Suatu saat seorang guru memerintahkan kepada setiap muridnya untuk membawa kantung plastik bening. Kemudian sang guru mengeluarkan sekarung kentang dan memberikan instruksi kepada setiap muridnya untuk mengambil kentang-kentang tersebut. Sebuah kentang mewakili seseorang yang tidak dapat dimaafkan oleh para murid. Mereka memilih sebuah kentang, menuliskan nama orang yang tidak dapat mereka maafkan, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik bening tersebut. Setiap orang mengambil beberapa kentang, bahkan beberapa murid memiliki kantong plastik yang cukup berat.
Mereka diperintahkan oleh sang guru untuk membawa kantung plastik ini selama satu minggu, meletakkannya di samping tempat tidur mereka, di meja saat belajar, dan kemanapun mereka pergi beraktivitas.
Kerepotan dan rasa malu pun mulai terasa saat mereka harus memperhatikan kantung plastik ini setiap waktu, membawanya dan terus dilihat banyak orang di berbagai tempat. Kondisi kentang-kentang tersebut pun makin lama makin memburuk, mengeluarkan lendir dan bau yang tidak sedap.
Ini adalah suatu perumpamaan yang sangat tepat untuk menggambarkan harga yang harus kita bayar akibat menyimpan rasa sakit dan pahit di dalam hati. Sering kali kita berpikir bahwa pengampunan adalah anugrah untuk orang lain, padahal secara jelas pengampunan adalah anugrah untuk diri kita sendiri. Ibarat kentang-kentang tersebut, semakin banyak dan semakin lama kita menyimpan rasa dendam dan benci di dalam hati, semakin 'berlendir' dan 'bau' hati kita. Buanglah kentang-kentang tersebut, tidak ada satupun hal positif yang kita peroleh dengan mempertahankannya. Bahkan semakin lama akan terasa semakin mengganggu. Lepaskanlah pengampunan, karena dengan mengampuni orang lain kita juga berdamai dengan diri kita sendiri...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar