Selasa, 12 Januari 2010

Semangkuk Mie...

Pada malam itu, Anna bertengkar dengan ibunya. Penuh dengan amarah, Anna segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang sepeserpun.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai mie dan mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk mie, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Anna berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk mie?" "Ya, tetapi aku tidak membawa uang." sahut Anna dengan malu-malu.

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu." jawab si pemilik kedai. "Silakan duduk, aku akan memasakkan semangkuk mie untukmu."

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Anna segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa nona?" tanya si pemilik kedai. "Tidak apa-apa, aku hanya terharu." jawab Anna sambil mengeringkan air matanya.

"Bahkan seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk mie! Tetapi... ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri." katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Anna, menarik nafas panjang lalu berkata: "Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah ini, aku hanya memberimu semangkuk mie dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak begitu banyak mie dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Malah kau bertengkar dengannya."

Seketika itu juga Anna terhenyak mendengar hal tersebut. Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk mie dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Anna segera menghabiskan bakminya, mengucapkan terima kasih kepada pemilik kedai bukan hanya untuk semangkuk mie yang baru saja disantapnya, tetapi juga untuk membuka mata hatinya, dan akhirnya iapun menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya berwajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Anna, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Anna, kau sudah pulang. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dulu sebelum kau tidur. Kalau makanan itu dingin tidak enak lagi nanti rasanya."

Seketika itu juga Anna tidak dapat menahan tangisnya. Ia pun menangis di pelukan ibunya.

Ada kalanya, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita wajib berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

"Appreciation can make a day, even change a life.
Your willingness to put it into words is all that is necessary."
- Margaret Cousins -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar