Selasa, 13 Oktober 2009

Hukum Menabur dan Menuai

Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang, semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi dengan sekuat tenaga memberikan pertolongannya, dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat di selamatkan. Pemuda yang pertama memapah pemuda yang terperosok ini pulang ke rumahnya. Ternyata rumah si pemuda kedua sangat bagus, besar, megah dan mewah. Ayah pemuda ini sangat berterima kasih atas pertolongan yang di berikan kepada anaknya, dan hendak memberikan uang, namun pemuda yang pertama ini menolak pemberian tersebut.

Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan. Si pemuda pertama adalah seorang yang miskin, sedangkan si pemuda kedua adalah bangsawan yang kaya raya. Pemuda yang miskin ini mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter, namun ia tidak mempunyai biaya untuk kuliah. Tetapi ada seorang yang murah hati, yaitu ayah dari pemuda bangsawan itu. Ia memberi beasiswa sampai akhirnya meraih gelar dokter.

Tahukah saudara nama pemuda miskin yang jadi dokter ini ? Namanya FLEMING, yang kemudian menemukan obat Penisilin. Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang, ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi seperti itu. Para dokter mendengar tentang Penisilin penemuan Dr. Fleming dan mereka menyuntikkan Penisilin itu yang merupakan obat penemuan baru. Apa yang terjadi ? Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda itupun akhirnya sembuh!!

Tahukah saudara siapa nama pemuda itu ? Namanya WINSTON CHURCHIL - PM Inggris yang termasyhur itu.

Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum menabur dan menuai. Fleming menabur kebaikan - Ia menuai kebaikan pula - cita-citanya terkabul, ia menjadi dokter. Fleming menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa Churchil. Tidak sia-sia bukan beasiswa yang diberikan oleh ayahnya Churchil?

Senin, 12 Oktober 2009

Teladan...

Lagi-lagi sumber inspirasi saya hari ini berasal dari sebuah lelucon. Kali ini kita berbicara mengenai keteladanan. Kira-kira begini kisahnya :

Tiga orang anak datang ke dapur dan duduk di meja makan untuk menikmati sarapan. Sang ibu bertanya kepada anak tertua apa yang ingin dimakannya. "Aku ingin roti bakar keparat," katanya. Ibunya sangat marah mendengar bahasa kasar yang keluar dari mulut anak tertua tersebut, memukulnya, dan menyuruhnya pergi ke lantai atas. Kemudian sang ibu bertanya kepada anak kedua. "Hmm, berarti sekarang yang pasti aku yang harus makan roti bakar keparat itu," katanya. Sang ibu pun kembali marah besar, memukul anak itu karena berkata kasar, dan menyuruhnya pergi. Dan terakhir dia bertanya kepada anaknya yang paling kecil apa yang ingin dia makan untuk sarapan. "Aku tidak tahu," katanya sambil memelas, "Tapi aku yang pasti tidak mau makan roti bakar keparat itu."

Lucu sekali melihat bahwa kata-kata kasar tersebut begitu cepat menular. Bahkan anak yang paling kecil pun ikut-ikutan menggunakan kata tersebut, padahal mungkin dia sendiri tidak mengerti apa artinya. Semoga lelucon ini dapat mengingatkan kita, apapun yang kita lakukan, akan sangat berpengaruh bagi orang-orang di sekeliling kita, terutama orang-orang terkasih kita. God bless you, hope this joke helps you all...

Minggu, 11 Oktober 2009

Rahasia 90-10 yang Luar Biasa!

Sedikit sekali orang yang mengetahui dan mempraktekkan rahasia ini. Akibatnya? Jutaan orang mengalami stress berat, depresi, masalah, sakit hati, dan hal-hal negatif lainnya. Mereka sepertinya tidak pernah merasakan kesuksesan hidup. Hari yang buruk diikuti lagi oleh hari-hari buruk yang lain. Hal-hal buruk dan mengerikan sepertinya terjadi terus kepada mereka. Mereka hidup terus menerus dalam stress, kurang bahagia, dan hubungan yang hancur. Kekuatiran mengkonsumsi waktu mereka, kemarahan mengakibatkan mereka kehilangan orang-orang yang mereka sayangi, dan hidup terasa begitu mengerikan. Orang-orang terkasih pergi. Hidup terasa membosankan dan seringkali terasa kejam. Apakah deskripsi ini menggambarkan diri Anda? Jika iya, jangan berkecil hati. Semua hal-hal negatif di atas bisa berubah. Pahami dan terapkan rahasia 90-10. Hal ini akan mengubah hidup Anda! Sebenarnya apa rahasia 90-10 ini? Rahasia 90-10 ini adalah 10% dari hidup kita ditentukan dari apa yang terjadi kepada kita, dan 90% dari hidup kita ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi.

Apa arti dari semua definisi di atas? Artinya kita tidak memiliki kendali terhadap 10% hal yang terjadi kepada diri kita. Kita tidak dapat memerintahkan mobil untuk tidak mogok. Pesawat yang mendarat terlambat, mengakibatkan seluruh jadwal kita berantakan. Seorang pengemudi yang menyerobot kendaraan kita ditengah kemacetan. Kita tidak dapat mengendalikan 10% ini.

Sedangkan 90% lainnya berbeda. Kita dapat menentukan 90% ini! Bagaimana caranya? Melalui reaksi kita. Kita tidak dapat mengendalikan lampu lalu lintas, tapi kita dapat mengendalikan reaksi kita untuk berhenti.

Jangan biarkan orang lain membodohi diri kita, karena kita dapat mengendalikan reaksi kita!

Mari kita gambarkan rahasia 90-10 ini dengan sebuah contoh kasus.

Anda sedang menikmati sarapan bersama keluarga Anda. Anak Anda secara tidak sengaja menyenggol dan menumpahkan secangkir kopi diatas kemeja kerja Anda. Anda tidak memiliki kendali terhadap hal yang baru saja terjadi. Apa yang akan terjadi berikutnya ditentukan oleh bagaimana cara Anda bereaksi.

Anda memaki. Secara kasar Anda memarahi putri Anda karena dia telah menumpahkan kopi tersebut. Kemudian putri Andapun menangis. Setelah memarahinya, Anda juga memarahi istri Anda karena meletakkan cangkir tersebut terlalu pinggir. Kemudian dilanjutkan dengan pertengkaran singkat. Anda naik ke lantai atas dan mengganti kemeja Anda. Saat turun ke bawah Anda melihat putri Anda terlalu sibuk menangis sehingga tidak menghabiskan sarapannya dan tidak segera bersiap-siap berangkat untuk ke sekolah sehingga putri Anda ketinggalan bisnya. Istri Andapun harus segera berangkat kerja. Anda bergegas menuju mobil dan mengantar putri Anda ke sekolah. Karena Anda terlambat, Anda mengemudi dengan cepat.

Setelah tertunda 15 menit dan membuang uang yang tidak kecil untuk tilang karena mengemudi terlalu cepat, Anda tiba di sekolah putri Anda. Putri Anda masuk ke sekolah tanpa berkata selamat tinggal. Setelah terlambat 20 menit tiba di kantor, Anda menyadari kalau Anda lupa membawa tas kerja Anda.

Hari Anda telah dimulai dengan mengerikan. Dan semakin waktu berjalan, hari-hari Anda terasa semakin buruk dan lebih buruk lagi. Anda menanti-nantikan jam kerja segera usai untuk segera pulang ke rumah. Saat Anda sampai di rumah Anda merasakan ada suatu jarak dalam hubungan Anda dengan istri dan anak Anda.

Mengapa sampai seperti ini? Semua ditentukan oleh reaksi Anda di pagi hari.

Mengapa Anda sampai mengalami hari yang buruk?

A. Apakah kopi yang tumpah itu penyebabnya?
B. Apakah putri Anda penyebabnya?
C. Apakah sang polisi yang menilang Anda penyebabnya?
D. Apakah Anda penyebabnya?

Jawabannya adalah D. Anda tidak mempunyai kendali terhadap kopi yang tumpah. Bagaimana cara Anda bereaksi 5 detik setelah itu yang menyebabkan Anda mengalami hari yang buruk.

Sebaliknya, hal seperti ini yang mungkin dan seharusnya terjadi. Secangkir kopi tumpah di atas kemeja Anda dan mata putri Anda sudah berkaca-kaca. Anda dengan lembut berkata "Tidak apa-apa sayang, lain kali lebih hati-hati oke?" Andapun naik ke atas, mengganti kemeja dan mengambil tas kerja Anda. Kemudian Anda turun ke bawah dan melihat di balik jendela putri Anda sedang naik bis. Dia berbalik dan melambaikan tangan. Anda dan istri Anda berciuman sebelum Anda berdua berangkat kerja. Tiba di kantor 5 menit lebih cepat, Anda dengan ramah menyapa rekan-rekan kerja yang lain. Boss Andapun berkomentar betapa indahnya hari Anda.

Merasakan perbedaannya? Dua skenario yang berbeda. Dua-duanya dimulai pada waktu yang sama, namun berakhir berbeda. Kenapa? Perbedaan itu muncul dari cara Anda BEREAKSI. Anda benar-benar tidak memiliki kendali atas 10% hal yang terjadi dalam hidup Anda, sedangkan 90% sisanya ditentukan oleh reaksi Anda sendiri.

Berikut ini beberapa contoh dalam menerapkan rahasia 90-10.

Jika seseorang berkata negatif tentang diri Anda, jangan jadikan dirimu seperti sebuah spons yang menyerap semua hal-hal negatif itu. Biarkan serangan-serangan tersebut mengalir dan jatuh seperti air jatuh di atas kaca. Anda tidak boleh membiarkan komentar-komentar negatif mempengaruhi Anda! Bereaksi seperlunya dan hal itu akhirnya tidak akan merusak hari Anda. Reaksi yang salah dapat berakibat kehilangan orang-orang yang Anda sayangi, dipecat dari pekerjaan Anda, stress yang berlebihan, dan sebagainya.

Bagaimana Anda bereaksi jika sebuah mobil menyalip kendaraan Anda di tengah kemacetan? Apakah Anda kehilangan kesabaran Anda? Memukul setir dengan kencang? Apakah Anda memaki? Apakah tekanan darah Anda meningkat? Apakah Anda sengaja menabraknya? SIAPA YANG PEDULI jika Anda terlambat 10 detik untuk kerja? Untuk apa Anda membiarkan sebuah mobil merusak suasana hati Anda? Ingatlah prinsip 90-10, dan jangan kuatirkan hal sepele seperti ini.

Anda mendengar kabar bahwa Anda akan segera dipecat. Untuk apa Anda tidak bisa tidur atau merasa kuatir? Pasti ada jalan keluarnya. Gunakan energi dan waktu "kekuatiran" Anda untuk mencari pekerjaan lain. Pesawat Anda terlambat mendarat. Hal ini akan merusak jadwal Anda selama satu hari penuh. Untuk apa menumpahkan kekesalan Anda kepada petugas pesawat? Dia tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi. Gunakan waktu yang ada untuk membaca, untuk mengenal orang yang duduk di samping Anda, dan lain sebagainya. Mengapa merasa tertekan? Hal itu hanya akan membuat keadaan menjadi tambah buruk.

Sekarang Anda telah mengetahui Rahasia 90-10. Terapkan dan Anda akan sangat terkejut melihat hasilnya!!!

Sabtu, 10 Oktober 2009

Saling Berbagi, Saling Memberi dan Menerima...

Inspirasi saya hari ini datang dari situs pertemanan yang setiap hari saya buka, Facebook. Setiap hari saya membuka situs tersebut, untuk mengetahui perkembangan yang terjadi dengan teman-teman saya. Dan setiap hari pula saya melihat sekian banyak status-status yang berbeda, yang terus di-update 24 jam. Satu persatu muncul, dan terkubur oleh status-status baru yang ditulis oleh teman-teman saya yang lain. Ada yang menuliskan kebahagiaan, kesedihan, keterkejutan, amarah, kehilangan, inspirasi, rasa frustrasi, penghiburan dan lain sebagainya, bahkan sampai lapar, kenyang, makan, mandi, mau tidur pun diungkapkan semua di dalam status mereka. Segala macam rasa dan emosi tertumpah di wall, setiap hari, setiap jam, setiap detik dan terus bergulir dengan update-update baru tiada henti.

Dari semua ungkapan rasa dan emosi yang tertulis disana, ada satu kesamaan yang terbersit di benak saya, bahwa teman-teman saya ingin "berbagi." Berbagi kebahagiaan, berbagi amarah, berbagi kesedihan, bahkan berbagi sampai hal-hal terkecil dalam hidup ini. Sungguh suatu hal yang luar biasa, saling berbagi walaupun kita semua berada di tempat yang berbeda, sedang melakukan kegiatan yang berbeda, dan mungkin dalam zona waktu yang berbeda.

Bicara soal berbagi, saya teringat sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Stevie Wonder, That's What Friends Are For. Sepenggal liriknya yang terus saya ingat :

Keep smilin'
Keep shinin'
Knowin' you can always count on me
For sure
That's what friends are for
For good times and bad times
I'll be on your side forever more
That's what friends are for

Sungguh bahagia, kalau sampai saat ini kita menyadari bahwa kita memiliki teman yang mau saling berbagi. Tidak hanya dalam masa-masa senang, juga masa-masa susah. Mungkin satu persatu teman-teman kita pergi, mulai berpisah sejak masa-masa muda kita karena berbeda sekolah, berbeda universitas, atau pergi ke negara lain. Semakin hari menjalani hidup, satu persatu pun mulai menghilang lagi, karena semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, sehingga mulai terpisah jarak dan waktu. Semakin lama waktu berjalan semakin banyak yang menghilang, ada yang memulai kehidupan baru dengan keluarga mereka, dan pada akhirnya tinggal tersisa beberapa orang saja yang masih tetap berhubungan secara langsung. Tapi pada suatu kesempatan dimana kita semua menyempatkan diri untuk bertemu, semua tetap saja sama. Kita semua tetaplah teman, tidak peduli walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu. Semua kehangatan dan keakraban yang terkubur sekian lama tertumpah pada saat bertemu lagi. Ini yang saya sebut "Jauh Di Mata, Dekat Di Hati."

Jaman terus bergulir, internet mulai merambah ke semua kalangan, mulailah muncul situs-situs pertemanan, dari yang sederhana, sampai yang sekarang sedang populer, Facebook. Keterbatasan waktu dan jarak bukan lagi jadi masalah, sebab teknologi sudah memungkinkannya saat ini. Akhirnya teman-teman lama yang telah menghilang dalam kehidupan kita kembali hadir lagi, mewarnai hari-hari kita dengan status-status mereka di wall.

Friends Are Forever, itu yang terus saya ingat di dalam hati saya, dan hari ini saya menyadari betul arti kata tersebut. Teman-teman yang telah menghilang beberapa tahun, belasan, bahkan puluhan tahun dalam hidup saya satu persatu mulai bermunculan di friendlist saya. Tidak hanya hadir kembali, mereka juga mulai "menggoreskan" tinta-tinta mereka di dalam kertas kehidupan saya kembali. Satu persatu mulai berbagi kembali dalam kehidupan kita. Sungguh suatu hal yang patut disyukuri.

Jangan sia-siakan kesempatan ini. Marilah berbagi selagi kita masih bisa. Saling berbagi kasih, inspirasi, semangat, kebahagian, dan begitu banyak hal yang dapat kita bagikan kepada teman-teman kita. Mungkin kita semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, mungkin kita berada dalam zona waktu yang berbeda, atau terlebih lagi mungkin kita berada dalam belahan bumi yang berbeda. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa saling berbagi, saling memberi dan saling menerima.

Kawan-kawanku, tetaplah menulis status-status kalian di Facebook, sebab inilah inti dari persahabatan, Saling Berbagi, Saling Memberi dan Menerima...

Jumat, 09 Oktober 2009

Sebuah Batu Bata...

Sadarilah hidup ini singkat, semua berlangsung begitu cepat, sehingga tanpa sadar kita sudah membuang waktu kita dengan hal-hal yang tidak bermakna. Berikut saya bagikan sebuah cerita yang mungkin dapat menjadi titik balik bagi kita semua untuk lebih memperhatikan hal-hal kecil namun bermakna di dalam hidup kita...

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, seorang eksekutif muda yang sangat berhasil bernama Josh sedang berkendara di jalanan Chicago. Saat itu dia sedang mengendarai mobilnya yang baru berumur dua bulan, sebuah Jaguar XKE hitam 12 silinder yang apik, dan dia mengemudi sedikit agak cepat.

Ketika dia sedang menikmati mengemudi mobil barunya yang mewah, dia terkejut sekali melihat seorang anak kecil melemparkan sesuatu ke arah mobilnya. Sebuah batu bata melayang dan menghantam pintu mobil Jaguar hitamnya yang mengkilap. Dia langsung menginjak rem dalam-dalam, dan mengendarai mobilnya mundur dengan kencang menuju tempat dimana mobilnya tadi dihantam oleh batu bata. Josh seketika melompat keluar dari mobil dan langsung mencengkram anak kecil tersebut. Josh pun berteriak keras kepada anak itu "Apa yang kau lakukan?" Semakin kemarahannya memuncak, dia berkata "Itu Jaguar baru saya, kau akan menyesal pernah melemparkan batu bata itu ke mobil baru saya. Kenapa kau melakukan itu?"

Sang anak pun memohon kepada Josh "Tolong Tuan, Tolonglah... Maafkan saya. Saya tidak tahu apalagi yang harus saya perbuat..." "Saya melempar batu bata tersebut karena orang-orang tidak mau berhenti." ujar anak tersebut sambil menangis dan menunjukkan jarinya ke arah jalan. Anak tersebut melanjutkan ucapannya "Tolong kakak saya Tuan. Dia jatuh dari kursi rodanya dan saya tidak kuat untuk mengangkatnya. Bisakah Tuan membantu saya mengangkat dia kembali ke kursi rodanya? Dia terluka, dan dia terlalu berat untuk saya angkat seorang diri."

Seketika itu juga amarahnya padam, dan sang eksekutif muda langsung membantu anak tersebut mengangkat kakaknya kembali ke kursi rodanya. Dia mengambil saputangannya, memeriksa luka kakak anak tersebut, membersihkannya dan membalut luka sang kakak. Seketika itu juga, kemarahannya berganti menjadi belas kasih.

Josh tidak pernah memperbaiki pintu mobil Jaguar mewahnya. Dia tetap membiarkan goresan dan lekukan di pintu mobilnya untuk terus mengingatkan dirinya agar tidak menjalani hidup dengan sangat cepat, sampai seseorang harus melemparkan batu bata ke arahnya untuk mendapatkan perhatiannya.

Apakah selama ini kita terus berlari dan mengejar sesuatu dalam hidup ini dengan sedemikian cepat, sampai-sampai orang-orang di sekitar kita harus melemparkan "batu bata" untuk mendapatkan perhatian kita? Apakah selama ini kita terlalu berfokus pada sesuatu, sehingga kita tidak menyadari kalau ada orang-orang disekitar kita yang butuh kita perhatikan? Mulailah mengurangi kecepatan, dan mulailah melihat orang-orang di sekeliling kita, sehingga mereka tidak perlu melemparkan "batu bata" ke arah kita...

Kamis, 08 Oktober 2009

Segelas Susu...

Pernahkah Anda berpikir bahwa kebaikan kecil akan berdampak sangat besar? Satu tindakan kecil yang kelihatannya sangat sederhana, tapi pada kenyataannya sangat mempengaruhi orang lain? Berikut saya bagikan sebuah kisah yang sangat tepat untuk menggambarkan bahwa dengan perbuatan baik walaupun kecil dan sederhana juga dapat membantu orang lain secara luar biasa :

Pada suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari berjualan asongan dari pintu ke pintu, meyadari bahwa di kantongnya hanya tersisa uang beberapa sen, dan saat itu dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut akhirnya memutuskan untuk meminta makanan pada rumah berikut yang ia ketuk pintunya. Tetapi dia kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah tersebut. Anak itu mengurungkan niatnya untuk meminta makanan, dan akhirnya ia hanya meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat anak itu, dan berpikir bahwa dia pastilah sangat lapar, sehingga akhirnya wanita itu tidak memberinya segelas air tapi justru segelas besar susu. Anak itu minum dengan perlahan, lalu bertanya, "Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?" Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun. Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima imbalan untuk berbuat baik," jawab wanita itu dengan ramah. Anak lelaki itupun kemudian menghabiskan susunya dan berkata: "Saya sungguh-sungguh berterima kasih pada Anda dari lubuk hati saya yang paling dalam."

Bertahun-tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit parah. Para dokter di kota itupun sudah tidak sanggup menanganinya. Tim dokter pun akhirnya mengirim wanita tersebut ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit wanita tersebut. Dr. Horward Kelly akhirnya dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran hangat di mata dokter tersebut. Dengan segera dia bangkit dari kursinya dan bergegas pergi menuju kamar wanita tersebut. Ia langsung mengenali wanita itu pada pandangan pertama. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, ia selalu memberikan perhatian khusus pada pengobatan wanita itu. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya wanita itu sembuh!

Melihat kondisi wanita itu yang semakin hari semakin membaik, pihak rumah sakitpun memperbolehkan wanita itu untuk pulang. Sebuah amplop tiba di kamar wanita tersebut, dan cukup jelas bahwa isi amplop tersebut adalah tagihan biaya pengobatannya selama ini. Melihat amplop tagihan biaya pengobatan, wanita itupun mulai merasa takut untuk membukanya, karena ia sangat yakin bahwa ia tidak akan mampu membayar tagihan tesebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Namun pada akhirnya iapun memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan yang ia temui hanyalah selembar kertas bertuliskan "Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu." tertanda, Dr. Horward Kelly. Air mata kebahagian kehilangan membanjiri matanya. Ia berdoa: "Tuhan, terima kasih, bahwa cintaMu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia."

Percayakah Anda bahwa suatu kebaikan kecil yang mungkin Anda anggap sepele mampu berdampak luar biasa? Pernahkah Anda berpikir bahwa dengan kebaikan kecil itu orang mulai merasakan suatu hal yang positif dan akhirnya meneruskannya ke orang-orang lain di sekelilingnya? Tetaplah berbuat kebaikan, sekecil apapun itu, percayalah bahwa walaupun kecil dan sederhana, begitu besar dampaknya bagi orang yang menerimanya. Janganlah berhenti berbuat baik, walaupun kecil, walaupun sederhana, walaupun yang sanggup Anda berikan hanyalah Segelas Besar Susu...

Rabu, 07 Oktober 2009

Tidakkah Kita Semua Butuh Bantuan?????

Suatu hari saya sedang parkir di jalan raya sepulang dari bengkel selesai mencuci mobil. Sambil menunggu seseorang, saya mengambil secarik kain dan mulai membersihkan mobil saya, daripada saya hanya menunggu, saya pikir alangkah baiknya kalau saya membersihkan sedikit bercak-bercak air yang masih tersisa. Tak lama kemudian, dari seberang jalan datang seseorang dianggap oleh masyarakat sebagai seorang gelandangan.

Dari penampilannya, dia tidak memiliki mobil, rumah, baju bersih, apalagi uang. Ada saatnya kita merasa murah hati namun adakalanya juga saat dimana kita tidak ingin diganggu. Saat itu adalah salah satu saat dimana perasaan saya tidak ingin diganggu. "Saya harap dia tidak meminta uang kepada saya," gumam saya dalam hati.

Dan memang dia tidak memintanya kepada saya. Dia datang menghampiri saya dan duduk di trotoar. Setelah beberapa menit dia berkata : "Sungguh mobil yang sangat bagus." Memang tampangnya sangat lusuh namun dia mempunyai suatu aura harga diri yang sangat terasa di sekelilingnya. Jenggotnya yang tidak terawat tidak dapat menutupi aura kehangatan yang terpancar di wajahnya. Saya berkata, "Terima kasih", dan kembali melanjutkan membersihkan mobil saya.

Dia terus duduk di trotoar sambil terdiam saat saya melanjutkan pekerjaan saya. Kata-kata meminta uang yang saya harapkan tidak pernah keluar dari mulutnya. Saat keheningan diantara kami berdua terus berlanjut, ada suara di dalam hati saya yang berkata "Tanyakan padanya apakah dia butuh bantuan." Saya sangat yakin sekali bahwa dia akan berkata "iya" tapi saya hanya menyimpan prasangka itu di dalam hati saya.

"Apakah anda membutuhkan bantuan" tanya saya. Dia menjawah dalam empat kata sederhana namun sangat mendalam yang tidak akan pernah saya lupakan. Kita seringkali mencari kebijaksanaan dari orang-orang hebat. Kita berharap mendapatkannya dari mereka yang telah lebih banyak mengerti, lebih banyak belajar dan lebih berprestasi dari kita. Saat itu saya mengharapkan tidak lebih dari sebuah uluran tangan yang siap menerima bantuan. Namun dia menjawab dengan lima kata sederhana yang sangat membuat saya tersentak kaget.

"Tidakkah Kita Semua Butuh Bantuan?" kata orang itu.

Saat itu saya merasa tinggi dan berkuasa, sukses dan penting, dibandingkan dengan seorang gelandangan jalanan, sampai empat kata tersebut menghantam diriku seperti sebuah godam raksasa.

Tidakkah Kita Semua Butuh Bantuan?

Saya memang membutuhkan bantuan. Mungkin memang bukan untuk ongkos naik bis atau sebuah tempat membaringkan badan untuk tidur, tapi pada kenyataannya saya memang membutuhkan bantuan. Saya meraih dompet saya dan memberinya uang bukan hanya untuk ongkos naik bis, tapi juga cukup untuk membeli makanan hangat dan tempat berteduh untuk hari itu. Empat kata-kata kecil itu masih terus terngiang di telinga saya sampai saat ini. Tidak peduli seberapa banyak materi yang kita punya, tidak peduli seberapa jauh yang telah kita capai, kita juga membutuhkan bantuan. Tidak perduli sesedikit apapun materi yang kita punya, tidak perduli sebanyak apapun masalah yang kita hadapi, bahkan tanpa uang di kantong sekalipun atau tanpa punya tempat untuk tidur, kitapun tetap dapat memberikan bantuan. Walaupun hanya sekedar kata-kata pujian, terkadang itu akan sangat membantu. Bahkan terhadap seseorang yang memiliki segalanya.

Mungkin saja mereka menunggu anda untuk memberikan sesuatu yang mereka tidak miliki. Sebuah perspektif hidup yang berbeda, sekelebat hal yang indah, sebuah kelonggaran dalam menghadapi tuntutan dan kekacauan hidup, yang kebetulan hanya anda yang dapat melihatnya saat itu.

Mungkin orang tersebut hanyalah orang asing yang tidak memiliki apapun yang berkeliling di jalanan. Mungkin saja dia lebih daripada itu. Mungkin saja dia adalah seseorang yang dikirim oleh suatu kuasa yang luar biasa dan bijaksana, untuk melayani jiwa-jiwa yang terlalu nyaman dengan keadaan mereka. Mungkin Tuhan melihat ke bawah, memanggil seorang malaikat, berpenampilan seperti seorang gelandangan, dan berkata "Layanilah orang yang sedang membersihkan mobil itu, sepertinya orang itu butuh bantuan."

Tidakkah Kita Semua Butuh Bantuan?

Selasa, 06 Oktober 2009

Keteguhan Hati...

Keteguhan hati dalam menjalani hidup tak banyak dimiliki oleh kebanyakan orang, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Saat muncul banyak konsekuensi dan resiko, saat itu pula keteguhan hati kebanyakan orang mulai goyah. Berikut ini sebuah kisah luar biasa yang membuktikan bahwa keteguhan hati mampu menembus segala keterbatasan...

Di tahun 1883, seorang arsitek kreatif bernama John Roebling terinspirasi untuk membangun sebuah jembatan spektakuler yang menghubungkan kota New York dan Long Island. Namun para ahli pembuat jembatan di seluruh dunia berpikir bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan dan menyarankan John Roebling untuk melupakan ide itu. Mereka berpikir hal itu tidak mungkin dilakukan, tidak dapat dilakukan, dan belum pernah dilakukan sebelumnya.

Namun John Roebling tidak dapat menghilangkan visi yang ada dibenaknya mengenai jembatan ini. Dia memikirkannya setiap saat dan dia yakin di dalam lubuk hatinya bahwa hal itu bisa dilakukan. Dia terus berbagi mengenai mimpinya dengan banyak orang. Setelah diskusi yang cukup mendalam, dia berhasil meyakinkan anaknya Washington yang seorang insinyur, bahwa secara fakta jembatan tersebut memang dapat didirikan.

Bekerja bersama untuk pertama kalinya, sang ayah dan anak mengembangkan suatu konsep mengenai metode yang sesuai dan cara mengatasi masalah dalam pembuatan jembatan tersebut. Dengan rasa antusiasme dan inspirasi yang tinggi dalam menghadapi tantangan besar ini, mereka mulai mempekerjakan beberapa pekerja dan mulai membangun jembatan impian mereka.

Proyek ini berjalan lancar pada awalnya, namun beberapa bulan kemudian terjadi kecelakaan tragis di lokasi pembangunan yang mengambil nyawa John Roebling. Washington pun terluka di bagian otak yang mengakibatkan dirinya tidak dapat berjalan, berbicara bahkan bergerak.

"Benar kan apa kata saya?"
"Orang gila dengan mimpi mereka yang gila"
"Sungguh bodoh mengejar mimpi yang tak mungkin"

Semua orang berkomentar negatif dan berpendapat bahwa proyek tersebut harus dihentikan karena hanya John dan Washington Roebling yang paham bagaimana jembatan tersebut dapat didirikan. Walaupun Washington cacat fisik, dia tidak pernah kehilangan semangat dan tetap memiliki hasrat yang membara untuk menyelesaikan jembatan itu.

Dia mencoba untuk menginspirasi dan menyalurkan antusiasmenya kepada beberapa temannya, tetapi mereka tetap berpendapat bahwa itu adalah hal yang mustahil. Saat dia terbaring di rumah sakit, seberkas sinar matahari masuk melalui jendela, angin berhembus meniup tirai jendela dan dia dapat melihat langit dan pepohonan di luar untuk sesaat.

Saat itu juga dia merasa ada suatu dorongan dalam dirinya agar tidak menyerah. Tiba-tiba sebuah ide menghantam benaknya. Yang dapat dia lakukan adalah menggerakan satu jari, dan dia memutuskan untuk menggunakan jari tersebut sebaik-baiknya. Dengan menggerakannya, dia mengembangkan suatu kode komunikasi dengan istrinya.

Dia menyentuh lengan istrinya dengan jarinya, menandakan bahwa dia ingin memanggil para insinyur. Kemudian dia pun menggunakan metode yg sama dengan mengetuk-ngetuk lengan istrinya untuk memberitahu para insinyur mengenai apa yang harus dilakukan. Kedengarannya bodoh, namun proyek jembatan tersebut itupun akhirnya dilanjutkan kembali.

Selama 13 tahun Washington menyampaikan instruksinya dengan menyentuh dan mengetuk-ngetuk tangan istrinya, sampai akhirnya jembatan tersebut benar-benar selesai. Sampai hari ini Jembatan Brooklyn dengan segala kemegahannya yang spektakuler masih berdiri sebagai bukti kemenangan dari keteguhan hati dan kebulatan tekad untuk tidak dikalahkan oleh keadaan. Jembatan ini juga bukti kerja keras, kerja sama tim para insinyur, dan yang terutama sebagai bukti keyakinan mereka terhadap seorang pria yang dianggap setengah gila oleh dunia. Yang terakhir, jembatan ini juga sebagai bukti akan arti cinta dan pengabdian seorang istri yang dengan sabar selama 13 tahun menterjemahkan pesan suaminya kepada para insinyur mengenai apa yang harus dilakukan.

Mungkin ini adalah salah satu contoh terbaik mengenai sikap "tiada kata menyerah" yang mengatasi sebuah keterbatasan fisik dan mencapai hasil yang luar biasa.

Seringkali kita menghadapi rintangan dalam kehidupan sehari-hari, dan kelihatannya kita tidak akan mampu menghadapinya. Jembatan Brooklyn menunjukkan kepada kita bahwa impian yang kelihatannya tidak mungkin dapat diwujudkan dengan keteguhan hati dan kebulatan tekat, apapun rintangannya.

Salah satu contoh lagi mengenai keteguhan hati seseorang mampu mengatasi segala rintangan dan tantangan, walaupun hanya fiksi dari sebuah iklan, tapi sungguh membuat saya mengerti akan arti kata keteguhan hati.



Semoga cerita-cerita ini dapat menginspirasi kita untuk memiliki hati yang teguh dan tekad yang bulat dalam meraih apa yang kita cita-citakan dalam hidup ini. God Bless You all...

Senin, 05 Oktober 2009

Lapang Dada dan Kebesaran Hati, Sungguh Anugrah Tiada Ternilai...

Saya pernah mendengar bahwa lapang dada adalah salah satu kunci sukses hidup seseorang, dengan analogi ke-lapang dada-an seseorang akan meluaskan hatinya seumpama samudra luas yang akan mengecilkan arti segala sesuatu yang mencemari kesucian, kemurnian dan ketenangan samudra tadi. Sebuah pemikiran yang sangat logis, seperti dikisahkan berikut ini :

Suatu hari seorang pemuda yang sedang menghadapi masalah datang menemui Orang Bijak. Saat bertemu, si pemuda langsung menceritakan semua masalahnya. Sang Orang Bijak mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam garam lalu mengambil segelas air. Ditaburnya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya hingga tercampur merata. "Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya", kata si Orang Bijak. "Asin sekali", jawab sang pemuda. Orang Bijak itupun tersenyum, lalu mengajak pemuda ini berjalan menuju sebuah telaga. Kedua orang itu berjalan bersama dan tiba di tepi telaga yang tenang itu. Sesampainya disana, Orang Bijak itupun kembali menaburkan segenggam garam ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya. "Coba minum air dari telaga ini dan katakan bagaimana rasanya." Saat si pemuda mereguk air itu, si pemuda berkata "Segar sekali". "Apakah kamu merasakan asin di dalam air itu ?" tanya si Orang Bijak. "Tidak." sahut pemuda itu. Si Orang Bijak itu tersenyum sambil berkata : "Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasanyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan, kekecewaan, sakit hati dan kegagalan dalam hidup, hanya satu hal yang perlu kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan hidup itu. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah seperti telaga yg mampu menampung setiap kepahitan hidup, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian."

Sungguh suatu kisah yang membuka mata hati saya, menyadari bahwa melapangkan dada membuat dunia terasa luas, dan sebaliknya, mengecilkan dada membuat dunia terasa sempit, padahal kenyataannya dunia di luar sana tetaplah luas. Hope this can inspire you all, God Bless You always...

Minggu, 04 Oktober 2009

Pengampunan = Berdamai Dengan Diri Sendiri...

Suatu saat seorang guru memerintahkan kepada setiap muridnya untuk membawa kantung plastik bening. Kemudian sang guru mengeluarkan sekarung kentang dan memberikan instruksi kepada setiap muridnya untuk mengambil kentang-kentang tersebut. Sebuah kentang mewakili seseorang yang tidak dapat dimaafkan oleh para murid. Mereka memilih sebuah kentang, menuliskan nama orang yang tidak dapat mereka maafkan, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik bening tersebut. Setiap orang mengambil beberapa kentang, bahkan beberapa murid memiliki kantong plastik yang cukup berat.

Mereka diperintahkan oleh sang guru untuk membawa kantung plastik ini selama satu minggu, meletakkannya di samping tempat tidur mereka, di meja saat belajar, dan kemanapun mereka pergi beraktivitas.

Kerepotan dan rasa malu pun mulai terasa saat mereka harus memperhatikan kantung plastik ini setiap waktu, membawanya dan terus dilihat banyak orang di berbagai tempat. Kondisi kentang-kentang tersebut pun makin lama makin memburuk, mengeluarkan lendir dan bau yang tidak sedap.

Ini adalah suatu perumpamaan yang sangat tepat untuk menggambarkan harga yang harus kita bayar akibat menyimpan rasa sakit dan pahit di dalam hati. Sering kali kita berpikir bahwa pengampunan adalah anugrah untuk orang lain, padahal secara jelas pengampunan adalah anugrah untuk diri kita sendiri. Ibarat kentang-kentang tersebut, semakin banyak dan semakin lama kita menyimpan rasa dendam dan benci di dalam hati, semakin 'berlendir' dan 'bau' hati kita. Buanglah kentang-kentang tersebut, tidak ada satupun hal positif yang kita peroleh dengan mempertahankannya. Bahkan semakin lama akan terasa semakin mengganggu. Lepaskanlah pengampunan, karena dengan mengampuni orang lain kita juga berdamai dengan diri kita sendiri...