Rabu, 19 Mei 2010

Menjadi Kaya - Sebuah Kisah Nyata

Seringkali kita mengeluh saat himpitan materi menekan kita, terutama kita yang tinggal di kota-kota besar. Semua orang berlomba untuk menumpuk harta dan kekayaan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Memang di jaman sekarang ini segalanya butuh uang, tapi bukan berarti uang dapat membeli segalanya. Kebahagiaan tidak dapat dibeli oleh materi, dan seringkali kita melupakan hal itu. Berikut kisah seorang Jaye Lewis, sebuah kisah sederhana dan biasa saja, tapi menggugah hati.

Sehari setelah Natal kami berkeliaran pada sebuah toko buku bekas, dengan suami saya, Louie, anak perempuan kami, Jenny dan Helen, dan saya sendiri. Ini adalah waktu yang sangat berarti buat kami, karena kami akan berpisah lagi sebagai sebuah keluarga, hanya dalam beberapa hari.

Delapan bulan terakhir terasa sangat berat semenjak suami saya pensiun dari Angkatan Laut. Kami telah memanipulasi "sistem militer," ketika pada saat bertugas, kami berusaha untuk menghindari perpisahan yang lama satu sama lain semampu kami. Sekarang di sinilah kami, pensiun, dan hanya tersisa delapan bulan menjelang pepisahan terpanjang.

Ketika suami saya pensiun, kami mengetahui bahwa pekerjaan yang tersedia untuknya hanyalah di kota Norfolk, Virginia. Impian kami adalah untuk menghabiskan sisa hidup kami di pegunungan sebelah Barat Daya Virginia, sejauh enam setengah jam perjalanan. Dengan kondisi kesehatan saya yang menurun, sangatlah tidak memungkinkan untuk saya untuk tinggal bersama Louie di kota. Kami terus menerus dipisahkan, berdoa dan berharap agar ada sebuah pekerjaan yang tersedia di sebuah daerah indah yang kami sukai. Jadi disinilah kami, menunda hal yang tidak dapat dihindarkan, menghabiskan waktu di sebuah toko buku bekas, sebelum anak-anak dan saya kembali menuju ke Barat Daya Virginia. Saat itu kami miskin seperti hari-hari sebelumnya; namun kami sangat bersyukur karena bersama-sama, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk pelukan ekstra, berbagi impian dan tawa. Di sana hanya ada seorang lagi di dalam toko buku selain sang pemilik, seorang wanita yang menawan berusia lebih kurang sama dengan saya. Saya memperhatikan pakaiannya, sepatunya dan tas tangannya yang mahal, dan saya bertanya-tanya dalam hati apa rasanya menjadi kaya, masuk ke sebuah toko buku dan memiliki uang untuk membeli buku apapun yang saya inginkan. Tapi saat itu kami sangat bergembira, dan dalam sekejap saya melupakan wanita itu.

Kami berkelakar sambil melanjutkan perburuan harta kami, menggenggam uang kami sebanyak lima dollar, berharap untuk dapat menjadi yang pertama untuk menemukan buku yang paling tua, dan tentu saja paling murah. Itu adalah perjalanan yang menyedihkan sekaligus menyenangkan. Seringkali Louie dan saya melewati satu sama lain, mencari alasan untuk bersentuhan atau untuk memberi satu sama lain genggaman tangan ekstra. Jenny teringat tidak jauh dari toko buku ada sebuah mesin ATM, dan dia memutuskan bahwa dia membutuhkan tambahan duapuluh dollar dan bergegas pergi.

"Tidak adil!" Saya mengeluh. "Kami semua hanya dapat membelanjakan lima dollar, dan kamu akan menghabiskan duapuluh lima dollar?!"

Kami semua tertawa dan mulai mengolok-olok Jenny tanpa ampun, tapi dia dapat meyakinkan ayahnya bahwa dia harus mendapatkan $20 tambahan agar dapat membeli buku yang tidak dapat ditolaknya itu.

"Ayo, Jenny," Louie tertawa. "Ayah akan mengantarmu ke ATM."

Kemudian kami melakukan sebuah babak berpelukan dan berciuman lagi, tidak satupun dari kami ingin berpisah bahkan hanya untuk beberapa menit. Tak lama kemudian Louie dan saya berkata "selamat tinggal." Kami tidak dapat menolak kesempatan untuk meyakinkan satu sama lain tentang cinta kami, dan keyakinan kami bahwa perpisahan kami akan segera berakhir. Hal ini bagaikan sebuah sandiwara, drama situasi keluarga, namun kami tidak peduli tentang apa pendapat orang lain.

Keluarga militer sepertinya dapat dikategorikan menjadi dua : mereka yang mencari kesempatan untuk menunjukkan rasa sayang, dan mereka yang menghindari kontak, karena "selamat tinggal" adalah menyakitkan. Saya harus akhi kami adalah keluarga yang sangat penuh dengan "peluk-cium," dengan tidak menghiraukan orang lain, kami melanjutkan untuk memberikan kecupan dan pelukan terus menerus. Dalam karir militer, kami telah menyadari apapun dapat terjadi bahkan dalam perpisahan yang sangat singkat. Tapi sekarang ketika saya mengingat kembali, saya menyadari bagaimana kami terlihat sangat aneh.

Akhirnya, di antara banyak pelukan dan ciuman, saya melihat sebuah buku yang sempurna untuk saya! Buku itu berusia seratus tahun, dan berkisah persis pada periode waktu yang menjadi favorit saya, abad pertengahan. Oh, betapa saya menginginkan buku itu! Saya segera memeriksa berapa harganya, dan hati saya hancur. Harganya duapuluh lima dollar! Kami tidak memiliki uang sebanyak itu. Saya menatap Louie, dan seketika itu juga saya mengetahui jawabannya.

Dia pasti sangat menginginkan agar saya dapat memiliki buku itu. Saya dapat melihat kesedihan itu di matanya. Louie mengulurkan tangan dan memberikan saya pelukan ekstra. Saya mengerti pesan "sayang, kita tidak mampu untuk membelinya," yang hendak ia sampaikan. Saya bersandar pada lengannya, dan saya melihat perempuan menawan tadi juga memegang buku yang saya inginkan. Ya sudahlah, biarkan dia memilikinya. Saya memeluk Louie lagi, dan setengah serius, saya bergumam, saat mata saya beradu pandangan dengan perempuan itu.

"Oooohh, Andaikan saja saya kaya raya!"

"Terlihat bagiku, Anda sudah terlihat kaya." dia berkata sambil tersenyum.

Saat itu ada jeda yang cukup lama dan hati saya dipenuhi dengan pemahaman. Saya melihat suami saya, menatap anak-anak saya, saling merangkul bagaikan dalam naungan penuh cinta, dan saat itu saya menyadarinya. Saya kaya. Sangat kaya. Saya segera berbalik untuk berterima kasih pada wanita itu untuk mengingatkan hal ini kepada saya, tapi dia telah pergi!

Siapa dia? Saya tidak akan pernah tahu. Tapi apa yang dia lakukan menurut pandangan saya sangatlah penuh mujizat. Saya tidak akan melupakannya. Kemana dia menghilang? Saya tidak tahu.

Cukup aneh, dalam hitungan hari suami saya menerima tawaran kerja di Barat Daya Virginia. Dalam waktu kurang dari dua minggu, dia dipekerjakan dan pindah ke tempat yang sekarang menjadi rumah kami. Surat panggilan kerja itu telah dikirimkan dua hari sebelum Natal, bahkan pada saat kami berpelukan dan berciuman di toko buku itu. Bahkan momen saya mendengar kata-kata, "Terlihat bagiku, Anda sudah terlihat kaya," saat itu sudah dalam proses pergerakan untuk menyatukan keluarga kami. Saya sangat yakin bahwa ini semua adalah rencana Tuhan, untuk mengingatkan saya apa arti dari menjadi "kaya" ... keyakinan, cinta, keluarga, dan sahabat. Dan ketika saya sampai di surga, saya tidak akan terkejut sama sekali saat saya menyadari bahwa Tuhan mengirimkan seorang malaikat ke sebuah toko buku bekas, di Norfolk, Virginia, untuk memberikan pesan yang paling kaya, sehari setelah Natal, bertahun-tahun yang lalu.

Jaye Lewis, 2003

Kekayaan bukan hanya soal materi. Orang-orang terdekat kita juga merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Saat kita kehilangan materi, kita dapat membelinya lagi. Tapi saat kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, mereka akan pergi untuk selamanya. Marilah sebelum terlambat, sadarilah bahwa kita kaya, dan mulai menunjukkan kasih kita kepada mereka. Jangan tunda lagi, mulailah dari sekarang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar