Hari ini saya menemui pengalaman lucu, tapi sekaligus menjadi pelajaran buat kita semua. Saat duduk di sebuah kafe, sambil menunggu rekan-rekan untuk ngopi bersama. Saat kami duduk-duduk memesan minuman, sang pelayan melayani kami dengan ramah dan sopan. Tak lama kemudian datang seorang pemuda separuh baya, duduk sambil mengeluarkan rokoknya. Sambil membaca koran, beliau menunggu pelayan melayani dia untuk mendapatkan pesanannya. Yang mengherankan, pelayan yang sama dengan pelayan yang melayani kami memperlakukan orang tersebut dengan acuh tak acuh, boleh dibilang sambil lalu saja. Sungguh suatu sikap yang kontras, dimana pelayan tersebut melayani kami dengan sikap yang sangat ramah dan bersahabat, sedangkan pelayanannya terhadap pemuda tersebut sangatlah acuh tak acuh. Melihat notebook-notebook bertebaran di atas meja, handphone-handphone dan blackberry tergeletak di meja kami membuat sang pelayan semakin ramah melayani kami, sedangkan sang pemuda yang hanya membaca koran mengalami perlakuan yang berbeda, bahkan boleh dibilang sangat berbeda dengan perlakuan yang kami terima.
Apakah pantas seseorang dibedakan karena penampilan luarnya? Haruskah kita membedakan antara orang-orang berdasi dengan orang yang hanya mengenakan cenala jeans, kaos belel, dan sendal jepit? Apakah karena seseorang memiliki gadget, menggendong tas notebook, menenteng blackberry pantas dibedakan dengan seseorang yang hanya menggulung koran di tangannya? Kalau memang harus dibedakan, alangkah kejamnya dunia ini, sehingga hanya orang-orang berduit saja yang layak mendapatkan rasa segan dan hormat dari dunia ini.
Ada satu pepatah yang selalu saya ingat sampai saat ini : "Kita dilahirkan ke dunia ini tanpa membawa apa-apa, demikian pula kita meninggalkan dunia ini tidak membawa apa-apa". Sadarilah bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan Yang Diatas. Kalau kita memiliki lebih dari orang lain, bersyukurlah, karena Tuhan mempercayakan kita hal yang lebih dari orang lain. Tapi tetaplah sadari, segala kelebihan itu hanyalah titipan Tuhan, bukan milik kita. Kalau Tuhan saja tidak membedakan umatNya berdasarkan materi, apalah hak kita sebagai manusia untuk membeda-bedakannya?
Don't Judge A Book Book By Its Cover, jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja. Mereka juga manusia, yang memiliki kelebihan. Mungkin sebagian orang memiliki kekayaan materi dalam hidupnya, tapi bukan berarti orang yang tidak memilikinya berarti tidak memiliki apa-apa dalam hidupnya. Banyak hal yang lebih bernilai selain materi, seperti kekayaan mental dan akhlak, yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang pada zaman sekarang ini. Marilah kita bersama-sama belajar, bahwa manusia di mata Tuhan sama, dan Beliau tidak membeda-bedakan satu sama lain. Kalau Sang Pencipta saja berlaku adil terhadap umatNya, apalah hak kita yang sekedar manusia biasa untuk membeda-bedakan satu sama lain? God Bless You all...
Sabtu, 03 Oktober 2009
Jumat, 02 Oktober 2009
Bersyukur Atas Apa Yang Kita Punya...
Sungguh pagi yang indah, nongkrong di tempat kopi ngobrol-ngobrol sama teman-teman sambil menyeruput secangkir kopi hangat. Sebelumnya, saya sempat "ngedumel" pagi2 karena pemadaman bergilir PLN sampai ke tempat saya. Hari tanpa listrik, internet, ac, dan segala teknologi. Tapi kemudian saya berpikir, daripada saya membuang-buang energi mengeluh, lebih baik mencari jalan keluar bagaimana caranya agar hari ini dapat dijalani dengan lebih happy dan cheerful. Akhirnya sampailah saya pada satu solusi, pergi ke mall, sambil reunian dengan teman-teman yang senasib dengan saya yang mengalami pemadaman bergilir PLN.
Andaikan tidak terjadi mati lampu, mungkin tidak akan pernah ada yang namanya acara ngumpul bareng teman-teman lama bareng di mall. Andaikan listrik nyala, pasti semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tidak akan ada yang namanya reunian seperti hari ini. Disinilah saya akhirnya merasakan arti kata bersyukur, karena dibalik semua masalah pasti ada hikmahnya.
Bicara soal rasa syukur, saya teringat dengan satu cerita. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.
Cobalah melihat dari sudut pandang lain. Kita yang mengalami pemadaman listrik masih bisa melakukan hal lain yang positif, dan tetap bahagia. Bayangkan para orang yang tinggal di pedalaman, dimana setiap hari mereka tidak memiliki listrik, bahkan tidak memiliki jalur komunikasi. Alangkah beruntungnya kita tinggal di kota besar, masih memiliki semua itu, walaupun terkadang masih saja ada pemadaman bergilir seperti yang terjadi sekarang-sekarang ini. Toh tanpa listrik di rumah kita masih bisa pergi ke luar dan melakukan hal-hal lain yang positif bukan? Syukurilah dengan apa yang kita miliki saat ini, buatlah hidup ini lebih berarti dengan rasa syukur, daripada dipenuhi dengan rasa dongkol dan keluhan. God Bless You all...
Andaikan tidak terjadi mati lampu, mungkin tidak akan pernah ada yang namanya acara ngumpul bareng teman-teman lama bareng di mall. Andaikan listrik nyala, pasti semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tidak akan ada yang namanya reunian seperti hari ini. Disinilah saya akhirnya merasakan arti kata bersyukur, karena dibalik semua masalah pasti ada hikmahnya.
Bicara soal rasa syukur, saya teringat dengan satu cerita. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.
Cobalah melihat dari sudut pandang lain. Kita yang mengalami pemadaman listrik masih bisa melakukan hal lain yang positif, dan tetap bahagia. Bayangkan para orang yang tinggal di pedalaman, dimana setiap hari mereka tidak memiliki listrik, bahkan tidak memiliki jalur komunikasi. Alangkah beruntungnya kita tinggal di kota besar, masih memiliki semua itu, walaupun terkadang masih saja ada pemadaman bergilir seperti yang terjadi sekarang-sekarang ini. Toh tanpa listrik di rumah kita masih bisa pergi ke luar dan melakukan hal-hal lain yang positif bukan? Syukurilah dengan apa yang kita miliki saat ini, buatlah hidup ini lebih berarti dengan rasa syukur, daripada dipenuhi dengan rasa dongkol dan keluhan. God Bless You all...
Kamis, 01 Oktober 2009
Iri Hati, Sangat-Sangat Merusak...
Pernah dengar istilah "Sirik tanda tak mampu" dan "Senang melihat orang susah, Susah melihat orang senang"? Saya sering mendengarnya, dan bahkan sering sekali melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya kenapa orang harus iri hati? Berikut definisi dari iri (envy) yang saya kutip dari wikipedia :
Envy (also called invidiousness) may be defined as an emotion that "occurs when a person lacks another’s (perceived) superior quality, achievement, or possession and either desires it or wishes that the other lacked it." It can also derive from a sense of low self-esteem that results from an upward social comparison threatening a person's self image: another person has something that the envier considers to be important to have. If the other person is perceived to be similar to the envier, the aroused envy will be particularly intense, because it signals to the envier that it just as well could have been he or she who had the desired object.
Jadi lebih kurang kalo diartikan ke Bahasa Indonesia iri hati adalah suatu emosi yang muncul saat seseorang memiliki kekurangan kualitas, prestasi atau kepemilikan dari sesuatu, dan berlanjut pada tahap mengingini atau berharap untuk memilikinya. Iri hati juga bisa timbul akibat perasaan rendah diri, sehingga citra dirinya terancam.
Membahas soal iri hati, saya jadi teringat dengan kepiting. Pernah lihat banyak kepiting dalam satu panci/wadah? Mereka berusaha untuk memanjat dinding wadah tersebut untuk keluar, tetapi kepiting-kepiting lain akan menariknya kembali ke dalam wadah tersebut sehingga satupun tidak dapat keluar. Melihat ini, saya berpikir, sungguh malang kepiting-kepiting tersebut. Andaikan mereka tidak menarik dan menjegal satu sama lain, mungkin mereka akan selamat dan tidak berakhir dimasak bersama-sama dalam satu panci.
Iri hati selain merusak pikiran dan jiwa, ternyata juga berdampak terhadap kesehatan fisik manusia. Merusak perasaan menjadi tidak tentram, tidak tenang, bahkan merubah sifat menjadi pemarah. Juga keseimbangan fisik terganggu akibat ketidak-harmonisan elemen dalam tubuh akibat denyut jantung yang lebih cepat, ketidak-seimbangan hormon/enzim dalam tubuh, dll. Bahkan saya pernah membaca, kalau orang iri hati itu sangat sulit untuk menurunkan berat badan (makanya buat yang lagi program diet, jangan ada iri hati yah hehehe).
Bicara tentang iri hati, saya pernah mendengar suatu prinsip yang cukup bagus yang mungkin bisa membantu kita menghilangkan rasa iri di dalam hati kita. Kira-kira begini :
"Tuhan selalu adil dalam segala hal. Dia tidak pernah membeda-bedakan umatNya. Berkat dan rejeki yang dicurahkan kepada setiap orang adalah sama, tidak berbeda sedikitpun. Yang membedakan adalah penampungnya, yaitu diri kita sendiri. Apakah kita sebuah panci, sebuah mangkuk, sebuah gelas, ataukah diri kita hanya sebuah sendok. Semakin besar penampungnya, semakin besar berkat dan rejeki yang bisa kita terima. Tapi andaikan diri kita hanya sebatas sendok, sesuai dengan kapasitas sendok itulah berkat yang dapat kita tampung."
Merenungi prinsip diatas, saya memahami bahwa daripada iri hati terhadap orang lain, alangkah baiknya kalau saya memperbesar kapasitas diri saya terlebih dahulu. Bicara kapasitas, bisa menyangkut banyak aspek, silahkan Anda menilai sendiri apa yang dimaksud dengan kapasitas itu.
Alangkah bahagianya hidup kalau kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Marilah bersama-sama kita menghilangkan kebiasaan buruk iri hati yang sangat-sangat merusak tubuh dan jiwa. Hope this can inspire you all, God bless you all...
Envy (also called invidiousness) may be defined as an emotion that "occurs when a person lacks another’s (perceived) superior quality, achievement, or possession and either desires it or wishes that the other lacked it." It can also derive from a sense of low self-esteem that results from an upward social comparison threatening a person's self image: another person has something that the envier considers to be important to have. If the other person is perceived to be similar to the envier, the aroused envy will be particularly intense, because it signals to the envier that it just as well could have been he or she who had the desired object.
Jadi lebih kurang kalo diartikan ke Bahasa Indonesia iri hati adalah suatu emosi yang muncul saat seseorang memiliki kekurangan kualitas, prestasi atau kepemilikan dari sesuatu, dan berlanjut pada tahap mengingini atau berharap untuk memilikinya. Iri hati juga bisa timbul akibat perasaan rendah diri, sehingga citra dirinya terancam.
Membahas soal iri hati, saya jadi teringat dengan kepiting. Pernah lihat banyak kepiting dalam satu panci/wadah? Mereka berusaha untuk memanjat dinding wadah tersebut untuk keluar, tetapi kepiting-kepiting lain akan menariknya kembali ke dalam wadah tersebut sehingga satupun tidak dapat keluar. Melihat ini, saya berpikir, sungguh malang kepiting-kepiting tersebut. Andaikan mereka tidak menarik dan menjegal satu sama lain, mungkin mereka akan selamat dan tidak berakhir dimasak bersama-sama dalam satu panci.
Iri hati selain merusak pikiran dan jiwa, ternyata juga berdampak terhadap kesehatan fisik manusia. Merusak perasaan menjadi tidak tentram, tidak tenang, bahkan merubah sifat menjadi pemarah. Juga keseimbangan fisik terganggu akibat ketidak-harmonisan elemen dalam tubuh akibat denyut jantung yang lebih cepat, ketidak-seimbangan hormon/enzim dalam tubuh, dll. Bahkan saya pernah membaca, kalau orang iri hati itu sangat sulit untuk menurunkan berat badan (makanya buat yang lagi program diet, jangan ada iri hati yah hehehe).
Bicara tentang iri hati, saya pernah mendengar suatu prinsip yang cukup bagus yang mungkin bisa membantu kita menghilangkan rasa iri di dalam hati kita. Kira-kira begini :
"Tuhan selalu adil dalam segala hal. Dia tidak pernah membeda-bedakan umatNya. Berkat dan rejeki yang dicurahkan kepada setiap orang adalah sama, tidak berbeda sedikitpun. Yang membedakan adalah penampungnya, yaitu diri kita sendiri. Apakah kita sebuah panci, sebuah mangkuk, sebuah gelas, ataukah diri kita hanya sebuah sendok. Semakin besar penampungnya, semakin besar berkat dan rejeki yang bisa kita terima. Tapi andaikan diri kita hanya sebatas sendok, sesuai dengan kapasitas sendok itulah berkat yang dapat kita tampung."
Merenungi prinsip diatas, saya memahami bahwa daripada iri hati terhadap orang lain, alangkah baiknya kalau saya memperbesar kapasitas diri saya terlebih dahulu. Bicara kapasitas, bisa menyangkut banyak aspek, silahkan Anda menilai sendiri apa yang dimaksud dengan kapasitas itu.
Alangkah bahagianya hidup kalau kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Marilah bersama-sama kita menghilangkan kebiasaan buruk iri hati yang sangat-sangat merusak tubuh dan jiwa. Hope this can inspire you all, God bless you all...
Rabu, 30 September 2009
Ibunda, Kenapa Engkau Menangis?
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa ibu menangis?" Ibunya menjawab, "Sebab ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti," kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti..."
Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas." Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Tuhan, mengapa wanita mudah sekali menangis?" Dalam mimpinya, Tuhanpun menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat istimewa.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia beserta isinya, namun juga harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walaupun seringkali ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi apapun dan dalam situasi apapun, walaupun tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya, walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan."
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu saat beliau masih hidup. Jadikan diri kita berbakti kepada orang tua, terutama pada Ibu yang berusah payah melahirkan dan membesarkan kita. Jangan tunda lagi, lakukan selagi ada kesempatan...
Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas." Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Tuhan, mengapa wanita mudah sekali menangis?" Dalam mimpinya, Tuhanpun menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat istimewa.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia beserta isinya, namun juga harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walaupun seringkali ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi apapun dan dalam situasi apapun, walaupun tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya, walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan."
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu saat beliau masih hidup. Jadikan diri kita berbakti kepada orang tua, terutama pada Ibu yang berusah payah melahirkan dan membesarkan kita. Jangan tunda lagi, lakukan selagi ada kesempatan...
Selasa, 29 September 2009
Semua Adalah Antara Engkau Dengan Tuhan
Saya pernah membaca sebuah puisi yang sangat indah dan sempat saya simpan di dalam catatan saya, namun saya lupa siapa yang menuliskannya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap sang penulis orisinil, saya mohon ijin untuk membagikan rangkaian kata-kata penuh inspirasi ini agar dapat menjadi berkat bagi banyak orang :
Orang-orang seringkali tak bernalar, tak logis dan egois.
Meski demikian, maafkanlah mereka.
Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois.
Meski demikian, tetaplah bersikap baik.
Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu.
Meski demikian, tetaplah jujur dan berterus terang.
Bila engkau sukses, mungkin engkau akan mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati.
Meski demikian, tetaplah meraih sukses.
Apa yang engkau bangun sekian lama, mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam.
Meski demikian, tetaplah membangun.
Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri hati dan dengki.
Meski demikian, tetaplah berbahagia dan temukan kedamaian hati.
Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya.
Meski demikian, tetaplah lakukan kebaikan.
Berikan milikmu yang terbaik pada dunia dan mungkin itu tak akan pernah cukup.
Meski demikian, berikan milikmu yang terbaik pada dunia.
Ketahuilah, pada akhirnya …
Sesungguhnya ini semua adalah masalah antara engkau dengan Tuhan.
Tidak akan pernah menjadi masalah antara engkau dengan mereka.
Orang-orang seringkali tak bernalar, tak logis dan egois.
Meski demikian, maafkanlah mereka.
Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois.
Meski demikian, tetaplah bersikap baik.
Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu.
Meski demikian, tetaplah jujur dan berterus terang.
Bila engkau sukses, mungkin engkau akan mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati.
Meski demikian, tetaplah meraih sukses.
Apa yang engkau bangun sekian lama, mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam.
Meski demikian, tetaplah membangun.
Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri hati dan dengki.
Meski demikian, tetaplah berbahagia dan temukan kedamaian hati.
Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya.
Meski demikian, tetaplah lakukan kebaikan.
Berikan milikmu yang terbaik pada dunia dan mungkin itu tak akan pernah cukup.
Meski demikian, berikan milikmu yang terbaik pada dunia.
Ketahuilah, pada akhirnya …
Sesungguhnya ini semua adalah masalah antara engkau dengan Tuhan.
Tidak akan pernah menjadi masalah antara engkau dengan mereka.
Senin, 28 September 2009
Solider atau Bodoh?
Saya pernah membaca suatu kisah di forum yang cukup lucu, yang ingin saya bagikan kepada Anda. Sebuah kisah yang bercerita mengenai solidaritas, atau lebih tepatnya mengenai kebodohan. Demikian kisahnya :
Di sebuah proyek pembangunan apartement, ada 3 orang pekerja yang sedang menikmati makan siang mereka.
Pekerja 1 : Yah ampun!!!! Roti isi telor lagi!!! TELOR TELOR TELORRR terussss!!!!! Kalo besok gue masih dibawain roti isi telor lagi, gue bakalan loncat dari gedung atas!!!!!!!!!!!!
Pekerja 2 : NASI UDUK, NASI UDUK, NASI UDUK terus!!!!!!!!!!! Bisa gila nih gue!!!! Kalo besok masih nasi uduk, gue bakalan bunuh diri!
Pekerja 3 : ROTI SELAI KACANG??????? Tiappppp hari gue makan roti selei kacang!!! Kalo besok masih selei kacang juga gue bakalan ikutan loncat bareng elu berdua!!!!
Keesokan harinya, si pekerja pertama diberi bekal roti isi telor lagi oleh istrinya, tukang kedua membawa nasi uduk lagi, dan tukang ketiga juga membawa roti selai kacang lagi. Akhirnya mereka bertigapun loncat dari gedung!!!!
Di pemakaman, ketiga istri pekerja-pekerja itu sedih sekali, sambil berkata :
Istri 1 : Kalau saja saya tahu dia tidak mau makan roti isi telur, pasti sudah saya buatkan bekal yang lain....
Istri 2 : Kalau saja dia bilang dia bosan dengan nasi uduk, pasti tidak seperti ini jadinya........
Istri 3 : Saya bingung kenapa suami saya bunuh diri, dia selalu bikin bekalnya sendiri......
Kisah yang menggelitik, tapi membuka wawasan saya. Solidaritas itu adalah hal yang bagus, tetapi waspadalah pada suatu titik solidaritas dapat berubah menjadi suatu kebodohan. God bless you, hope this joke can inspire you all...
Di sebuah proyek pembangunan apartement, ada 3 orang pekerja yang sedang menikmati makan siang mereka.
Pekerja 1 : Yah ampun!!!! Roti isi telor lagi!!! TELOR TELOR TELORRR terussss!!!!! Kalo besok gue masih dibawain roti isi telor lagi, gue bakalan loncat dari gedung atas!!!!!!!!!!!!
Pekerja 2 : NASI UDUK, NASI UDUK, NASI UDUK terus!!!!!!!!!!! Bisa gila nih gue!!!! Kalo besok masih nasi uduk, gue bakalan bunuh diri!
Pekerja 3 : ROTI SELAI KACANG??????? Tiappppp hari gue makan roti selei kacang!!! Kalo besok masih selei kacang juga gue bakalan ikutan loncat bareng elu berdua!!!!
Keesokan harinya, si pekerja pertama diberi bekal roti isi telor lagi oleh istrinya, tukang kedua membawa nasi uduk lagi, dan tukang ketiga juga membawa roti selai kacang lagi. Akhirnya mereka bertigapun loncat dari gedung!!!!
Di pemakaman, ketiga istri pekerja-pekerja itu sedih sekali, sambil berkata :
Istri 1 : Kalau saja saya tahu dia tidak mau makan roti isi telur, pasti sudah saya buatkan bekal yang lain....
Istri 2 : Kalau saja dia bilang dia bosan dengan nasi uduk, pasti tidak seperti ini jadinya........
Istri 3 : Saya bingung kenapa suami saya bunuh diri, dia selalu bikin bekalnya sendiri......
Kisah yang menggelitik, tapi membuka wawasan saya. Solidaritas itu adalah hal yang bagus, tetapi waspadalah pada suatu titik solidaritas dapat berubah menjadi suatu kebodohan. God bless you, hope this joke can inspire you all...
Minggu, 27 September 2009
You Don't Know What You've Got Until You Lose Them...
Hari ini saya mau berbagi suatu cerita yang pernah saya baca dari suatu forum. Cerita sederhana, tapi sangat menginspirasi kita untuk lebih menghargai orang-orang terdekat kita.
MAAFKAN IBU TELAH MEMBENTAKMU
Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.
"Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya.
Ia berkata, "Maafkan saya juga. Saya tidak melihat Anda."
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.
Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.
"Minggir," kata saya dengan marah.
Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, kata nurani seakan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu."
"Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."
Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku.
"Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?"
Ia tersenyum, "Aku menemukannya jatuh dari pohon."
"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."
Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."
Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."
Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."
Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu tindakan yang kurang bijaksana, bukan?
Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE,(Y)OU
Jangan biarkan kasih sayang kita terhadap suami/istri, juga anak-anak kita terkikis...tumbuhkanlah kasih dan perbanyaklah waktu untuk keluarga kita...
MAAFKAN IBU TELAH MEMBENTAKMU
Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.
"Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya.
Ia berkata, "Maafkan saya juga. Saya tidak melihat Anda."
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.
Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.
"Minggir," kata saya dengan marah.
Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, kata nurani seakan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu."
"Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."
Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku.
"Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?"
Ia tersenyum, "Aku menemukannya jatuh dari pohon."
"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."
Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."
Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."
Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."
Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu tindakan yang kurang bijaksana, bukan?
Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE,(Y)OU
Jangan biarkan kasih sayang kita terhadap suami/istri, juga anak-anak kita terkikis...tumbuhkanlah kasih dan perbanyaklah waktu untuk keluarga kita...
Apakah Anda Seorang Pengecut?
Semua orang pasti tak suka dijuluki seorang pengecut, khususnya para lelaki. Tapi pada kenyataanya hampir semua orang memang berjiwa pengecut. Atas dasar apa saya bisa berkata seperti ini?
Saya teringat masa-masa saya bersekolah dulu, bahkan mungkin sekarang pun masih terjadi. Saat itu banyak pelajar yang suka sekali dengan kegiatan yang namanya "tawuran." Tidak hanya pelajar STM dan SMA, tapi juga pelajar SMP dan bahkan tidak jarang pelajar SD yang terlibat dalam perkelahian antar pelajar ini. Saat menonton pertandingan sepakbola, saya juga sering melihat "tawuran" antar supporter. Semua orang merasa kuat dengan adanya komunitas seperti ini. Mengatasnamakan komunitas dengan berkostum seragam yang sama mereka merasa sangat kuat dan berkuasa.
Inilah sifat ke-pengecut-an yang sering pula kita lihat juga pada manusia-manusia yang "berseragam." Banyak orang saat ini mengatasnamakan lembaga, golongan, komunitas dan lain sebagainya yang menyatakan kumpulannya. Orang-orang ini selalu berlindung di balik "seragam" yang dikenakannya, padahal orang-orang ini lebih mementingkan kepuasan, ego, dan kepentingannya sendiri. Tidak sedikitpun yang diperjuangkan adalah demi kepentingan lembaga, golongan atau komunitasnya. Memang sudah jadi sifat alami manusia yang tidak bisa berdiri teguh di atas kakinya sendiri. Hampir semua orang membutuhkan dukungan dan gentar menghadapi masalah seorang diri.
Apakah ada orang yang sungguh-sungguh berani menghadapi masalah dan tekanan seorang diri, berdiri sendiri di atas kakinya sendiri tanpa mengatasnamakan lembaga, golongan, komunitas atau apapun namanya itu? Ini yang saya sebut sebagai sikap seorang pengecut, berani hanya saat bersama-sama dengan rombongannya, bukan menghadapinya dengan tegar secara jantan seorang diri.
Apakah kita melakukan hal yang benar dengan mencari dukungan dari sesama kita? Dengan mengenakan "seragam" yang sama apakah benar kita memiliki "power" untuk menindas dan berlaku semena-mena, demi kepuasan kita pribadi? Sungguh memalukan dan memilukan melihat sikap pribadi-pribadi yang hanya berani bersembunyi dibalik rombongannya.
Jadi bagaimana kita memperoleh kekuatan untuk bersikap jantan? Apakah benar dengan mencari dukungan manusia dan komunitasnya? Menurut pengamatan saya kemampuan manusia ada batasnya. Sejarah telah membuktikan bahkan kekuasaan seseorang tidaklah absolut. Selalu ada masa-masa kejatuhan dibalik kekuasaan suatu komunitas. Carilah dukungan dan kekuatan bukan dari manusia, sebab hanya Tuhan yang sanggup memampukan kita untuk menghadapi masalah dan tekanan hidup ini di atas kaki kita sendiri. Bersandar kepadaNya, kita akan memiliki sikap gentlemen, karena dengan demikian kita yakin tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan dengan bantuanNya. Jadilah insan yang jantan, tidak bersembunyi dibalik kerumunan orang, tapi teguh berdiri dengan kekuatanNya dalam menghadapi masalah dan cobaan. Jangan jadikan orang-orang di "komunitas" Anda sebagai perisai untuk kepentingan Anda.
Apakah Anda seorang pengecut? Hanya Anda sendiri yang tahu jawabannya...
Saya teringat masa-masa saya bersekolah dulu, bahkan mungkin sekarang pun masih terjadi. Saat itu banyak pelajar yang suka sekali dengan kegiatan yang namanya "tawuran." Tidak hanya pelajar STM dan SMA, tapi juga pelajar SMP dan bahkan tidak jarang pelajar SD yang terlibat dalam perkelahian antar pelajar ini. Saat menonton pertandingan sepakbola, saya juga sering melihat "tawuran" antar supporter. Semua orang merasa kuat dengan adanya komunitas seperti ini. Mengatasnamakan komunitas dengan berkostum seragam yang sama mereka merasa sangat kuat dan berkuasa.
Inilah sifat ke-pengecut-an yang sering pula kita lihat juga pada manusia-manusia yang "berseragam." Banyak orang saat ini mengatasnamakan lembaga, golongan, komunitas dan lain sebagainya yang menyatakan kumpulannya. Orang-orang ini selalu berlindung di balik "seragam" yang dikenakannya, padahal orang-orang ini lebih mementingkan kepuasan, ego, dan kepentingannya sendiri. Tidak sedikitpun yang diperjuangkan adalah demi kepentingan lembaga, golongan atau komunitasnya. Memang sudah jadi sifat alami manusia yang tidak bisa berdiri teguh di atas kakinya sendiri. Hampir semua orang membutuhkan dukungan dan gentar menghadapi masalah seorang diri.
Apakah ada orang yang sungguh-sungguh berani menghadapi masalah dan tekanan seorang diri, berdiri sendiri di atas kakinya sendiri tanpa mengatasnamakan lembaga, golongan, komunitas atau apapun namanya itu? Ini yang saya sebut sebagai sikap seorang pengecut, berani hanya saat bersama-sama dengan rombongannya, bukan menghadapinya dengan tegar secara jantan seorang diri.
Apakah kita melakukan hal yang benar dengan mencari dukungan dari sesama kita? Dengan mengenakan "seragam" yang sama apakah benar kita memiliki "power" untuk menindas dan berlaku semena-mena, demi kepuasan kita pribadi? Sungguh memalukan dan memilukan melihat sikap pribadi-pribadi yang hanya berani bersembunyi dibalik rombongannya.
Jadi bagaimana kita memperoleh kekuatan untuk bersikap jantan? Apakah benar dengan mencari dukungan manusia dan komunitasnya? Menurut pengamatan saya kemampuan manusia ada batasnya. Sejarah telah membuktikan bahkan kekuasaan seseorang tidaklah absolut. Selalu ada masa-masa kejatuhan dibalik kekuasaan suatu komunitas. Carilah dukungan dan kekuatan bukan dari manusia, sebab hanya Tuhan yang sanggup memampukan kita untuk menghadapi masalah dan tekanan hidup ini di atas kaki kita sendiri. Bersandar kepadaNya, kita akan memiliki sikap gentlemen, karena dengan demikian kita yakin tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan dengan bantuanNya. Jadilah insan yang jantan, tidak bersembunyi dibalik kerumunan orang, tapi teguh berdiri dengan kekuatanNya dalam menghadapi masalah dan cobaan. Jangan jadikan orang-orang di "komunitas" Anda sebagai perisai untuk kepentingan Anda.
Apakah Anda seorang pengecut? Hanya Anda sendiri yang tahu jawabannya...
Sabtu, 26 September 2009
Anak Yang Bijak
Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.
Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin. Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya, "Bagaimana perjalanan tadi?" "Sungguh luar biasa, Pa." "Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?" tanya sang ayah. "Iya, Pa," jawabnya. "Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?" tanya ayahnya lagi.
Si anak menjawab, "Saya melihat kenyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor.
Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya.
Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.
Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison.
Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang.
Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri.
Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri.
Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.
Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan, "Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita."
Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki. Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain.
Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita, daripada kuatir untuk meminta lebih lagi.
Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin. Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya, "Bagaimana perjalanan tadi?" "Sungguh luar biasa, Pa." "Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?" tanya sang ayah. "Iya, Pa," jawabnya. "Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?" tanya ayahnya lagi.
Si anak menjawab, "Saya melihat kenyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor.
Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya.
Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.
Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison.
Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang.
Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri.
Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri.
Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.
Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan, "Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita."
Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki. Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain.
Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita, daripada kuatir untuk meminta lebih lagi.
Jumat, 25 September 2009
Kebohongan Seorang Ibu
Karena kasihnya kepada sang anak, banyak ibu melakukan “kebohongan”, seperti yang dikisahkan seseorang berikut ini : Ketika penghasilan keluarga kami kurang memadai dan seringkali kami kekurangan makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku, sambil berkata: "Makanlah nak, aku tidak lapar" – itu kebohongan ibu yang pertama.
Saat aku bersekolah, aku melihat seringkali ibu bekerja keras hingga larut malam. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, sudah malam.” Ibu tersenyum dan berkata, "Kamu tidur duluan nak, aku belum capek" – itu kebohongan ibu yang kedua.
Setelah ayah meninggal karena sakit, ibu harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Melihat kondisi itu, tetangga seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu berkata: "Saya tidak butuh cinta" – itu kebohongan ibu ke tiga.
Setelah kakakku tamat kuliah dan bekerja di luar kota, ibu sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, setiap pagi ia berjualan sayur di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu tidak mau menerima uang tersebut, sambil berkata: "Aku punya uang, kamu pakai saja uang itu" – itu kebohongan ibu ke empat.
Pada saat ibu sakit kanker dan dimakan usia maka ia harus dirawat di rumah sakit. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan" – itu kebohongan ibu kelima.
Setelah itu, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Sahabat, membaca kisah di atas, saya yakin Anda sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan, ”Terima kasih ibu!" Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.
BELAJARLAH MEMBALAS BUDI ORANGTUA SELAGI MASIH ADA KESEMPATAN.
Saat aku bersekolah, aku melihat seringkali ibu bekerja keras hingga larut malam. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, sudah malam.” Ibu tersenyum dan berkata, "Kamu tidur duluan nak, aku belum capek" – itu kebohongan ibu yang kedua.
Setelah ayah meninggal karena sakit, ibu harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Melihat kondisi itu, tetangga seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu berkata: "Saya tidak butuh cinta" – itu kebohongan ibu ke tiga.
Setelah kakakku tamat kuliah dan bekerja di luar kota, ibu sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, setiap pagi ia berjualan sayur di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu tidak mau menerima uang tersebut, sambil berkata: "Aku punya uang, kamu pakai saja uang itu" – itu kebohongan ibu ke empat.
Pada saat ibu sakit kanker dan dimakan usia maka ia harus dirawat di rumah sakit. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan" – itu kebohongan ibu kelima.
Setelah itu, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Sahabat, membaca kisah di atas, saya yakin Anda sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan, ”Terima kasih ibu!" Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.
BELAJARLAH MEMBALAS BUDI ORANGTUA SELAGI MASIH ADA KESEMPATAN.
Langganan:
Postingan (Atom)