Orang sulit. Begitulah julukan bagi orang yang mudah tersinggung. Ia sering merasa diejek atau dihina, padahal orang lain tidak bermaksud apa-apa. Ketika kita berbisik-bisik, ia mengira kita membicarakannya. Saat lupa mengucapkan salam atau terlambat membalas SMS, ia pikir kita memusuhinya. Ia bagai kentang berkulit tipis. Sedikit saja tergores, sudah merasa sakit hati.
Apakah kita cepat tersinggung? Sering salah paham? Rasa sakit hati bisa membuat kita bersikap membela diri. Ingin balas melukai, padahal belum tentu orang tersebut bermaksud buruk kepada kita. Orang yang cepat tersinggung akan dijauhi orang! Sakit hati tak perlu dibalas dengan menyakiti hati orang, yang terbaik hanyalah dengan mencurahkan isi hati kepada Tuhan.
Do not give in too much to feelings. A overly sensitive heart is an unhappy possession on this shaky earth.
Merhan Karimi Nasseri, seorang warga Iran, dicabut kewarganegaraannya ketika menaiki pesawat terbang menuju Paris. Paspornyapun diambil. Tanpa bukti kewarganegaraan, setibanya di Paris ia tidak diizinkan meninggalkan bandara. Selama sebelas tahun ia tinggal di Terminal 1; mandi di toilet bandara, dan hidup dari bantuan staff bandara. Pada tahun 1999, pemerintah Prancis akhirnya memberinya izin untuk tinggal dan bekerja. Sekarang ia bebas pergi kemana pun. Anehnya, ia memilih tetap tinggal di bandara - sudah telanjur betah. Setelah dibujuk beberapa hari, barulah ia mau pergi.
Sebuah bandara, sebesar dan sebagus apa pun, bukan rumah. Begitu juga dunia ini bukan rumah sejati kita. Kita tinggal di dunia hanya sementara. Oleh karena itu jangan sampai kita terlalu lekat dengan daya tarik dan kenikmatannya. Gaya hidup yang masih mementingkan perkara duniawi; mengejar hanya soal makanan, kenikmatan, kemewahan, kehormatan, dan keuntungan. Sebagai warga surga, cara hidup kita seharusnya berbeda - mengejar hal yang bernilai kekal, seperti kasih, keadilan dan kebenaran.
Orang yang terlalu lekat pada dunia akan takut meninggalkan dunia ini apabila saatnya tiba. Segala hal yang telah telanjur digenggam erat biasanya sangat sulit dilepaskan. Maka, bersyukurlah jika terkadang Tuhan mengizinkan kita mengalami kehilangan, baik benda, kuasa, maupun kekasih tercinta. Semuanya menyadarkan bahwa dunia bukan rumah kita. Semuanya fana dan akan lenyap.
"Saat Hati Terpikat oleh Silaunya Dunia, Surga Tidak Lagi Tampak Mempesona"
Alkisah ada tiga pengembara, yang dalam perjalanannya singgah di sebuah kota. Warga kota itu tak pernah bergembira, sebab hidup mereka sangat mementingkan diri sendiri. Mereka mengerjakan segala sesuatu sendiri dan untuk dirinya sendiri. Selain itu mereka suka mencurigai semua orang, termasuk kepada tiga pengembara kelaparan yang duduk di tengah alun-alun kota itu.
Tiga pengembara itu membuat api lalu merebus sebuah batu. “Apa yang kaubuat?” tanya seorang anak yang lewat. “Kami membuat sup batu yang sangat enak,” kata si pengembara, “tetapi akan jauh lebih enak jika ditambah sesiung kecil bawang,” lanjutnya. Anak itu pun berlari dan mengambilkan bawang. Orang-orang kota itu mulai penasaran. Mereka mengintip dan menengok satu per satu. “Sup ini akan jauh lebih enak jika ditambah wortel dan tomat. Seiris kecil daging juga membuat rasanya jauh lebih baik.” Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mereka membawakan satu per satu bahan yang disebut para pengembara. Alhasil, jadilah sup yang enak dan penduduk kota itupun turut menikmatinya. Untuk pertama kalinya penduduk kota itu meniadakan rasa curiga dan mengalami indahnya hidup berbagi dalam kebersamaan.
Betapa indahnya apabila kita hidup bersama dengan rukun. Tidak hanya tinggal bersama-sama, tetapi saling menerima dan saling berbagi dalam kasih. Hidup rukun tanpa prasangka yang menghalangi interaksi dengan sesama.
"Orang yang Selalu Menaruh Curiga Membatasi Dirinya Untuk Bahagia"
Sejak ditinggal mati suaminya, Desi kehilangan semangat hidup. Ia tidak lagi tertarik untuk berolahraga atau merawat tubuh seperti dulu. Ia selalu berpikir, “Nanti jika situasinya sudah kembali normal, aku akan berolahraga lagi.” Tiga tahun berlalu dan Desi merasa situasinya belum berubah. Tiba-tiba ia tersadar, ”Jika aku tidak mulai berusaha melakukan apa yang masih bisa kulakukan, situasi tidak akan kembali menjadi normal!” Ia pun memutuskan untuk kembali beraktivitas, lalu semua menjadi normal lagi.
Situasi yang kita hadapi kerap kali tidaklah ideal. Tidak normal. Investasi yang kita tanam belum tentu langsung membuahkan hasil. Pemberian kita kepada orang lain belum tentu bisa menolongnya keluar dari musibah. Cuaca dan arah angin hari ini mungkin tidak ideal untuk menabur benih. Apa pun yang kita lakukan selalu punya risiko untuk gagal. Namun, jauh lebih baik kita berusaha berbuat sesuatu ketimbang terus menunggu situasi hingga menjadi ideal. Jika kita selalu menanti ”saat yang tepat” untuk bertindak, kita akan menunggu selamanya tanpa hasil apapun! Lebih baik kalah setelah mencoba, daripada menyerah sebelum berusaha.
Apakah Anda merasa beban persoalan membuat hidup Anda menjadi ”tidak normal”? Jangan menunggu semuanya menjadi normal kembali. Bisa jadi Anda tidak akan pernah bisa mengalami hidup seperti dulu. Pengalaman hidup kerap mengubah diri dan lingkungan kita. Jadi, lebih baik lakukan saja apa yang bisa Anda lakukan hari ini. Carilah ”rasa normal” yang baru...
Situasi hidup kita selalu normal saat kita berusaha menjalaninya dengan normal
Sebuah Kisah Yang Mengharukan Mengenai Pengampunan.
Bayangkan bagaimana rasanya berada di dalam kendaraan Anda, menyetir mobil dengan perasaan tenang dan damai, dan kemudian mendadak sesuatu yang keras menghantam dan memecahkan kaca mobil depan Anda, menghantam Anda dan meremukkan hampir semua tulang di wajah Anda. Dan ternyata "senjata" yang menghantam Anda itu adalah sebuah kalkun beku, dihempaskan dari jendela belakang sebuah mobil yang sedang mengebut dikendarai oleh seorang mahasiswa dalam perjalanan ugal-ugalan dengan teman-temannya.
Hal inilah yang terjadi pada Victoria Ruvolo, seorang manajer berusia 44 tahun, pada sebuah jalan pada bagian Timur kota Riverhead di Long Island. Dia bisa saja terbunuh, dan bisa saja mengalami kerusakan otak. Para ahli bedah harus memperbaiki wajahnya menggunakan pelat logam dan baut. Namun secara luar biasa, dia sembuh dan dalam beberapa bulan dia pulih dan kembali bekerja.
Tapi itu bukan cerita yang ingin dissampaikan. Yang terjadi pada bulan Agustus di persidangan inilah yang menjadikan cerita ini sebuah kisah yang perlu diingat. Bocah yang melempar kalkun tersebut, Ryan Crushing berusia 19 tahun dan menderita gangguan penglihatan, didakwa atas serangan tingkat pertama dan menghadapi hukuman maksimal 25 tahun penjara. Dan kemudian Ruvolo pun masuk ke ruang sidang.
Saya belajar bahwa pengampunan dimulai dengan melepaskan kemarahan kita. Saat hal itu telah dilakukan, kebebasan hadir kembali dalam diri kita. Kita dapat melanjutkan ke tahap berikutnya dari pengampunan,yaitu mendoakan mereka yang telah menyakiti kita dan menyadari bahwa insan ini juga ciptaan Tuhan.
Dia melihat Crushing pertama kali saat di luar ruang sidang. Sang pemuda berhenti, tersedak dan menangis sambil berusaha untuk meminta maaf kepada perempuan malang itu.
"Dalam beberapa menit yang sangat emosional, Ruvolo justru merangkul pemuda itu dengan erat, mengelus wajahnya dan menepuk pundak pemuda itu saat dia terisak tak terkendali," tulis seorang reporter New York Times. Saat sang pemuda terus menerus berkata, "Saya minta maaf, saya sungguh-sungguh tidak bermaksud menyakiti Anda," sang wanita yang bisa saja terbunuh menjawab berulang kali, "Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Saya hanya ingin kamu menjalani hidupmu sebaik mungkin."
Kemudian, dengan desakan Ruvolo, penuntut setuju untuk menurunkan masa hukuman Crushing sehingga dia hanya mendekam enam bulan di penjara dan lima tahun masa percobaan, bukan 25 tahun kurungan.
Sang penuntut yang sudah menjalani profesinya selama 30 tahun berkata "Saya tidak pernah melihat seorang korban yang begitu pemaaf."
Begitu banyak kisah dan tulisan yang telah ada mengenai pengampunan. Saya sendiri telah berusaha untuk mendedikasikan waktu dan kata-kata untuk membagikan proses yang harus saya lewati agar dapat memaafkan orang-orang yang begitu kejam dalam hidup saya. Jika saya ditanya : Apakah pengampunan memungkinkan bagi orang yang menghancurkan hidup Anda? Memang butuh waktu, tapi bila tiba saatnya saya akan menjawab ya.
Pada saat-saat mencari pengampunan saya menyadari hal apa yang membuat pengampunan menjadi sangat sulit. Kemarahan.
Saat saya melihat cahaya dan kebenaran dari apa yang dapat dilakukan rasa marah terhadap diri saya, seketika itu juga saya menggarisbawahi kebutuhan saya untuk sebuah pengampunan. Saya merelakan niat dan kemampuan untuk mengejar prinsip yang populer tapi palsu bahwa kita dibenarkan untuk "membalas dendam."
Dan disinilah saya belajar bahwa pengampunan dimulai dengan melepaskan kemarahan kita. Saat hal itu telah dilakukan, kebebasan hadir kembali dalam diri kita. Kita dapat melanjutkan ke tahap berikutnya dari pengampunan,yaitu mendoakan mereka yang telah menyakiti kita dan menyadari bahwa insan ini juga ciptaan Tuhan.
Saya rasa hal ini jugalah yang dipercayai oleh Ruvolo.
New York Times juga menulis sebuah editorial mengenai Ruvolo, berjudul "Sebuah Momen Anugrah." Kata-kata yang tertulis di dalamnya sungguh mengharukan :
"Diberikan kesempatan untuk mendapatkan keadilan, Nona Ruvolo justru memberi dan mendapat sesuatu yang lebih baik : penghapusan kemarahan dan pemulihan harapan, sebuah sikap penyembuhan yang membersihkan bagaikan air matanya yang membasuh wajahnya yang rusak dan wajah sang bocah bodoh yang menyedihkan, dimana hidup pemuda tersebut dipulihkan oleh Nona Ruvolo seorang diri."
Sebuah anugrah luar biasa yang diberikan oleh Victoria Ruvolo...
Begitu banyak video yang telah diposting mengenai pengampunan dan memaafkan.
Saya berharap tulisan dan beberapa video ini dapat membantu kita untuk dapat memaafkan dan mengampuni. Maukah Anda dan Saya terbebas dari beban yang selama ini menghantui hidup kita hanya dengan satu tindakan - Mengampuni?
“To forgive is the highest, most beautiful form of love. In return, you will receive untold peace and happiness” - Robert Muller
Kata bersyukur memiliki beberapa arti. Yang pertama adalah untuk berterima kasih atau menunjukkan rasa syukur. Arti lainnya adalah untuk menaikkan atau meningkatkan nilai sesuatu, misalnya menghargai waktu sebagai investasi yang berharga. Saya merasa dengan menghargai dan bersyukur, nilai dari hal-hal yang kita miliki dan kita inginkan dalam hidup kita juga akan meningkat.
Dalam hidup kita yang penuh hiruk-pikuk dan serba cepat, sangatlah mudah bagi kita untuk melupakan banyak hal yang seharusnya kita syukuri. Kita cenderung mengejar prestasi, dan menjadi orang yang berorientasi pada hasil.
Dan tidak ada yang salah dengan hal itu.
Walaupun demikian, sangatlah vital dan penting bagi kita untuk tidak kehilangan pandangan pada hal-hal yang jelas-jelas ada di dekat kita, hal-hal yang seringkali kita anggap sepele.
Apa yang kita fokuskan akan berkembang. Jika kita fokus pada masalah-masalah dalam hidup kita, mereka cenderung akan bertambah sulit. Jika kita fokus pada hal-hal baik yang telah kita miliki, hal ini juga, memiliki kecenderungan untuk bertumbuh.
Saya melihat hal ini sebagai bentuk lain dari doa. Jika kita kuatir dan resah oleh berbagai masalah, kita menjadikan masalah-masalah itu bertambah besar dari keadaan sesungguhnya, dan hal ini bagaikan magnet yang akan menambah masalah-masalah itu menjadi benar-benar besar. Hal ini bagaikan sebuah doa negatif... sebuah doa yang terbalik.
Berfokus pada apa yang kita PUNYA dan apa yang kita INGINI, mulai menghargai hal-hal ini - dan mereka akan benar-benar bertumbuh.
Sesaat sebelum pergi tidur setiap malam, saya dan istri saya berbagi setidaknya tiga hal yang patut kita syukuri. Kami menyebutnya sebagai ritual "Bersyukur." Hanya perlu beberapa saat, tapi ritual ini mengalihkan pikiran kami pada hal-hal yang baik... pada hal-hal yang kami harapkan untuk bertambah dan bertumbuh dalam hidup kami.
Saya menyarankan untuk melakukan perenungan secara sadar atas berkat-berkat yang Anda terima tiap-tiap hari daripada melakukannya dalam periode per tahun. Jika Anda melakukannya, Anda akan merasakan bagaimana hal-hal ini lebih nyata hadir - tidak hanya hadir, tetapi juga bertumbuh - dalam hidup Anda.
"Jika Anda belajar untuk lebih menghargai terhadap hal-hal yang telah Anda miliki, Anda akan menyadari ternyata Anda memiliki lebih banyak hal yang patut Anda syukuri." - Michael Angier.
Sungguh luar biasa saat kita menyadari begitu banyak hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Pernahkah terpikir oleh Anda untuk membuat jurnal harian untuk hal-hal yang patut Anda syukuri? Mungkin pernah terbersit di benak Anda, tapi seringkali kesibukan membuat kita lupa untuk tetap konsisten dalam membuat jurnal ini. Mungkin situs ini dapat membantu, sebuah situs bertema 356 Days of Being Grateful (365 Hari Dengan Bersyukur).
When you’re grateful, that allows God to do great things in your life - Joel Osteen
Kawan saya, suami-istri pemilik warung makan sederhana, mengatur keuangan mereka secara menarik. Setiap hari mereka menyisihkan penghasilan ke dalam beberapa kaleng menurut keperluan-keperluan tertentu. Dengan cara itu, mereka berhasil mencicil sepeda motor selama dua tahun, dan kini masih aktif membayar premi asuransi pendidikan untuk kedua anak mereka. Apa kunci mereka dalam berdisiplin mengelola keuangan? “Tidak sering jalan-jalan,” kata sang istri. "Kenapa begitu?" “Kalau sering jalan-jalan, kan banyak yang dilihat. Kalau banyak yang dilihat, banyak juga yang diinginkan,” jelasnya.
Keinginan memang ada dalam diri setiap manusia. Sesuatu yang masih tersimpan di dalam hati; belum terwujud menjadi tindakan - tetapi, mengapa dilarang? Memangnya ada yang salah dengan keinginan? Apakah manusia tidak boleh memiliki keinginan? Tentu tidak. Yang terpenting adalah mengendalikan keinginan. Tidak semua hal perlu diinginkan. Keinginan ada yang patut dan ada yang tidak patut; mesti dipilah dan dipilih mana yang sesuai dengan situasi dan kondisi.
Meskipun masih di dalam hati, keinginan yang tidak terkendali menjadikan kita rentan terhadap pencobaan. Daripada mengumbar keinginan, marilah kita belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Belajar untuk bersyukur atas apa yang sudah kita miliki; berkat yang sudah disediakan Tuhan untuk kita. Dengan begitu, kita akan menggunakan berkat tersebut secara efektif. Kita tidak menghambur-hamburkannya untuk keinginan yang sia-sia, tetapi memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermakna.
Keinginan yang tidak dikendalikan akan berbalik mengendalikan kita.
Akhir April lalu terjadi peristiwa tragis. Hugo Tale Yax, seorang gelandangan, tertikam senjata tajam karena menolong seorang perempuan yang dirampok. Saat ia sekarat di tepi jalan selama dua jam, tak seorang pun peduli untuk menolongnya walaupun banyak orang lalu lalang. Ada yang memotret, memperhatikan, juga mencoba mengangkatnya dari genangan darah, tetapi kemudian tetap ditinggalkan. Ironisnya, peristiwa ini terjadi di New York di mana kantor pusat PBB yang mengurus masalah kemanusiaan berada. Akhirnya polisi menemukan gelandangan baik hati itu telah menjadi mayat. Jangan kaget apabila ketidakpedulian telah menjadi hal yang lumrah pada jaman sekarang.
Pada zaman modern di mana tingkat persaingan makin tinggi, ketika hati manusia semakin dingin dan lebih mencintai dirinya sendiri, kita dipanggil untuk mendemonstrasikan kasih kepada sesama dalam tindakan nyata. Kepedulian memang tidak menghentikan kejahatan, tetapi bisa memberi kesempatan kepada mereka yang terkapar sebagai “korban ketakpedulian” untuk tetap hidup dan berjuang dengan penuh harapan.
Jangan biarkan kepedulian punah dalam hidup ini...
Salah satu kenangan yang teringat di benak saya adalah saat saya berada di sungai dan duduk di tepiannya. Di sana saya menikmati kedamaian dan kesunyian, memandangi air yang mengalir turun, mendengarkan kicauan burun dan suara dedaunan dari pohon-pohon di sekitar. Saya juga mengamati pohon-pohon bambu yang bengkok akibat tekanan udara yang kuat dan secara anggun mereka kembali ke posisi tegak setelah angin yang menerpa mereka berlalu.
Ketika saya memikirkan kemampuan pohon bambu tersebut yang dapat memantulkan tekanan atau kembali ke posisi semula, kata ketahanan datang dalam pikiran saya. Bila digunakan sebagai acuan untuk seseorang kata ini berarti kemampuan untuk segera pulih dari goncangan, depresi atau situasi apapun yang menekan batas diri seseorang.
Apakah Anda pernah merasa seperti akan patah? Apakah Anda pernah merasa seperti berada di titik puncak daya tahan Anda? Bersyukurlah karena Anda mampu bertahan dalam menghadapi pengalaman itu dan tetap hidup untuk membagikannya kepada yang membutuhkan. Selama pengalaman itu mungkin Anda merasa merasakan berbagai perasaan bercampur aduk dan kesehatan fisik Anda terganggu. Anda secara emosional kering, lelah secara mental dan bukan tidak mungkin mengalami gejala-gejala gangguan kesehatan fisik yang tidak menyenangkan.
Hidup adalah kombinasi dari saat-saat indah dan saat-saat buruk, momen-momen bahagia dan momen-momen tidak bahagia. Bila Anda mengalami saat-saat buruk atau momen-momen tidak bahagia yang membawa Anda pada titik patah, bengkoklah, tapi jangan patah. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak dikuasai oleh situasi.
Sebuah sikap penuh pengharapan akan membantu Anda menghadapi masa-masa tidak menyenangkan ini. Dengan harapan untuk hari esok yang lebih baik atau situasi yang lebih baik, keadaan jadi terlihat lebih ringan dari sebelumnya. Siksaan yang Anda hadapi akan lebih mudah dihadapi dengan melihat hasil akhir yang akan Anda dapatkan.
Jika keadaan menjadi buruk dan Anda pada titik patah Anda, tunjukkan ketahanan. Seperti pohon bambu, bengkok, tapi jangan sampai patah!
Selama 45 tahun, Ken Karpman hidup nyaris dalam kesempurnaan. Ia lulus dari salah satu universitas terbaik di Amerika dan menikah dengan gadis impiannya. Kariernya sebagai pialang saham terus menanjak dan memberinya penghasilan hingga Rp8,8 miliar per tahun. Lalu tibalah saat itu. Tahun 2008 resesi menghantam perekonomian Amerika. Hidup Karpman pun “terjun bebas” dalam sekejap. Ia kehilangan pekerjaan, tabungan, dan hartanya.
Untuk menghidupi keluarganya, Karpman mengambil langkah drastis. Ia melamar pekerjaan sebagai pengantar pizza dengan penghasilan yang amat pas-pasan, bahkan untuk orang kebanyakan. Kehidupannya pun berubah 180 derajat, tetapi ia tidak menyesalinya, “Ini hanya sebuah proses. Saya mensyukuri tiap sen yang saya dapat. Ada pelajaran berharga dari setiap potong pizza yang saya antar, yaitu kerendahan hati.”
Hidup di dunia ini memang serba tidak pasti. Apa yang ada kini, bisa tiba-tiba hilang tak berbekas. Hari ini kita berhasil, besok gagal. Usaha yang semula maju mendadak bangkrut. Kita semula sehat, tiba-tiba sakit. Namun, tak usah khawatir. Sejauh kita berjalan bersamaNya, semua itu tak akan “melumpuhkan” kita. Bersama Yang Kuasa, kita siap menghadapi perubahan apa pun yang terjadi.
"Roda kehidupan selalu berubah, terkadang di atas, terkadang di bawah. Tetapi ingat kasih setia-Nya tidak pernah berubah."