Dulu saya punya sebuah mobil kecil yang biasa-biasa saja. Setiap hari selama bertahun-tahun saya beraktifitas ditemani olehnya. Mulai dari SMA, kuliah, bekerja, saya terus menggunakan mobil ini. Siang dan malam, kapanpun saya butuh kendaraan, dia selalu setia menemani saya. Terik matahari dan hujan deras tidak membuat saya kepanasan atau basah sampai saya tiba di tempat tujuan.Sering saat sedang berkendara, saya melihat ke kiri-kanan jendela mobil saya. Tidak jarang terbersit rasa iri melihat mobil lain yang lebih besar dan mewah. Mulai muncul rasa kesal karena saya masih terus mengendarai mobil mungil ini. Memang sudah agak tua, mobil ini sudah mulai menyita waktu saya karena mulai "merongrong" dan perlu perawatan ekstra. Ingin rasanya segera menjual mobil ini dan menggantinya dengan yang baru.
Mulailah muncul sebuah pikiran picik di dalam benak saya. Sengaja mobil itu tidak saya rawat lagi berharap suatu saat dia tidak lagi layak paka sehingga saya punya alasan untuk membeli yang baru. Dengan 1001 alasan sibuk kuliah dan pekerjaan saya akhirnya mulai menelantarkan perawatan mobil ini. Tidak lagi dicuci, tidak diperhatikan perawatan berkalanya, bahkan saya mulai mengabaikan beberapa hal kecil yang mulai tidak berfungsi, sampai suatu saat...
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Suatu hari bagian depan mobil saya terbakar akibat korsleting listrik di bagian lampu. Kerusakan yang dialami saat itu cukup parah dan memerlukan perbaikan besar dan sudah pasti tidak dapat dikendarai lagi saat itu. Seharusnya saya senang, kesempatan yang dinantikan akhirnya tiba juga. Tapi mengapa saat itu saya justru merasa sedih? Tidak terbayang rasanya saat saya melihat mobil saya dilalap api. Saya mati-matian berusaha untuk memadamkan apinya, bahkan saat itu saya sampai ikut terluka. Muncul penyesalan saat melihat mobil itu yang sebagian telah menjadi hitam hangus. Saat itu saya terus berusaha untuk mengeraskan hati dan berpikir, "Akhirnya saya punya alasan untuk mengganti mobil baru," tapi batin saya berkata lain. Pertarungan antara pikiran picik dan perasaan hati terjadi di dalam diri saya. Andai saja saya lebih memperhatikan mobil ini lebih baik lagi, hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Tapi saya terus berusaha menyangkal dan tidak mau dipersalahkan dengan terus berkata, "Saya sudah tidak sanggup lagi mengurus mobil tua yang penyakitan seperti ini, saya tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini!" Namun tetap saja perasaan ini tidak dapat dibohongi. Penyesalan pun akhirnya mengalahkan segala alibi-alibi saya. Saat itu saya merasa jahat dan kejam sekali, "teman setia" telah diperlakukan sedemikian buruk sampai terjadi hal seperti ini.
Akhirnya saya memutuskan untuk memperbaiki mobil ini. Sejak saat itu saya mencurahkan seluruh perhatian saya untuk mengembalikan kondisinya seperti semula. Memang tampak lebih baik setelah perbaikan, mobil ini kembali mulus dan rapi. Namun luka bakar yang ada di mobil saya ini tidak akan pernah hilang, hanya ditutup oleh lapisan cat saja. Sebuah luka untuk terus mengingatkan saya bahwa sang pemilik telah memperlakukannya dengan buruk.
Begitulah sifat manusia ini. Saat mulai jenuh dan bosan, kita mulai tidak memperdulikan apapun atau siapapun yang kita anggap membosankan itu. Sedikit demi sedikit kita mulai melukai dia sampai akhirnya timbul goresan luka dalam yang tidak dapat hilang. Saat itu barulah kita menyesali perbuatan kita dan ingin memperbaiki semuanya. Nasi telah menjadi bubur, luka bisa disembuhkan, tapi bekasnya akan tetap ada. Itulah realita hati dan pikiran manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.
Sekarang saya telah menjual dan mengganti mobil tersebut dengan sebuah mobil baru. Namun kenangan dan pelajaran yang saya dapatkan bersamanya sungguh berharga. Sebuah pelajaran untuk menghargai mereka yang dekat di hati. Cerita di atas hanyalah tentang sebuah mobil, sebuah benda tidak bernyawa. Terlebih lagi dengan orang-orang di sekeliling kita, yang memiliki emosi dan jiwa. Sudah sepantasnya bukan bagi kita untuk lebih peka terhadap mereka.
Seringkali dalam hubungan bersosialisasi kita mulai merasa jenuh dan bosan. Perlahan-lahan kita mulai tidak menghargai keberadaan teman-teman, rekan kerja, dan orang-orang di sekeliling kita, dan ingin mulai menjaga jarak dalam pergaulan. Mulai muncul berbagai alasan, tidak cocok, tidak sesuai, karakternya tidak menyenangkan, dan lain sebagainya. Adalah hal yang wajar untuk tidak merasa cocok dengan orang lain, sebab kita diciptakan berbeda, tiap orang memiliki hal yang disukai dan tidak disukainya sendiri. Saya pun menyadari tidak semua orang bisa get along dengan saya, dan saya memaklumi hal itu. Saatnya bagi saya untuk mundur teratur, dari seorang teman baik menjadi teman yang biasa-biasa saja. Dari seorang rekan kerja yang akrab menjadi sekedar teman kerja. Sebuah sikap yang saya pelajari untuk tetap membuat diri saya nyaman, dan tidak melukai orang lain.
Namun sayang sekali ada banyak orang yang belum bisa melakukan hal ini. Bagi beberapa orang, saatnya menjaga jarak berarti saatnya melukai. Saat mereka berpikir sudah saatnya tidak menjadi teman baik, saat itu pula mereka merasa perlu untuk mencampakkan orang tersebut. Mulai menghina, meremehkan, menghasut bahkan melakukan hal-hal jahat lainnya sehingga orang tersebut terluka. 1001 alasan muncul untuk menyakiti orang tersebut, meninggalkan jurang yang sangat dalam yang tidak dapat diseberangi lagi. Sebuah sikap yang jahat dan egois. Mengapa tidak berusaha melepaskan diri dan berpisah tanpa harus melukai pihak lain? Apakah akhir sebuah hubungan sosial harus diahiri dengan perasaan buruk? Apakah tidak mungkin menjaga jarak tanpa harus menyakiti?
Sama seperti sebuah mobil baru, di tahun ini sebuah lembaran baru pun di buka. Sebuah pelajaran yang harus saya simpan di benak saya baik-baik. Mungkin kita pernah menyakiti orang lain secara tidak sadar, dan saatnya untuk memperbaiki hal itu. It wouldn't be new year's if I didn't have regrets (William Thomas), awal tahun ini adalah sebuah momentum yang baru untuk merubah apa yang belum bisa diubah di tahun-tahun sebelumnya. Mari jadikan tahun yang baru ini sebuah tahun penuh kasih, bukan sebuah tahun penuh dengan luka...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar