Kamis, 01 Oktober 2009

Iri Hati, Sangat-Sangat Merusak...

Pernah dengar istilah "Sirik tanda tak mampu" dan "Senang melihat orang susah, Susah melihat orang senang"? Saya sering mendengarnya, dan bahkan sering sekali melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya kenapa orang harus iri hati? Berikut definisi dari iri (envy) yang saya kutip dari wikipedia :

Envy (also called invidiousness) may be defined as an emotion that "occurs when a person lacks another’s (perceived) superior quality, achievement, or possession and either desires it or wishes that the other lacked it." It can also derive from a sense of low self-esteem that results from an upward social comparison threatening a person's self image: another person has something that the envier considers to be important to have. If the other person is perceived to be similar to the envier, the aroused envy will be particularly intense, because it signals to the envier that it just as well could have been he or she who had the desired object.

 Jadi lebih kurang kalo diartikan ke Bahasa Indonesia iri hati adalah suatu emosi yang muncul saat seseorang memiliki kekurangan kualitas, prestasi atau kepemilikan dari sesuatu, dan berlanjut pada tahap mengingini atau berharap untuk memilikinya. Iri hati juga bisa timbul akibat perasaan rendah diri, sehingga citra dirinya terancam.

Membahas soal iri hati, saya jadi teringat dengan kepiting. Pernah lihat banyak kepiting dalam satu panci/wadah? Mereka berusaha untuk memanjat dinding wadah tersebut untuk keluar, tetapi kepiting-kepiting lain akan menariknya kembali ke dalam wadah tersebut sehingga satupun tidak dapat keluar. Melihat ini, saya berpikir, sungguh malang kepiting-kepiting tersebut. Andaikan mereka tidak menarik dan menjegal satu sama lain, mungkin mereka akan selamat dan tidak berakhir dimasak bersama-sama dalam satu panci.

Iri hati selain merusak pikiran dan jiwa, ternyata juga berdampak terhadap kesehatan fisik manusia. Merusak perasaan menjadi tidak tentram, tidak tenang, bahkan merubah sifat menjadi pemarah. Juga keseimbangan fisik terganggu akibat ketidak-harmonisan elemen dalam tubuh akibat denyut jantung yang lebih cepat, ketidak-seimbangan hormon/enzim dalam tubuh, dll. Bahkan saya pernah membaca, kalau orang iri hati itu sangat sulit untuk menurunkan berat badan (makanya buat yang lagi program diet, jangan ada iri hati yah hehehe).

Bicara tentang iri hati, saya pernah mendengar suatu prinsip yang cukup bagus yang mungkin bisa membantu kita menghilangkan rasa iri di dalam hati kita. Kira-kira begini :

"Tuhan selalu adil dalam segala hal. Dia tidak pernah membeda-bedakan umatNya. Berkat dan rejeki yang dicurahkan kepada setiap orang adalah sama, tidak berbeda sedikitpun. Yang membedakan adalah penampungnya, yaitu diri kita sendiri. Apakah kita sebuah panci, sebuah mangkuk, sebuah gelas, ataukah diri kita hanya sebuah sendok. Semakin besar penampungnya, semakin besar berkat dan rejeki yang bisa kita terima. Tapi andaikan diri kita hanya sebatas sendok, sesuai dengan kapasitas sendok itulah berkat yang dapat kita tampung."

Merenungi prinsip diatas, saya memahami bahwa daripada iri hati terhadap orang lain, alangkah baiknya kalau saya memperbesar kapasitas diri saya terlebih dahulu. Bicara kapasitas, bisa menyangkut banyak aspek, silahkan Anda menilai sendiri apa yang dimaksud dengan kapasitas itu.

Alangkah bahagianya hidup kalau kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Marilah bersama-sama kita menghilangkan kebiasaan buruk iri hati yang sangat-sangat merusak tubuh dan jiwa. Hope this can inspire you all, God bless you all...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar