Minggu, 25 Juli 2010

Tidak Banyak Melihat...

Kawan saya, suami-istri pemilik warung makan sederhana, mengatur keuangan mereka secara menarik. Setiap hari mereka menyisihkan penghasilan ke dalam beberapa kaleng menurut keperluan-keperluan tertentu. Dengan cara itu, mereka berhasil mencicil sepeda motor selama dua tahun, dan kini masih aktif membayar premi asuransi pendidikan untuk kedua anak mereka. Apa kunci mereka dalam berdisiplin mengelola keuangan? “Tidak sering jalan-jalan,” kata sang istri. "Kenapa begitu?" “Kalau sering jalan-jalan, kan banyak yang dilihat. Kalau banyak yang dilihat, banyak juga yang diinginkan,” jelasnya.

Keinginan memang ada dalam diri setiap manusia. Sesuatu yang masih tersimpan di dalam hati; belum terwujud menjadi tindakan - tetapi, mengapa dilarang? Memangnya ada yang salah dengan keinginan? Apakah manusia tidak boleh memiliki keinginan? Tentu tidak. Yang terpenting adalah mengendalikan keinginan. Tidak semua hal perlu diinginkan. Keinginan ada yang patut dan ada yang tidak patut; mesti dipilah dan dipilih mana yang sesuai dengan situasi dan kondisi.

Meskipun masih di dalam hati, keinginan yang tidak terkendali menjadikan kita rentan terhadap pencobaan. Daripada mengumbar keinginan, marilah kita belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Belajar untuk bersyukur atas apa yang sudah kita miliki; berkat yang sudah disediakan Tuhan untuk kita. Dengan begitu, kita akan menggunakan berkat tersebut secara efektif. Kita tidak menghambur-hamburkannya untuk keinginan yang sia-sia, tetapi memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermakna.

Keinginan yang tidak dikendalikan akan berbalik mengendalikan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar