Ada sebuah cerita tentang dua kakak beradik yang hidup rukun. Rumah mereka bersebelahan. Sampai memasuki usia lanjut, tak sekali pun mereka berselisih paham. Perbedaan pendapat di antara mereka tentu ada, tetapi tidak membuat mereka bertengkar apalagi saling membenci. Suatu hari si adik berkata, “Saudaraku, kita telah lama hidup berdampingan, dan tidak pernah sekali pun kita bertengkar tentang apa pun. Aku punya ide, bagaimana kalau untuk sekali ini kita bertengkar.”
Kakaknya berpikir sejenak, “Baiklah,” katanya. ”Apa yang akan kita pertengkarkan?” ia bertanya. “Bagaimana kalau sepiring nasi yang sedang kamu makan itu?” usul sang adik. Kakaknya setuju. Si adik lalu merebut piring nasi dari tangan kakaknya sambil berkata ketus, “Nasi ini kepunyaanku, kamu tidak boleh mengambilnya sedikit pun!” Sang kakak memandang si adik. “Baiklah, ambil saja,” katanya. Dan pertengkaran pun selesai.
Pertengkaran besar antar saudara atau antar teman, kerap terjadi karena adanya sikap tidak mau mengalah. Masing-masing ngotot mempertahankan pendapat dan keinginannya. Kita bisa belajar dari kisah sederhana di atas. Pelajaran untuk kita: dalam sebuah pertengkaran, selama bisa mengalah, mengalahlah. Tuhan tidak akan salah memberi berkat-Nya.
Serombongan turis Amerika yang berwisata di pedalaman Tiongkok berpapasan dengan arak-arakan meriah. Sebuah arak-arakan pernikahan; pengantin pria sedang menjemput pengantin wanita untuk menuju balai pesta. “Siapa yang wajahnya ditutup cadar tebal itu?” tanya para turis. “Pengantin wanita,” sahut pemandu lagi. “Mengapa wajahnya harus ditutup?” “Di desa ini, orangtua menjodohkan anak-anaknya, dan seorang pengantin dilarang melihat calon pasangannya sampai resmi menikah,” jelas si pemandu.
Seorang turis penasaran: “Di negara saya, di mana setiap orang memilih jodohnya sendiri - bahkan ada yang sudah serumah sebelum menikah - angka perceraian sangat tinggi. Di sini, pasti jauh lebih tinggi ya?” Dengan heran si pemandu menjawab: “Di sini justru hampir tak ada perceraian.” “Apa rahasianya?” tanya turis itu lagi. Si pemandu terdiam lama sebelum menjawab: “Di negara Anda, orang menikah dengan orang yang mereka cintai. Di sini, nenek moyang kami mengajar bahwa kami harus mencintai orang yang kami nikahi”.
Betapa sederhana petuah ini, tetapi masih berguna bagi setiap pasangan pada zaman ini; bahwa pernikahan, sejak penciptaan manusia, berarti penyatuan laki-laki dan perempuan menjadi satu daging. Perceraian hanya akan menimbulkan luka yang menyakitkan bagi keduanya, terlebih bagi anak-anak. Karenanya, lebih baik berjuang untuk bersatu, memperjuangkan keutuhan dan kelanggengan pernikahan.
Bruce adalah raja negeri Skotlandia pada zaman dulu. Enam kali ia gagal memimpin pasukannya melawan Inggris. Mereka selalu kalah dihajar musuh dan terpaksa melarikan diri ke hutan. Sementara bersembunyi di gubuk kosong - menyesali kegagalannya dan berputus asa, ia melihat laba-laba yang merajut sarang. Enam kali berturut-turut serangga itu berusaha sekuat tenaga mengaitkan salah satu ujung benang ke balok kayu di seberang, tetapi selalu gagal. “Kasihan, seharusnya kau menyerah saja!” bisik hati Bruce. Namun, laba-laba itu mencoba lagi dan berhasil! Ini memberinya inspirasi dan semangat baru. “Aku akan bertempur lagi untuk yang ketujuh kalinya!” teriak Bruce. Ia bangun, mengumpulkan dan melatih lagi sisa-sisa pasukannya; mengatur strategi dan menggempur kembali pertahanan musuh, sampai mereka terusir dari tanah airnya.
Salah satu penyebab orang tawar hati adalah kegagalan berulang kali. Namun, banyak tokoh besar dunia punya sederet pengalaman gagal sebelum berhasil tiba di puncak. Sebut saja Abraham Lincoln dan Albert Einstein. Yang pasti, keberhasilan mereka tak akan terpatri di sejarah jika pada kegagalan terakhir mereka tidak mau bangun lagi. Apakah kegagalan sedang menimpa Anda? Jangan tawar hati atau menyerah; bangkit dan berjuanglah lagi!
TAK JADI MASALAH BERAPA KALI ANDA JATUH - YANG PENTING MASIHKAH ANDA MAU UNTUK BANGUN KEMBALI?
Berbagai penelitian mengungkap bahwa pengaruh teman terhadap pengambilan keputusan dan perilaku seseorang sangat besar. Hasil penelitian Profesor Dadang Hawari, misalnya, menyatakan bahwa 81,3% pengguna narkotika didorong oleh pengaruh teman. Komnas Perlindungan Anak juga mencatat pengaruh teman sebagai salah satu pendorong utama anak-anak terjerumus ke dalam kebiasaan merokok. Di Amerika pernah dilakukan penelitian tentang bagaimana seseorang memutuskan membeli sebuah barang. Hasilnya, pengaruh teman menduduki urutan nomor dua di bawah iklan.
Besarnya pengaruh teman tak dapat disangkal. Kedekatan dan keakraban dengan seseorang dapat membuat kita percaya bahkan memercayakan diri, kepadanya. Kita bisa lebih mendengar dan menghargai pendapatnya daripada orang lain, bahkan keluarga. Tak jarang keputusan kita ikut ditentukan oleh teman.
Siapa teman-teman dekat kita akan turut mengasah pemikiran dan batin kita, bahkan juga membentuk kebiasaan-kebiasaan dan karakter kita. Tidak jarang teman-teman dekat kita itu juga turut memengaruhi keberhasilan dan kegagalan kita, bahagia dan derita kita. Maka, baiklah kita berhati-hati memilih teman-teman dekat.
- Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik -
Orang sulit. Begitulah julukan bagi orang yang mudah tersinggung. Ia sering merasa diejek atau dihina, padahal orang lain tidak bermaksud apa-apa. Ketika kita berbisik-bisik, ia mengira kita membicarakannya. Saat lupa mengucapkan salam atau terlambat membalas SMS, ia pikir kita memusuhinya. Ia bagai kentang berkulit tipis. Sedikit saja tergores, sudah merasa sakit hati.
Apakah kita cepat tersinggung? Sering salah paham? Rasa sakit hati bisa membuat kita bersikap membela diri. Ingin balas melukai, padahal belum tentu orang tersebut bermaksud buruk kepada kita. Orang yang cepat tersinggung akan dijauhi orang! Sakit hati tak perlu dibalas dengan menyakiti hati orang, yang terbaik hanyalah dengan mencurahkan isi hati kepada Tuhan.
Do not give in too much to feelings. A overly sensitive heart is an unhappy possession on this shaky earth.
Merhan Karimi Nasseri, seorang warga Iran, dicabut kewarganegaraannya ketika menaiki pesawat terbang menuju Paris. Paspornyapun diambil. Tanpa bukti kewarganegaraan, setibanya di Paris ia tidak diizinkan meninggalkan bandara. Selama sebelas tahun ia tinggal di Terminal 1; mandi di toilet bandara, dan hidup dari bantuan staff bandara. Pada tahun 1999, pemerintah Prancis akhirnya memberinya izin untuk tinggal dan bekerja. Sekarang ia bebas pergi kemana pun. Anehnya, ia memilih tetap tinggal di bandara - sudah telanjur betah. Setelah dibujuk beberapa hari, barulah ia mau pergi.
Sebuah bandara, sebesar dan sebagus apa pun, bukan rumah. Begitu juga dunia ini bukan rumah sejati kita. Kita tinggal di dunia hanya sementara. Oleh karena itu jangan sampai kita terlalu lekat dengan daya tarik dan kenikmatannya. Gaya hidup yang masih mementingkan perkara duniawi; mengejar hanya soal makanan, kenikmatan, kemewahan, kehormatan, dan keuntungan. Sebagai warga surga, cara hidup kita seharusnya berbeda - mengejar hal yang bernilai kekal, seperti kasih, keadilan dan kebenaran.
Orang yang terlalu lekat pada dunia akan takut meninggalkan dunia ini apabila saatnya tiba. Segala hal yang telah telanjur digenggam erat biasanya sangat sulit dilepaskan. Maka, bersyukurlah jika terkadang Tuhan mengizinkan kita mengalami kehilangan, baik benda, kuasa, maupun kekasih tercinta. Semuanya menyadarkan bahwa dunia bukan rumah kita. Semuanya fana dan akan lenyap.
"Saat Hati Terpikat oleh Silaunya Dunia, Surga Tidak Lagi Tampak Mempesona"
Alkisah ada tiga pengembara, yang dalam perjalanannya singgah di sebuah kota. Warga kota itu tak pernah bergembira, sebab hidup mereka sangat mementingkan diri sendiri. Mereka mengerjakan segala sesuatu sendiri dan untuk dirinya sendiri. Selain itu mereka suka mencurigai semua orang, termasuk kepada tiga pengembara kelaparan yang duduk di tengah alun-alun kota itu.
Tiga pengembara itu membuat api lalu merebus sebuah batu. “Apa yang kaubuat?” tanya seorang anak yang lewat. “Kami membuat sup batu yang sangat enak,” kata si pengembara, “tetapi akan jauh lebih enak jika ditambah sesiung kecil bawang,” lanjutnya. Anak itu pun berlari dan mengambilkan bawang. Orang-orang kota itu mulai penasaran. Mereka mengintip dan menengok satu per satu. “Sup ini akan jauh lebih enak jika ditambah wortel dan tomat. Seiris kecil daging juga membuat rasanya jauh lebih baik.” Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mereka membawakan satu per satu bahan yang disebut para pengembara. Alhasil, jadilah sup yang enak dan penduduk kota itupun turut menikmatinya. Untuk pertama kalinya penduduk kota itu meniadakan rasa curiga dan mengalami indahnya hidup berbagi dalam kebersamaan.
Betapa indahnya apabila kita hidup bersama dengan rukun. Tidak hanya tinggal bersama-sama, tetapi saling menerima dan saling berbagi dalam kasih. Hidup rukun tanpa prasangka yang menghalangi interaksi dengan sesama.
"Orang yang Selalu Menaruh Curiga Membatasi Dirinya Untuk Bahagia"
Sejak ditinggal mati suaminya, Desi kehilangan semangat hidup. Ia tidak lagi tertarik untuk berolahraga atau merawat tubuh seperti dulu. Ia selalu berpikir, “Nanti jika situasinya sudah kembali normal, aku akan berolahraga lagi.” Tiga tahun berlalu dan Desi merasa situasinya belum berubah. Tiba-tiba ia tersadar, ”Jika aku tidak mulai berusaha melakukan apa yang masih bisa kulakukan, situasi tidak akan kembali menjadi normal!” Ia pun memutuskan untuk kembali beraktivitas, lalu semua menjadi normal lagi.
Situasi yang kita hadapi kerap kali tidaklah ideal. Tidak normal. Investasi yang kita tanam belum tentu langsung membuahkan hasil. Pemberian kita kepada orang lain belum tentu bisa menolongnya keluar dari musibah. Cuaca dan arah angin hari ini mungkin tidak ideal untuk menabur benih. Apa pun yang kita lakukan selalu punya risiko untuk gagal. Namun, jauh lebih baik kita berusaha berbuat sesuatu ketimbang terus menunggu situasi hingga menjadi ideal. Jika kita selalu menanti ”saat yang tepat” untuk bertindak, kita akan menunggu selamanya tanpa hasil apapun! Lebih baik kalah setelah mencoba, daripada menyerah sebelum berusaha.
Apakah Anda merasa beban persoalan membuat hidup Anda menjadi ”tidak normal”? Jangan menunggu semuanya menjadi normal kembali. Bisa jadi Anda tidak akan pernah bisa mengalami hidup seperti dulu. Pengalaman hidup kerap mengubah diri dan lingkungan kita. Jadi, lebih baik lakukan saja apa yang bisa Anda lakukan hari ini. Carilah ”rasa normal” yang baru...
Situasi hidup kita selalu normal saat kita berusaha menjalaninya dengan normal
Sebuah Kisah Yang Mengharukan Mengenai Pengampunan.
Bayangkan bagaimana rasanya berada di dalam kendaraan Anda, menyetir mobil dengan perasaan tenang dan damai, dan kemudian mendadak sesuatu yang keras menghantam dan memecahkan kaca mobil depan Anda, menghantam Anda dan meremukkan hampir semua tulang di wajah Anda. Dan ternyata "senjata" yang menghantam Anda itu adalah sebuah kalkun beku, dihempaskan dari jendela belakang sebuah mobil yang sedang mengebut dikendarai oleh seorang mahasiswa dalam perjalanan ugal-ugalan dengan teman-temannya.
Hal inilah yang terjadi pada Victoria Ruvolo, seorang manajer berusia 44 tahun, pada sebuah jalan pada bagian Timur kota Riverhead di Long Island. Dia bisa saja terbunuh, dan bisa saja mengalami kerusakan otak. Para ahli bedah harus memperbaiki wajahnya menggunakan pelat logam dan baut. Namun secara luar biasa, dia sembuh dan dalam beberapa bulan dia pulih dan kembali bekerja.
Tapi itu bukan cerita yang ingin dissampaikan. Yang terjadi pada bulan Agustus di persidangan inilah yang menjadikan cerita ini sebuah kisah yang perlu diingat. Bocah yang melempar kalkun tersebut, Ryan Crushing berusia 19 tahun dan menderita gangguan penglihatan, didakwa atas serangan tingkat pertama dan menghadapi hukuman maksimal 25 tahun penjara. Dan kemudian Ruvolo pun masuk ke ruang sidang.
Saya belajar bahwa pengampunan dimulai dengan melepaskan kemarahan kita. Saat hal itu telah dilakukan, kebebasan hadir kembali dalam diri kita. Kita dapat melanjutkan ke tahap berikutnya dari pengampunan,yaitu mendoakan mereka yang telah menyakiti kita dan menyadari bahwa insan ini juga ciptaan Tuhan.
Dia melihat Crushing pertama kali saat di luar ruang sidang. Sang pemuda berhenti, tersedak dan menangis sambil berusaha untuk meminta maaf kepada perempuan malang itu.
"Dalam beberapa menit yang sangat emosional, Ruvolo justru merangkul pemuda itu dengan erat, mengelus wajahnya dan menepuk pundak pemuda itu saat dia terisak tak terkendali," tulis seorang reporter New York Times. Saat sang pemuda terus menerus berkata, "Saya minta maaf, saya sungguh-sungguh tidak bermaksud menyakiti Anda," sang wanita yang bisa saja terbunuh menjawab berulang kali, "Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Saya hanya ingin kamu menjalani hidupmu sebaik mungkin."
Kemudian, dengan desakan Ruvolo, penuntut setuju untuk menurunkan masa hukuman Crushing sehingga dia hanya mendekam enam bulan di penjara dan lima tahun masa percobaan, bukan 25 tahun kurungan.
Sang penuntut yang sudah menjalani profesinya selama 30 tahun berkata "Saya tidak pernah melihat seorang korban yang begitu pemaaf."
Begitu banyak kisah dan tulisan yang telah ada mengenai pengampunan. Saya sendiri telah berusaha untuk mendedikasikan waktu dan kata-kata untuk membagikan proses yang harus saya lewati agar dapat memaafkan orang-orang yang begitu kejam dalam hidup saya. Jika saya ditanya : Apakah pengampunan memungkinkan bagi orang yang menghancurkan hidup Anda? Memang butuh waktu, tapi bila tiba saatnya saya akan menjawab ya.
Pada saat-saat mencari pengampunan saya menyadari hal apa yang membuat pengampunan menjadi sangat sulit. Kemarahan.
Saat saya melihat cahaya dan kebenaran dari apa yang dapat dilakukan rasa marah terhadap diri saya, seketika itu juga saya menggarisbawahi kebutuhan saya untuk sebuah pengampunan. Saya merelakan niat dan kemampuan untuk mengejar prinsip yang populer tapi palsu bahwa kita dibenarkan untuk "membalas dendam."
Dan disinilah saya belajar bahwa pengampunan dimulai dengan melepaskan kemarahan kita. Saat hal itu telah dilakukan, kebebasan hadir kembali dalam diri kita. Kita dapat melanjutkan ke tahap berikutnya dari pengampunan,yaitu mendoakan mereka yang telah menyakiti kita dan menyadari bahwa insan ini juga ciptaan Tuhan.
Saya rasa hal ini jugalah yang dipercayai oleh Ruvolo.
New York Times juga menulis sebuah editorial mengenai Ruvolo, berjudul "Sebuah Momen Anugrah." Kata-kata yang tertulis di dalamnya sungguh mengharukan :
"Diberikan kesempatan untuk mendapatkan keadilan, Nona Ruvolo justru memberi dan mendapat sesuatu yang lebih baik : penghapusan kemarahan dan pemulihan harapan, sebuah sikap penyembuhan yang membersihkan bagaikan air matanya yang membasuh wajahnya yang rusak dan wajah sang bocah bodoh yang menyedihkan, dimana hidup pemuda tersebut dipulihkan oleh Nona Ruvolo seorang diri."
Sebuah anugrah luar biasa yang diberikan oleh Victoria Ruvolo...
Begitu banyak video yang telah diposting mengenai pengampunan dan memaafkan.
Saya berharap tulisan dan beberapa video ini dapat membantu kita untuk dapat memaafkan dan mengampuni. Maukah Anda dan Saya terbebas dari beban yang selama ini menghantui hidup kita hanya dengan satu tindakan - Mengampuni?
“To forgive is the highest, most beautiful form of love. In return, you will receive untold peace and happiness” - Robert Muller
Kata bersyukur memiliki beberapa arti. Yang pertama adalah untuk berterima kasih atau menunjukkan rasa syukur. Arti lainnya adalah untuk menaikkan atau meningkatkan nilai sesuatu, misalnya menghargai waktu sebagai investasi yang berharga. Saya merasa dengan menghargai dan bersyukur, nilai dari hal-hal yang kita miliki dan kita inginkan dalam hidup kita juga akan meningkat.
Dalam hidup kita yang penuh hiruk-pikuk dan serba cepat, sangatlah mudah bagi kita untuk melupakan banyak hal yang seharusnya kita syukuri. Kita cenderung mengejar prestasi, dan menjadi orang yang berorientasi pada hasil.
Dan tidak ada yang salah dengan hal itu.
Walaupun demikian, sangatlah vital dan penting bagi kita untuk tidak kehilangan pandangan pada hal-hal yang jelas-jelas ada di dekat kita, hal-hal yang seringkali kita anggap sepele.
Apa yang kita fokuskan akan berkembang. Jika kita fokus pada masalah-masalah dalam hidup kita, mereka cenderung akan bertambah sulit. Jika kita fokus pada hal-hal baik yang telah kita miliki, hal ini juga, memiliki kecenderungan untuk bertumbuh.
Saya melihat hal ini sebagai bentuk lain dari doa. Jika kita kuatir dan resah oleh berbagai masalah, kita menjadikan masalah-masalah itu bertambah besar dari keadaan sesungguhnya, dan hal ini bagaikan magnet yang akan menambah masalah-masalah itu menjadi benar-benar besar. Hal ini bagaikan sebuah doa negatif... sebuah doa yang terbalik.
Berfokus pada apa yang kita PUNYA dan apa yang kita INGINI, mulai menghargai hal-hal ini - dan mereka akan benar-benar bertumbuh.
Sesaat sebelum pergi tidur setiap malam, saya dan istri saya berbagi setidaknya tiga hal yang patut kita syukuri. Kami menyebutnya sebagai ritual "Bersyukur." Hanya perlu beberapa saat, tapi ritual ini mengalihkan pikiran kami pada hal-hal yang baik... pada hal-hal yang kami harapkan untuk bertambah dan bertumbuh dalam hidup kami.
Saya menyarankan untuk melakukan perenungan secara sadar atas berkat-berkat yang Anda terima tiap-tiap hari daripada melakukannya dalam periode per tahun. Jika Anda melakukannya, Anda akan merasakan bagaimana hal-hal ini lebih nyata hadir - tidak hanya hadir, tetapi juga bertumbuh - dalam hidup Anda.
"Jika Anda belajar untuk lebih menghargai terhadap hal-hal yang telah Anda miliki, Anda akan menyadari ternyata Anda memiliki lebih banyak hal yang patut Anda syukuri." - Michael Angier.
Sungguh luar biasa saat kita menyadari begitu banyak hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Pernahkah terpikir oleh Anda untuk membuat jurnal harian untuk hal-hal yang patut Anda syukuri? Mungkin pernah terbersit di benak Anda, tapi seringkali kesibukan membuat kita lupa untuk tetap konsisten dalam membuat jurnal ini. Mungkin situs ini dapat membantu, sebuah situs bertema 356 Days of Being Grateful (365 Hari Dengan Bersyukur).
When you’re grateful, that allows God to do great things in your life - Joel Osteen