Jumat, 25 Desember 2009

Sebuah Kisah Natal...

Saya sedang bergegas menuju sebuah department store untuk membeli kado Natal di saat-saat terakhir. Saat melihat antrian saya pun mulai menggerutu. Saya akan menghabiskan waktu yang banyak di sini sedangkan saya masih harus melakukan banyak hal. Natal pun mulai terasa sangat merepotkan. Saya agak berharap kalau saja saya bisa tidur sepanjang liburan Natal. Tapi saya memaksa diri untuk bergegas sebisa mungkin menerobos sedemikian banyak orang di bagian mainan anak-anak. Sekali lagi saya sedikit menggerutu pada diri saya sendiri saat melihat harga mainan-mainan itu. Dan saya kuatir apakah cucu-cucu saya suka dengan mainan-mainan itu.

Saya pun berakhir di lorong boneka. Di sebuah pojok pandangan saya tertuju pada seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun yang sedang menggendong sebuah boneka cantik. Dia terus mengelus rambutnya dan menggendongnya dengan lembut. Saya tidak dapat menahan diri saya dan terus melihat anak laki-laki itu sambil diliputi rasa penasaran boneka itu diperuntukkan kepada siapa. Saya melihatnya berpaling ke arah seorang wanita dan dia memanggilnya bibi dan berkata, "Apakah bibi yakin saya tidak mempunyai cukup uang?" Sang bibi menjawab dengan sedikit kesal, "Kau tahu bahwa kau tidak mempunyai cukup uang untuk membeli boneka itu." Sang bibi pun memberitahu anak tersebut untuk tidak pergi kemana-mana karena dia harus mencari beberapa barang lainnya dan akan kembali dalam beberapa menit. Kemudian dia meninggalkan lorong itu dan anak tersebut melanjutkan acaranya menggendong boneka itu.

Sesaat kemudian saya bertanya kepada anak itu boneka itu diperuntukkan untuk siapa. Dia berkata, "Ini adalah boneka yang sangat diinginkan oleh adik saya untuk Natal. Dia yakin sekali bahwa Santa akan memberikan boneka ini kepadanya." Saya berkata kepada anak itu bahwa mungkin saja Santa akan memberikannya. Dia berkata "Tidak, Santa tidak dapat pergi ke tempat dimana adik saya berada... Saya harus menitipkan boneka ini kepada ibu untuk dapat diberikan kepada adik saya." Saya pun bertanya kepadanya dimana adiknya berada.

Dia melihat saya dengan pandangan penuh duka dan berkata "Dia telah pergi ke tempat Yesus. Ayah saya berkata ibu saya juga akan segera pergi menyusul dia." Jantung saya serasa hampir berhenti berdetak. Kemudian sang anak melihat ke arah saya lagi dan berkata, "Saya bilang kepada ayah saya untuk memberi tahu ibu jangan pergi dahulu. Saya berkata kepadanya untuk memberitahu ibu agar menunggu saya sampai saya pulang dari department store." Kemudian dia bertanya kepada saya apakah saya ingin melihat gambar yang baru saja dibuatnya. Saya merespon dengan senang hati. Dia mengeluarkan sebuah gambar sederhana yang baru dibuatnya tadi di depan department store. Dia berkata "Saya mau ibu turut membawa ini dengannya supaya dia tidak akan pernah lupa dengan saya. Saya sangat mencintai ibu dan berharap dia tidak harus pergi. Tapi ayah berkata dia harus pergi agar bisa bersama adik saya."

Saya melihat anak laki-laki ini menundukkan kepala dan terdiam. Ketika dia tidak melihat ke arah saya, saya pun meraih dompet saya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Saya berkata kepada anak ini, "Bolehkah saya menghitung uangmu sekali lagi?" Dia menjadi sangat bersemangat, sambil menyodorkan uangnya kepada saya diapun berkata "Ya, boleh, dan saya yakin sekali ini cukup." Demikianlah saya menyelipkan uang saya di antara uang miliknya dan mulai menghitung, dan tentu saja jumlahnya cukup untuk membeli boneka tersebut. Dia berkata dengan lembut, "Terima kasih Yesus untuk memberikan saya uang yang cukup." Kemudian si anak berkata "Saya tadi baru saja meminta kepada Yesus untuk memberikan saya uang yang cukup untuk membeli boneka ini supaya ibu bisa membawanya bersama dia untuk diberikan kepada adik saya. Dan Dia mendengar doa saya. Tadinya saya mau meminta kepadaNya uang lebih untuk membeli boneka ini dan setangkai mawar putih untuk ibu, tapi saya tidak jadi memintaNya. Tapi Dia tahu isi hati saya dan memberi saya lebih dari cukup untuk membeli sebuah boneka dan setangkai mawar untuk ibu. Ibu saya sangat menyukai mawar putih."

Beberapa menit kemudian sang bibi kembali dan saya pun mendorong gerobak belanja saya pergi menjauh. Saya tidak dapat berhenti memikirkan anak laki-laki tadi saat saya selesai belanja dalam suasana hati yang sangat bertolak belakang pada saat saya mulai berbelanja. Dan saya juga terus teringat sebuah cerita yang saya lihat di surat kabar beberapa hari sebelumnya mengenai seorang pengemudi mabuk yang menabrak sebuah mobil membunuh seorang anak perempuan dan sang ibu dalam kondisi sangat memprihatinkan. Keluarga korban sedang memutuskan untuk melanjutkan atau menghentikan pengobatan terhadap sang ibu. Saya saat itu yakin bahwa anak laki-laki ini tidaklah berkaitan dengan cerita ini.

Dua hari kemudian saya membaca di surat kabar bahwa keluarga tersebut telah menghentikan segala upaya pengobatan dan pendukung kehidupan sehingga sang wanita muda itu telah meninggal. Saya tidak dapat melupakan anak laki-laki itu dan terus bertanya dalam hati apakah mereka saling berhubungan. Hari itu juga, saya tidak dapat menahan diri saya untuk pergi keluar membeli beberapa mawar putih dan membawanya ke rumah duka di mana wanita itu berada. Dan jenazahnya ada di sana sambil memegang sebuah mawar putih yang indah, sebuah boneka cantik, dan gambar dari anak laki-laki yang saya temui di department store.

Saya meninggalkan tempat itu dengan berlinang air mata, cara saya melihat kehidupan telah berubah semenjak saat itu. Cinta anak laki-laki itu terhadap adik dan ibunya sangat berlimpah ruah, dan dalam hitungan detik seorang pengemudi mabuk telah menghancurkan kehidupan anak laki-laki tersebut menjadi kepingan-kepingan yang tidak akan pernah dapat diperbaiki lagi.

"Kita menjalani hidup dengan apa yang kita peroleh; Kita menjadikan sesuatu terasa hidup dengan apa yang kita beri." Semoga di hari Natal ini kita bisa belajar memberi, walaupun hal kecil, akan sangat bermakna bagi orang yang menerimanya. Merry Christmas and Happy New Year, semoga semangat Natal terus ada di hati kita sepanjang tahun mendatang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar