa hidup. Saya merasa terinspirasi. Saya mulai sungguh-sungguh menikmati hidup saya.

Dan sekarang saya menyarankan bahwa Anda dapat memulai hidup sebagaimana yang Anda inginkan - sebuah kehidupan yang Anda cintai - sekarang juga mulai hari ini.

Semua yang dibutuhkan hanyalah untuk Anda membuat keputusan tersebut.

Ya, saya tahu ini kedengarannya sederhana. Namun ini benar, dan di dalam hati Anda juga tahu bahwa ini benar.

Dengan sungguh-sungguh mengambil keputusan tersebut - sebuah keputusan tunggal, sebuah keputusan batiniah - segalanya berubah. Segalanya berubah karena cara pandang Anda berubah.

Bagi saya, keputusan saya mengarahkan saya kepada beberapa tindakan yang sangat eksplisit. Saya berhenti dari pekerjaan saya dan memutuskan untuk membangun usaha saya sendiri dan melakukan hal-hal yang saya sukai, dari rumah. Sejujurnya saya tidak punya bayangan bagaimana semua ini dapat berjalan dan bagaimana saya dapat mencukupi diri saya sendiri, hanya sebuah rasa percaya bahwa hal ini dapat terjadi. Bila melihat kembali ke belakang, Saya yakin sekali hal ini dapat terjadi.

Hal-hal baru dalam hidup saya telah berjalan secara indah. Langit tidaklah runtuh. Dunia tidak kiamat. Begitu banyak perubahan yang terjadi. Saya tidak lagi bergaul dengan orang yang dulu biasa ada di lingkungan kerja saya. Kegiatan saya lebih berfokus pada keluarga dan teman dibandingkan pekerjaan saya. Saya menjalani hidup yang jauh dari tekanan. Saya lebih bergembira. Saya bahagia setiap hari.

Bagaimana dengan Anda? Hal apa yang Anda cintai? Apa yang ingin Anda lakukan dalam hidup? Dapatkah Anda merasakan hal-hal ini memanggil batin Anda?

Jika Anda dapat merasakannya, mulailah mendengarkan dan mengikutinya. Ada satu hal yang tidak dapat dipungkiri kebenarannya : tidak perlu bergumul dalam hidup Anda. Sesuatu menjadi nyata saat Anda mempercayainya. Ini adalah hukum dasar dari alam semesta, hukum daya tarik.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melepaskan pendapat bahwa Anda tidak berbeda dengan orang lain, atau pendapat bahwa Anda tidak diijinkan untuk menjalani hidup yang Anda inginkan. Lepaskan asumsi yang membuat Anda merasa anda tidak pantas mendapatkan keistimewaan ini. Berhenti me-marginal-kan diri Anda.

Anda berhak untuk bahagia dan menikmati hidup Anda. Ini adalah intisari dalam hidup - untuk mengalami kebahagiaan di dalamnya.

Memang, terkadang ide untuk mengikuti kebahagiaan dapat menjadi sangat menakutkan. Dan rasa takut itu mengarah kepada segala jenis emosi yang liar, namun itu adalah salah satu bagian dalam menjadi manusia. Satu hal yang perlu diingat, ketakutan ada di dalam pikiran Anda. Ini adalah apa yang Anda bayangkan mungkin terjadi. Emosi-emosi liar yang Anda rasakan sebagai ekspresi dari rasa takut Anda tidak mengubah diri Anda.

Dalam bukunya Conversations With God, Neale Donald Walsh mengatakan bahwa manusia memiliki tiga alat penciptaan. Mereka adalah pikiran, kata-kata, dan perbuatan. Adalah pikiran perkataan dan perbuatan Anda yang mendefinisikan diri Anda - karena mereka keseluruhan adalah cerminan diri Anda seutuhnya.

Sekarang muncul suatu pertanyaan baru, Anda ingin jadi siapa?

Carilah kebenaran di dalam diri Anda mengenai siapa yang Anda ingin jadi dan mulailah menjadi orang tersebut sekarang, hari ini juga. Hidupkan kembali gairah dan nikmati hidup Anda. Hal ini jauh lebih mudah dari yang Anda bayangkan. Anda akan terkejut bagaimana mudahnya untuk membuka hal-hal yang disebut "bagaimana", cukup dengan membiarkan insiprasi yang menuntun Anda.

Inspirasi tidak akan pernah menyesatkan Anda. Dengan berfokus pada apa dan siapa yang Anda inginkan, Anda akan terinsipirasi untuk memikirkan pikiran-pikiran baru, berkata-kata dengan kata-kata baru dan melakukan tindakan baru yang menjadikan semua itu menjadi suatu kenyataan. Demikianlah setiap hari Anda semakin mencintai kehidupan yang Anda jalani.

Ini adalah hal yang luar biasa. Ini adalah kebebasan.

Jadi sekarang adalah waktu Anda untuk mulai menjalani langkah dalam menjalani kehidupan yang Anda cintai. Mulailah merintis kehidupan yang Anda inginkan sekarang.

Mulailah dengan membuat sebuah keputusan untuk bahagia dengan hidup Anda sekarang. Mulailah hari ini...

Senin, 25 Januari 2010

Sempurna...

Seorang teman saya dinasihati agar belajar untuk bersikap dewasa. Apa yang ia lakukan? Jika ditanyai berapa umurnya, ia menyebutkan angka yang membuat dirinya dua-tiga tahun lebih tua. Ia juga suka berlagak menasihati teman-teman lain yang sebaya atau malah sebenarnya lebih tua darinya. Pengertian yang keliru menghasilkan tindakan yang keliru. Demikian pula kita yang mungkin juga bingung ketika diperintahkan untuk menjadi semakin hari semakin sempurna. Apakah itu berarti kita harus kebal terhadap kesalahan dan kegagalan?

Sempurna, atau bahasa Yunaninya teleios, berarti dewasa, matang, sudah mencapai tujuan, lengkap, utuh. Kathleen Norris dalam buku Amazing Grace menguraikan arti kesempurnaan secara menarik. Ia menulis, “Kesempurnaan, dalam pengertian kristiani, berarti menjadi cukup dewasa, sehingga kita mampu memberikan diri kita kepada orang lain. Apa pun yang kita miliki, tidak peduli betapa pun kecil tampaknya hal itu, adalah sesuatu yang dapat kita bagikan dengan mereka yang lebih miskin. Kesempurnaan semacam ini menuntut kita untuk menjadi diri kita sepenuhnya sebagaimana ditetapkan oleh Allah : dewasa, matang, utuh, siap menanggung apa saja yang menimpa hidup kita.”

Untuk menjadi sempurna, kita tidak perlu bertingkah aneh seperti teman saya tadi. Tuhan telah meneladankan kesempurnaan dengan memberkati orang yang baik dan juga orang yang jahat. Kita pun dapat menjadi sempurna dengan belajar mengasihi tanpa pandang bulu dan bersikap lebih sabar terhadap orang lain. Kesempurnaan bukanlah keadaan yang tanpa cacat cela, melainkan sikap hati yang rela berbagi dengan siapa saja.

“Live life fully while you're here. Experience everything. Take care of yourself and your friends. Have fun, be crazy, be weird. Go out and screw up! You're going to anyway, so you might as well enjoy the process. Take the opportunity to learn from your mistakes: find the cause of your problem and eliminate it. Don't try to be perfect; just be an excellent example of being human.”
- Anthony Robbins -