Kamis, 28 Januari 2010

Kebahagiaan Adalah Sebuah Keputusan

Ada sebuah kisah mengenai seorang penjudi yang terjerat hutang sedemikian besar sehingga satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalahnya adalah dengan menikahi anak dari boss mafia yang buruk rupa. Sayangnya, sang penjudi telah menikah. Atas nama persahabatan sejati, seorang teman sang penjudi setuju untuk menikahi anak perempuan yang buruk itu agar dapat membantu sahabatnya. Pada malam pengantin mereka, ketika teman sang penjudi keluar dari kamar mandi untuk menemui istri barunya yang jelek itu, dia tidak menemuinya di sana. Sang wanita buruk itu telah berubah menjadi wanita cantik.

Tanpa sepengetahuan siapapun sebelumnya, sang istri menjelaskan bagaimana sebuah mantra telah diberikan kepadanya. Dia dikutuk untuk menjadi cantik selama dua belas jam dan buruk selama dua belas jam. Sekarang dia memberikan kesempatan kepada suami barunya untuk memilih dua belas jam mana yang akan dilalui dengan tampil cantik - sepanjang siang hari saat dia berada di tempat umum, atau pada malam hari saat mereka berdua.

Jawaban suaminya? "Lakukan apa yang membuatmu bahagia." Coba tebak, respon sang suami tersebut membebaskan perempuan itu dari mantra tersebut dan dia bisa tampil cantik selama dua puluh empat jam penuh dalam sehari.

Sebuah cerita yang bagus bukan? Jika saja kita mengetahui mengenai hal ini dari awal. Tidak perlu berusaha untuk menyenangkan masyarakat, keluarga, teman. Tidak ada perasaan sengsara akibat apa yang diharapkan orang lain dari kita. Lakukanlah hal-hal yang membuat Anda bahagia. Hal ini penting supaya dapat tetap sehat, untuk terus melakukan apa yang membuat kita bahagia. Daripada terjebak dalam situasi untuk membuat orang lain bahagia, kita perlu untuk mengijinkan diri kita sendiri untuk melakukan apa yang membuat kita bahagia.

Untuk sebagian orang, hal ini berarti tinggal di rumah dan membesarkan anak. Untuk sebagian lainnya, hal ini berarti memiliki karir. Beberapa akan memilih pernikahan dengan segala hal di dalamnya yang akan merubah kehidupan seseorang secara drastis; yang lainnya memilih untuk tetap sendiri. Hidup tidak dimaksudkan untuk menjadikan kita individu yang penurut. Hidup kita bukanlah suatu keharusan sebagai suatu hasil dari apa yang orang lain paksakan terhadap kita.

Hidup dimaksudkan untuk bahagia. Hidup dimaksudkan untuk dijalani sepenuh-penuhnya.

Lakukan apa yang membuat ANDA bahagia.

Dikutip dari sebuah artikel oleh Bernie Siegel, MD.

Apakah Anda bahagia? Apakah Anda telah sungguh-sungguh membuat suatu keputusan untuk menjadi bahagia dalam hidup Anda?

Apakah Anda gembira dalam menjalani hidup Anda setiap hari? Apakah Anda bahagia menjalani hidup Anda hari ini, saat ini juga?

Jika tidak, mengapa demikian?

Alangkah indahnya untuk bangun di pagi hari dengan penuh rasa syukur atas kesempatan untuk menjalani hidup yang luar biasa hari ini, dan kemudian keluar untuk menjalaninya.

Anda bisa memiliki dan mengalami itu semua, dan Anda dapat mulai memilikinya sekarang juga, mulai hari ini.

Saya menghabiskan bertahun-tahun masa hidup dewasa saya (belum lagi masa kanak-kanak pertumbuhan saya selama beberapa tahun) dengan mempercayai bahwa saya harus menjalani hidup sesuai dengan aturan seseorang. Saya terkunci dalam sebuah rumus dan pedoman yang memberi tuntutan kepada saya oleh lingkungan (orang tua, sekolah, pemerintah, gereja, dan lain sebagainya.) dimana saya dibesarkan.

Kira-kira intinya seperti ini : dapatkan pendidikan yang baik, dapatkan pekerjaan yang baik, bekerja keras dan tekun, berhemat dan simpan uangmu, tunda melakukan hal-hal yang kamu sukai, hindari mengambil resiko, dan jika kamu beruntung maka kamu akan menikmati hidup di usia senja.

Apakah ini samar- samar terdengar familiar?

Dalam kasus khusus saya, hal-hal ini berjalan dengan baik dan masuk akal. Saya pernah memiliki pendidikan yang baik, sebuah pekerjaan yang baik, mendapat gaji yang lumayan dan pernah mencapai sebuah tingkat kesuksesan dalam hidup saya. Atau setidaknya itu yang terlihat di luar.

Tetapi di dalam batin saya merasa sengsara. Saya terjebak dalam pergumulan untuk hidup dari hari ke hari - secara harafiah memilih untuk menjadikannya sebuah pergumulan tanpa pernah menyadari bahwa itulah yang sedang saya lakukan. Saya berjalan dalam tidur dengan kebosanan dari hari ke hari. Saat itu saya tahu bahwa saya tidak menjalani kehidupan yang saya impikan, kehidupan yang saya cintai.

Sampai suatu hari saya secara sederhana memutuskan bahwa ini adalah waktunya untuk berhenti. Saya memilih untuk bangun.

Akhirnya datang suatu hari ketika saya secara sederhana tidak dapat menanggungnya lagi dan saya membuat sebuah keputusan bahwa ini adalah waktunya untuk berhenti. Saya membuat keputusan untuk mengubah cara saya menjalani hidup dan melompat turun dari treadmill. Saya telah membuat keputusan untuk mengubah hidup saya. Saya telah mengambil keputusan untuk menjalani hidup sesuai dengan definisi saya.

Dampaknya sangat luar biasa. Ratusan kilo beban terangkat dari pundak saya. Saya merasa lega. Saya merasa hidup. Saya merasa terinspirasi. Saya mulai sungguh-sungguh menikmati hidup saya.

Dan sekarang saya menyarankan bahwa Anda dapat memulai hidup sebagaimana yang Anda inginkan - sebuah kehidupan yang Anda cintai - sekarang juga mulai hari ini.

Semua yang dibutuhkan hanyalah untuk Anda membuat keputusan tersebut.

Ya, saya tahu ini kedengarannya sederhana. Namun ini benar, dan di dalam hati Anda juga tahu bahwa ini benar.

Dengan sungguh-sungguh mengambil keputusan tersebut - sebuah keputusan tunggal, sebuah keputusan batiniah - segalanya berubah. Segalanya berubah karena cara pandang Anda berubah.

Bagi saya, keputusan saya mengarahkan saya kepada beberapa tindakan yang sangat eksplisit. Saya berhenti dari pekerjaan saya dan memutuskan untuk membangun usaha saya sendiri dan melakukan hal-hal yang saya sukai, dari rumah. Sejujurnya saya tidak punya bayangan bagaimana semua ini dapat berjalan dan bagaimana saya dapat mencukupi diri saya sendiri, hanya sebuah rasa percaya bahwa hal ini dapat terjadi. Bila melihat kembali ke belakang, Saya yakin sekali hal ini dapat terjadi.

Hal-hal baru dalam hidup saya telah berjalan secara indah. Langit tidaklah runtuh. Dunia tidak kiamat. Begitu banyak perubahan yang terjadi. Saya tidak lagi bergaul dengan orang yang dulu biasa ada di lingkungan kerja saya. Kegiatan saya lebih berfokus pada keluarga dan teman dibandingkan pekerjaan saya. Saya menjalani hidup yang jauh dari tekanan. Saya lebih bergembira. Saya bahagia setiap hari.

Bagaimana dengan Anda? Hal apa yang Anda cintai? Apa yang ingin Anda lakukan dalam hidup? Dapatkah Anda merasakan hal-hal ini memanggil batin Anda?

Jika Anda dapat merasakannya, mulailah mendengarkan dan mengikutinya. Ada satu hal yang tidak dapat dipungkiri kebenarannya : tidak perlu bergumul dalam hidup Anda. Sesuatu menjadi nyata saat Anda mempercayainya. Ini adalah hukum dasar dari alam semesta, hukum daya tarik.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melepaskan pendapat bahwa Anda tidak berbeda dengan orang lain, atau pendapat bahwa Anda tidak diijinkan untuk menjalani hidup yang Anda inginkan. Lepaskan asumsi yang membuat Anda merasa anda tidak pantas mendapatkan keistimewaan ini. Berhenti me-marginal-kan diri Anda.

Anda berhak untuk bahagia dan menikmati hidup Anda. Ini adalah intisari dalam hidup - untuk mengalami kebahagiaan di dalamnya.

Memang, terkadang ide untuk mengikuti kebahagiaan dapat menjadi sangat menakutkan. Dan rasa takut itu mengarah kepada segala jenis emosi yang liar, namun itu adalah salah satu bagian dalam menjadi manusia. Satu hal yang perlu diingat, ketakutan ada di dalam pikiran Anda. Ini adalah apa yang Anda bayangkan mungkin terjadi. Emosi-emosi liar yang Anda rasakan sebagai ekspresi dari rasa takut Anda tidak mengubah diri Anda.

Dalam bukunya Conversations With God, Neale Donald Walsh mengatakan bahwa manusia memiliki tiga alat penciptaan. Mereka adalah pikiran, kata-kata, dan perbuatan. Adalah pikiran perkataan dan perbuatan Anda yang mendefinisikan diri Anda - karena mereka keseluruhan adalah cerminan diri Anda seutuhnya.

Sekarang muncul suatu pertanyaan baru, Anda ingin jadi siapa?

Carilah kebenaran di dalam diri Anda mengenai siapa yang Anda ingin jadi dan mulailah menjadi orang tersebut sekarang, hari ini juga. Hidupkan kembali gairah dan nikmati hidup Anda. Hal ini jauh lebih mudah dari yang Anda bayangkan. Anda akan terkejut bagaimana mudahnya untuk membuka hal-hal yang disebut "bagaimana", cukup dengan membiarkan insiprasi yang menuntun Anda.

Inspirasi tidak akan pernah menyesatkan Anda. Dengan berfokus pada apa dan siapa yang Anda inginkan, Anda akan terinsipirasi untuk memikirkan pikiran-pikiran baru, berkata-kata dengan kata-kata baru dan melakukan tindakan baru yang menjadikan semua itu menjadi suatu kenyataan. Demikianlah setiap hari Anda semakin mencintai kehidupan yang Anda jalani.

Ini adalah hal yang luar biasa. Ini adalah kebebasan.

Jadi sekarang adalah waktu Anda untuk mulai menjalani langkah dalam menjalani kehidupan yang Anda cintai. Mulailah merintis kehidupan yang Anda inginkan sekarang.

Mulailah dengan membuat sebuah keputusan untuk bahagia dengan hidup Anda sekarang. Mulailah hari ini...

Senin, 25 Januari 2010

Sempurna...

Seorang teman saya dinasihati agar belajar untuk bersikap dewasa. Apa yang ia lakukan? Jika ditanyai berapa umurnya, ia menyebutkan angka yang membuat dirinya dua-tiga tahun lebih tua. Ia juga suka berlagak menasihati teman-teman lain yang sebaya atau malah sebenarnya lebih tua darinya. Pengertian yang keliru menghasilkan tindakan yang keliru. Demikian pula kita yang mungkin juga bingung ketika diperintahkan untuk menjadi semakin hari semakin sempurna. Apakah itu berarti kita harus kebal terhadap kesalahan dan kegagalan?

Sempurna, atau bahasa Yunaninya teleios, berarti dewasa, matang, sudah mencapai tujuan, lengkap, utuh. Kathleen Norris dalam buku Amazing Grace menguraikan arti kesempurnaan secara menarik. Ia menulis, “Kesempurnaan, dalam pengertian kristiani, berarti menjadi cukup dewasa, sehingga kita mampu memberikan diri kita kepada orang lain. Apa pun yang kita miliki, tidak peduli betapa pun kecil tampaknya hal itu, adalah sesuatu yang dapat kita bagikan dengan mereka yang lebih miskin. Kesempurnaan semacam ini menuntut kita untuk menjadi diri kita sepenuhnya sebagaimana ditetapkan oleh Allah : dewasa, matang, utuh, siap menanggung apa saja yang menimpa hidup kita.”

Untuk menjadi sempurna, kita tidak perlu bertingkah aneh seperti teman saya tadi. Tuhan telah meneladankan kesempurnaan dengan memberkati orang yang baik dan juga orang yang jahat. Kita pun dapat menjadi sempurna dengan belajar mengasihi tanpa pandang bulu dan bersikap lebih sabar terhadap orang lain. Kesempurnaan bukanlah keadaan yang tanpa cacat cela, melainkan sikap hati yang rela berbagi dengan siapa saja.

“Live life fully while you're here. Experience everything. Take care of yourself and your friends. Have fun, be crazy, be weird. Go out and screw up! You're going to anyway, so you might as well enjoy the process. Take the opportunity to learn from your mistakes: find the cause of your problem and eliminate it. Don't try to be perfect; just be an excellent example of being human.”
- Anthony Robbins -

Rabu, 13 Januari 2010

Belajar Dari Kesalahan

Saat Anda melakukan sesuatu, ada kemungkinan Anda membuat suatu kesalahan. Bila Anda membuat kesalahan, itu adalah hal yang baik karena Anda berkesempatan untuk belajar sesuatu.

Akui kesalahan Anda, teliti dan pelajari secara mendalam. Jawablah kesalahan Anda tersebut. Kesalahan adalah guru yang luar biasa. Dengan mengenal apa yang salah, Anda dibantu untuk menemukan apa yang benar.

Tom Watson, pendiri IBM, tahu persis nilai sebuah kesalahan.Suatu saat, seorang pegawai membuat kesalahan besar yang merugikan IBM senilai jutaan dollar. Sang pegawai yang dipanggil ke kantor Watson, berkata "Anda pasti menghendaki saya mengundurkan diri." Jawab Watson, "Anda pasti bercanda. Saya baru saja menghabiskan 10 juta dollar untuk mendidik Anda..."

Orang yang berbakat sukses, akan belajar dari apapun yang terjadi, termasuk kesalahan. Bila Anda membuat sebuah kesalahan, hal yang terbaik adalah mengumpulkan kembali keping-keping yang terserak, dan memperhatikan bagaimana hal itu bisa terjadi.

Jangan menangisi kesalahan. Periksa dan pelajari kesalahan. Selanjutnya manfaatkan pengetahuan baru Anda itu.

"Your mistake does not define who you are...you are your possibilities."
- Oprah Winfrey -

Selasa, 12 Januari 2010

Semangkuk Mie...

Pada malam itu, Anna bertengkar dengan ibunya. Penuh dengan amarah, Anna segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang sepeserpun.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai mie dan mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk mie, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Anna berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk mie?" "Ya, tetapi aku tidak membawa uang." sahut Anna dengan malu-malu.

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu." jawab si pemilik kedai. "Silakan duduk, aku akan memasakkan semangkuk mie untukmu."

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Anna segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa nona?" tanya si pemilik kedai. "Tidak apa-apa, aku hanya terharu." jawab Anna sambil mengeringkan air matanya.

"Bahkan seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk mie! Tetapi... ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri." katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Anna, menarik nafas panjang lalu berkata: "Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah ini, aku hanya memberimu semangkuk mie dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak begitu banyak mie dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Malah kau bertengkar dengannya."

Seketika itu juga Anna terhenyak mendengar hal tersebut. Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk mie dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Anna segera menghabiskan bakminya, mengucapkan terima kasih kepada pemilik kedai bukan hanya untuk semangkuk mie yang baru saja disantapnya, tetapi juga untuk membuka mata hatinya, dan akhirnya iapun menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya berwajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Anna, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Anna, kau sudah pulang. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dulu sebelum kau tidur. Kalau makanan itu dingin tidak enak lagi nanti rasanya."

Seketika itu juga Anna tidak dapat menahan tangisnya. Ia pun menangis di pelukan ibunya.

Ada kalanya, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita wajib berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

"Appreciation can make a day, even change a life.
Your willingness to put it into words is all that is necessary."
- Margaret Cousins -

Sabtu, 09 Januari 2010

Hal Terpenting Dalam Hidup Anda...

Suatu hari seorang ahli 'Managemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yang tidak akan mudah dilupakan oleh mereka.

Ketika dia berdiri di hadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis."

Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran sangat besar dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan batu-batu itu dengan hati-hati ke dalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya : "Apakah toples ini sudah penuh?" Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!" Kemudian dia berkata, "Benarkah?"

Kemudian dia meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi : "Apakah toples ini sudah penuh?" Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab. "Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?" "Belum!" serentak para siswanya menjawab. Dan sekali lagi diapun berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas. Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya : "Apa maksud dari ilustrasi ini?" Seorang siswa yang antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwal Anda, jika Anda berusaha Anda masih dapat menyisipkan jadwal lain ke dalamnya!"

"Jawaban yang bagus!", jawab si ahli, "Tapi bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa : JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI ANDA MASUKKAN, MAKA ANDA TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

Apakah batu-batu besar dalam hidup Anda? Mungkin anak-anak Anda, suami/istri Anda, orang-orang yang Anda sayangi, persahabatan Anda, kesehatan Anda, mimpi-mimpi Anda, ibadah Anda atau dengan istilah lain hal-hal yang Anda anggap paling berharga dalam hidup ini. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yang pertama, atau Anda tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika Anda mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktu, maka Anda hanya akan memenuhi hidup ini dengan hal-hal yang kecil, dan Anda tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam kehidupan.

"Time is free, but it's priceless.
You can't own it, but you can use it.
You can't keep it, but you can spend it.
Once you've lost it you can never get it back.”
-  Harvey MacKay -

Minggu, 03 Januari 2010

Sebuah Pelajaran dari Mobil Tua...

Dulu saya punya sebuah mobil kecil yang biasa-biasa saja. Setiap hari selama bertahun-tahun saya beraktifitas ditemani olehnya. Mulai dari SMA, kuliah, bekerja, saya terus menggunakan mobil ini. Siang dan malam, kapanpun saya butuh kendaraan, dia selalu setia menemani saya. Terik matahari dan hujan deras tidak membuat saya kepanasan atau basah sampai saya tiba di tempat tujuan.

Sering saat sedang berkendara, saya melihat ke kiri-kanan jendela mobil saya. Tidak jarang terbersit rasa iri melihat mobil lain yang lebih besar dan mewah. Mulai muncul rasa kesal karena saya masih terus mengendarai mobil mungil ini. Memang sudah agak tua, mobil ini sudah mulai menyita waktu saya karena mulai "merongrong" dan perlu perawatan ekstra. Ingin rasanya segera menjual mobil ini dan menggantinya dengan  yang baru.

Mulailah muncul sebuah pikiran picik di dalam benak saya. Sengaja mobil itu tidak saya rawat lagi berharap suatu saat dia tidak lagi layak paka sehingga saya punya alasan untuk membeli yang baru. Dengan 1001 alasan sibuk kuliah dan pekerjaan saya akhirnya mulai menelantarkan perawatan mobil ini. Tidak lagi dicuci, tidak diperhatikan perawatan berkalanya, bahkan saya mulai mengabaikan beberapa hal kecil yang mulai tidak berfungsi, sampai suatu saat...

Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Suatu hari bagian depan mobil saya terbakar akibat korsleting listrik di bagian lampu. Kerusakan yang dialami saat itu cukup parah dan memerlukan perbaikan besar dan sudah pasti tidak dapat dikendarai lagi saat itu. Seharusnya saya senang, kesempatan yang dinantikan akhirnya tiba juga. Tapi mengapa saat itu saya justru merasa sedih? Tidak terbayang rasanya saat saya melihat mobil saya dilalap api. Saya mati-matian berusaha untuk memadamkan apinya, bahkan saat itu saya sampai ikut terluka. Muncul penyesalan saat melihat mobil itu yang sebagian telah menjadi hitam hangus. Saat itu saya terus berusaha untuk mengeraskan hati dan berpikir, "Akhirnya saya punya alasan untuk mengganti mobil baru," tapi batin saya berkata lain. Pertarungan antara pikiran picik dan perasaan hati terjadi di dalam diri saya. Andai saja saya lebih memperhatikan mobil ini lebih baik lagi, hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Tapi saya terus berusaha menyangkal dan tidak mau dipersalahkan dengan terus berkata, "Saya sudah tidak sanggup lagi mengurus mobil tua yang penyakitan seperti ini, saya tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini!" Namun tetap saja perasaan ini tidak dapat dibohongi. Penyesalan pun akhirnya mengalahkan segala alibi-alibi saya. Saat itu saya merasa jahat dan kejam sekali, "teman setia" telah diperlakukan sedemikian buruk sampai terjadi hal seperti ini.

Akhirnya saya memutuskan untuk memperbaiki mobil ini. Sejak saat itu saya mencurahkan seluruh perhatian saya untuk mengembalikan kondisinya seperti semula. Memang tampak lebih baik setelah perbaikan, mobil ini kembali mulus dan rapi. Namun luka bakar yang ada di mobil saya ini tidak akan pernah hilang, hanya ditutup oleh lapisan cat saja. Sebuah luka untuk terus mengingatkan saya bahwa sang pemilik telah memperlakukannya dengan buruk.

Begitulah sifat manusia ini. Saat mulai jenuh dan bosan, kita mulai tidak memperdulikan apapun atau siapapun yang kita anggap membosankan itu. Sedikit demi sedikit kita mulai melukai dia sampai akhirnya timbul goresan luka dalam yang tidak dapat hilang. Saat itu barulah kita menyesali perbuatan kita dan ingin memperbaiki semuanya. Nasi telah menjadi bubur, luka bisa disembuhkan, tapi bekasnya akan tetap ada. Itulah realita hati dan pikiran manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.

Sekarang saya telah menjual dan mengganti mobil tersebut dengan sebuah mobil baru. Namun kenangan dan pelajaran yang saya dapatkan bersamanya sungguh berharga. Sebuah pelajaran untuk menghargai mereka yang dekat di hati. Cerita di atas hanyalah tentang sebuah mobil, sebuah benda tidak bernyawa. Terlebih lagi dengan orang-orang di sekeliling kita, yang memiliki emosi dan jiwa. Sudah sepantasnya bukan bagi kita untuk lebih peka terhadap mereka.

Seringkali dalam hubungan bersosialisasi kita mulai merasa jenuh dan bosan. Perlahan-lahan kita mulai tidak menghargai keberadaan teman-teman, rekan kerja, dan orang-orang di sekeliling kita, dan ingin mulai menjaga jarak dalam pergaulan. Mulai muncul berbagai alasan, tidak cocok, tidak sesuai, karakternya tidak menyenangkan, dan lain sebagainya. Adalah hal yang wajar untuk tidak merasa cocok dengan orang lain, sebab kita diciptakan berbeda, tiap orang memiliki hal yang disukai dan tidak disukainya sendiri. Saya pun menyadari tidak semua orang bisa get along dengan saya, dan saya memaklumi hal itu. Saatnya bagi saya untuk mundur teratur, dari seorang teman baik menjadi teman yang biasa-biasa saja. Dari seorang rekan kerja yang akrab menjadi sekedar teman kerja. Sebuah sikap yang saya pelajari untuk tetap membuat diri saya nyaman, dan tidak melukai orang lain.

Namun sayang sekali ada banyak orang yang belum bisa melakukan hal ini. Bagi beberapa orang, saatnya menjaga jarak berarti saatnya melukai. Saat mereka berpikir sudah saatnya tidak menjadi teman baik, saat itu pula mereka merasa perlu untuk mencampakkan orang tersebut. Mulai menghina, meremehkan, menghasut bahkan melakukan hal-hal jahat lainnya sehingga orang tersebut terluka. 1001 alasan muncul untuk menyakiti orang tersebut, meninggalkan jurang yang sangat dalam yang tidak dapat diseberangi lagi. Sebuah sikap yang jahat dan egois. Mengapa tidak berusaha melepaskan diri dan berpisah tanpa harus melukai pihak lain? Apakah akhir sebuah hubungan sosial harus diahiri dengan perasaan buruk? Apakah tidak mungkin menjaga jarak tanpa harus menyakiti?

Sama seperti sebuah mobil baru, di tahun ini sebuah lembaran baru pun di buka. Sebuah pelajaran yang harus saya simpan di benak saya baik-baik. Mungkin kita pernah menyakiti orang lain secara tidak sadar, dan saatnya untuk memperbaiki hal itu. It wouldn't be new year's if I didn't have regrets (William Thomas), awal tahun ini adalah sebuah momentum yang baru untuk merubah apa yang belum bisa diubah di tahun-tahun sebelumnya. Mari jadikan tahun yang baru ini sebuah tahun penuh kasih, bukan sebuah tahun penuh dengan luka...

Jumat, 01 Januari 2010

Berkelebihan atau Berkecukupan???

Sebuah Harapan di Pagi Hari...

Matahari baru saja terbit sekali lagi di pagi hari yang baru ini, di hari pertama di tahun yang baru. Apa yang bisa saya harapkan hari ini, mengenai bagaimana tahun ini akan saya jalani seperti apa?
Sesuatu yang tidak membuat orang lain menjadi miskin, sesuatu yang tidak mengorbankan orang lain; hanya beberapa hal di mana kehadirannya tidak akan membuat saya berhenti tapi justru menyentuh dan memberikan saya kekuatan :
  • Beberapa teman yang mengerti dan menerima saya apa adanya, dan tetap mau menjadi teman saya.
  • Pekerjaan yang memiliki nilai nyata tanpa membuat orang lain merasa lebih miskin.
  • Imbalan untuk pekerjaan yang secukupnya yang tidak membebani siapapun yang membayarnya.
  • Sikap yang tidak takut untuk bepergian, walaupun jalan yang harus dilalui tidaklah mulus.
  • Hati yang pengertian.
  • Sebuah pemandangan lembah yang abadi dan lautan tanpa batas, juga sesuatu yang indah yang dibuat oleh tangan penciptanya.
  • Rasa humor dan kekuatan untuk tertawa.
  • Sedikit waktu santai tanpa melakukan apapun.
  • Sejenak waktu yang tenang, sebuah meditasi sunyi. Merasakan keberadaan Sang Pencipta.
  • Dan kesabaran untuk menunggu hadirnya hal-hal di atas, disertai kebijaksanaan untuk tahu keberadaan mereka saat mereka hadir.
W.R. Hunt
Tahun 2009 telah berlalu, hadir tahun 2010 di hadapan kita. Banyak orang memimpikan hal-hal muluk dalam menyongsong tahun yang baru ini, berharap segalanya akan menjadi lebih baik lagi. Memang tidak salah menginginkan hal yang lebih baik, tapi andaikan tidak tercapai, jangan pernah merasa kecewa karena kita telah berusaha melakukan yang terbaik.

Tulisan W.R. Hunt di atas membuat saya berpikir dalam. Sedikit harapan, tidak terlalu muluk, tapi cukup untuk membuat seseorang merasa bahagia. Mengharapkan secukupnya, bukan sebanyak-banyaknya, itulah kunci kebahagiaan. Saat kita merasa puas dengan kecukupan, kita akan bersyukur dan berterima kasih. Justru saat kita berharap sebanyak-banyaknya, kita akan terus merasa kurang saat segalanya belum diraih.

Di tahun yang baru ini saya belajar untuk meraih apa yang terpenting di hidup saya. Saya sadar sebagai manusia saya tidak mungkin meraih segala hal dalam hidup ini, karena sebagai manusia saya pun punya banyak keterbatasan. Belajar untuk meraih kebahagiaan bukan hanya dalam pengertian berkelebihan, tapi berkecukupan. Seperti harapan W.R. Hunt untuk sebuah pagi yang baru, seperti itulah harapan saya di tahun yang baru ini.

“Seorang yang optimis menunggu tengah malam untuk menyongsong hadirnya tahun yang baru. Seorang yang pesimis menunggu tengah malam untuk memastikan tahun yang lama telah berlalu.” 
- Bill Vaughn -

Hadapi tahun yang baru ini dengan penuh harapan, bukan dengan kenangan masa lalu yang mengecewakan. Happy New Year 2010 for all of you. May this year brings better happiness than last year...

Rabu, 30 Desember 2009

Kita Butuh Keluarga...

Saya sekarang berusia 16 tahun. Satu hal yang perlu Anda ketahui adalah bahwa Ibu kami meninggalkan kami ayah dan anak-anaknya 6 tahun yang lalu. Saya mulai melarikan diri ketika ayah saya meninggalkan negeri supaya dia bisa bersama seorang perempuan yang berusia 21 - sedangkan dia berusia 42 tahun. Dia meninggalkan kami pada kakek dan nenek. Dia bilang dia tidak akan pergi lama, hanya sebulan atau dua bulan saja.

Saya begitu marah ketika saya harus kehilangan orang tua lagi yang membuat saya memulai membolos sekolah, dan kabur bersama sahabat saya yang juga mempunyai banyak masalah pada saat itu. Saya merasa begitu terbakar oleh kemarahan terhadap keluarga saya sehingga saya tidak berpikir bagaimana hal ini akan mempengaruhi adik-adik saya.

Ketika saya di jalanan, saya dan sahabat saya tinggal berpindah-pindah dari teman ke teman lainnya, dan suatu hari kami tidak memiliki tempat untuk didatangi. Jadi kami berkeliling sepanjang malam tanpa sepatu dan pakaian kering karena basah akibat hujan. Keesokan harinya kami harus menyerahkan diri ke kantor polisi karena kami sakit akibat basah dan kedinginan, padahal kami baru saja kabur selama satu minggu. Kemudian saya ditahan di pusat kenakalan remaja selama 2 hari sampai bibi saya datang dan mengeluarkan saya.

Dua minggu kemudian saya melarikan diri lagi dengan sahabat saya pada ulang tahun saya yang ke-16 dan esok harinya tertangkap kembali. Saya ditahan selama 3 hari dan ketika saya keluar mereka menjadikan saya sebagai tahanan rumah, dan saya masih menjalaninya sampai hari ini.
Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah - kehidupan di luar sana sangatlah keras. Anda butuh uang dan tempat berteduh. Sungguh pengorbanan yang sangat mahal untuk melarikan diri dari keluarga. Walaupun Anda tidak bahagia dengan keluarga Anda, Anda tetap membutuhkan mereka, tidak peduli apakah Anda membenci ataupun mencintai mereka.

Disadur dari Runaway Lives : Personal Stories and Reflections by Runaways and Their Families.

Ada kalanya orang-orang di sekeliling kita terasa begitu menyebalkan, sehingga kita ingin melarikan diri dan menjauh dari mereka. Kadang saat bersama mereka yang muncul dalam perbincangan hanyalah perdebatan dan pertengkaran, sehingga lebih baik bagi kita untuk menjaga jarak dan membuat batas maya dengan mereka. Kita begitu jenuh dengan suasana seperti itu, bosan dengan nasihat dan petuah juga kadang kita merasa tersinggung dengan perkataan atau perbuatan mereka. Saat-saat seperti itu kita merasa solusi terbaik hanyalah melarikan diri, menjauh dari mereka sejauh-jauhnya, dan lepas dari segala kendali dan pengaruh mereka dalam kehidupan kita. Seakan-akan pelarian adalah satu-satunya jawaban untuk dapat memadamkan segala macam perasaan yang mengganggu di dalam hati kita.

Mungkin itu yang sedang Anda alami, seperti yang pernah saya alami dulu. Seringkali saya merasa menyendiri adalah pilihan terbaik dalam hidup ini. Semakin saya menjauh, semakin nyaman perasaan hati saya. Semakin lama saya tidak bersama mereka, semakin kecil kemungkinan hati dan perasaan saya terluka. Bahkan saya pernah sampai ke suatu titik dimana saya merasa tidak membutuhkan siapa-siapa, karena berhubungan dengan orang lain hanya berarti satu buat saya : rasa sakit.

Hidup terus berlangsung di dalam kesendirian, sampai saya sampai ke suatu titik dimana saya menyadari bahwa hidup ini penuh dengan rasa sakit, dan luka ini adalah proses bagi kita untuk menjadi lebih baik. "Pain is what keep me growing," sebuah frase yang sering kali digunakan oleh seorang teman saya. Memang tidak mungkin bagi kita untuk menyenangkan semua orang dan berdamai dengan semua orang karena hal itu adalah hal yang mustahil. Tapi hal itu bukanlah alasan bagi kita untuk menjauh dan menyendiri.

Adalah hak Anda untuk menjauh dari orang-orang yang menyebalkan. Saya pun memilih demikian, menjauh dari orang-orang yang membuat saya terluka dan sakit hati, menghapus mereka dari lembar kehidupan saya. Tapi lain halnya dengan keluarga kita. Bagaimanapun luka yang mereka timbulkan, tetap mereka adalah keluarga kita. "Darah lebih kental daripada air," ikatan batin antar anggota keluarga sangat erat, bahkan untuk diputuskan oleh rasa sakit hati sekalipun. Kita butuh keluarga, kita butuh mereka. Sebuah tempat yang disebut "rumah" dimana saat kita masuk ke dalamnya kita merasa aman dan nyaman setelah seharian menghadapi dunia yang kejam di luar sana. Sebuah tempat yang bisa memberikan rasa hangat saat hati ini mulai dingin melihat dunia yang egois. Sebuah tempat yang mampu meneduhkan hati saat perasaan ini sedang marah akibat perbuatan-perbuatan jahat orang-orang di luar sana. Sebuah tempat peristirahatan, tempat untuk menanggalkan beban-beban di hati dan tidur dengan nyenyak.

Begitulah akhirnya saya membutuhkan keluarga saya. Saat saya belum menikah, saya butuh kedua orang tua dan saudara-saudara saya. Nanti setelah menikah saya pun tetap membutuhkan mereka, bahkan saya memiliki pasangan untuk berbagi segala beban, juga orang tua (baca : mertua) dan saudara (baca : ipar) baru, dan nantinya anak-anak sebagai tempat curahan kasih. Saat seluruh dunia berpaling menentang Anda, keluarga lah yang akan menjadi tempat Anda bernaung. Percaya atau tidak, kita butuh keluarga kita, sebagaimana mereka membutuhkan kita...

You don't choose your family. They are God's gift to you, as you are to them.
- Desmond Tutu -

Sabtu, 26 Desember 2009

Hanya Masalah Cara Pandang...

Andrew Jackson lahir pada 15 Maret 1767 di daerah Lancaster, California Selatan. Sebagai seorang anak kecil dia hanya bisa menikmati pendidikan secara sporadis di sekolah-sekolah dusun yang terpencil, dan pada usia tiga belas tahun, Jackson bergabung sebagai kurir pada Perang Revolusi. Pada masa Revolusi Amerika, Andrew dan adiknya Robert tertangkap oleh pasukan Inggris, dan hampir mati kelaparan. Saat menjadi tawanan, Andrew membangkang ketika diperintahkan untuk membersihkan sepatu seorang perwira Inggris, yang berakibat goresan luka pada muka dan tangan kirinya akibat sabetan pedang perwira tersebut. Andrew dan Robert juga terkena cacar saat ditawan, dan Robert meninggal beberapa hari setelah mereka berdua dilepaskan. Insiden-insiden ini mengakibatkan kebencian abadi terhadap Kerajaan Inggris. Jackson telah menjadi presiden terakhir yang menduduki masa jabatan selama Perang Revolusi, dan satu-satunya presiden yang pernah menjadi seorang tawanan perang.

Pada 1787, Andrew telah tinggal di negara bagian Tennessee. Jackson telah menjadi seorang pengacara ternama, dan akan dicalonkan sebagai anggota kongres pertama ketika Tennessee resmi menjadi sebuah negara bagian di tahun 1796. Jackson dilantik oleh Senat Amerika Serikat pada tahun 1797, dan mengundurkan diri pada tahun 1798, dan kemudian dia menempati sebuah kursi di pengadilan tinggi negara. Jackson juga melayani sebagai kolonel milisi negara, dan selama perang di tahun 1812, angkatan militer Jackson mengalahkan "The Red Stick Creeks" pada perang "Horseshoe Bend" di Alabama pada 27 Maret 1814. Karir militer Jackson menanjak pesat, dan mencapai puncaknya pada Perang New Orleans, yang diperangkan pada 8 Januari 1815. Pada perang ini, Jackson memimpin pasukan sebesar enam ribu personil melawan armada Inggris yang berisi dua belas ribu personil, dan mengalahkan mereka dengan mudah. Jackson dijuluki "Old Hickory," mengingat ketangguhannya yang legendaris.

Ini hanyalah sebuah kisah dari ribuan kisah-kisah lainnya yang luar biasa tentang seorang anak kecil yang serba kekurangan, tertindas, bertahan, dan akhirnya bersinar bagaikan sebuah berlian yang belum diasah, perlahan-lahan mulai menunjukkan kilaunya saat diproses menjadi batu mulia. Kita tidak bisa memilih dimana kita dilahirkan. Kita sama sekali tidak memiliki kendali terhadap apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Mengapa saya harus dilahirkan tidak sempurna? Mengapa saya harus lahir di keluarga yang miskin? Mengapa kedua orang tua saya harus berpisah? Mengapa begitu banyak orang yang kejam dan jahat di sekeliling saya? Mengapa saya tidak memiliki bakat yang luar biasa seperti orang lain? Mengapa saya tidak memiliki kesempatan untuk mengecap pendidikan yang layak? Mengapa fisik saya tidak secantik atau setampan orang lain? Mengapa saya harus mengalami kegagalan dalam percintaan dan rumah tangga? Mengapa saya terus menderita? Dan berbagai "mengapa-mengapa" lainnya akan berlanjut tidak berujung jika kita mau memikirkan betapa nestapanya hidup ini.

Semua orang dilahirkan unik, untuk tujuannya masing-masing. Seorang Nick Vujicic (baca kisah lengkapnya) yang lahir tanpa tangan dan kaki melewati proses yang berat dan menjadi bukti bahwa kebahagiaan bukan datang dari keadaan lahiriah. Seorang Marion Luna Brem (baca kisah lengkapnya) yang mengidap kanker dan divonis mati, terus berjuang menjalani hidup dan tetap hidup sampai detik blog ini dibuat, bahkan dia sekarang sangat sukses sebagai seorang pengusaha wanita. Sepasang ayah dan anak Dick dan Rick Hoyt (baca kisah lengkapnya) yang sangat membara semangatnya dalam menembus rintangan, walaupun si anak lumpuh total dan semua orang menertawakannya saat mereka hendak ikut dalam perlombaan atletik. Dan masih banyak lagi kisah-kisah hidup pribadi-pribadi yang kurang beruntung tapi pada akhirnya menjadi berkat dan inspirasi bagi orang lain.

Apakah kita bisa menjadi seperti mereka? Kalau mau direnungkan lagi, kita memiliki banyak kelebihan dibanding mereka. Kita masih memiliki tangan dan kaki, tidak seperti Nick Vujicic yang benar-benar tanpa tungkai. Kita masih sehat walafiat, dibanding Marion Luna Brem yang mengidap kanker dan divonis mati dalam beberapa tahun. Kita memiliki keluarga yang sehat, yang dengan mudah saling menolong satu sama lain, tidak seperti Dick dan Rick Hoyt yang mengorbankan banyak hal untuk dapat saling membantu. Mengapa kita tidak bisa seperti mereka, menjadi orang yang luar biasa dan bersinar di tengah-tengah keriuhan dunia ini? Ada beberapa hal yang membedakan kita dengan mereka. Yang pertama, Rasa Syukur. Mereka mensyukuri keadaan yang ada, dan berusaha untuk mencari solusi masalahnya dengan lapang dada. Sebaliknya kita, bukannya memikirkan solusi, justru kita malah menghabiskan waktu untuk menggerutu dan mengeluh. Yang kedua, Keteguhan Hati. Saat mereka dihadapkan dengan situasi yang sebegitu sulitnya, mereka tidak menyerah dan berujung pada depresi dan bunuh diri. Mereka terus berusaha, berusaha, dan berusaha. Tidak terhitung jatuh bangun yang dialami oleh mereka, tapi mereka tetap bertahan. Apakah kita sudah memiliki mental Keteguhan Hati seperti mereka? Apakah justru saat mengalami situasi sulit kita memilih untuk melarikan diri daripada menghadapinya?

"Oke, oke, mudah bicara sulit melakukannya. Bagaimana caranya saya harus bersyukur dan tegar dalam menghadapi hal yang sedemikian buruknya?" mungkin saja Anda bertanya seperti itu. Kunci dari semua ini adalah CARA PANDANG. Apapun keadaannya, semua bisa menjadi lebih baik hanya dengan mengubah cara Anda memandang. Apakah Anda memandang situasi dan keadaan yang sulit sebagai suatu tekanan, ataukah justru suatu tantangan? Sebagai sebuah tekanan, tentu saja Anda akan merasa dongkol dan menjalaninya dengan setengah hati. Tapi sebagai suatu tantangan, masalah apapun akan bisa dihadapi dengan lapang dada dan keteguhan hati, sebab kita berfokus bukan pada keadaan sekarang, tapi pada keadaan di masa depan. Sebuah VISI, menjadikan apapun situasi kita saat ini, baik atau buruk, sebagai pijakan ke arah depan yang lebih baik....


“Keep your dreams alive. Understand to achieve anything requires faith and belief in yourself, vision, hard work, determination, and dedication. Remember all things are possible for those who believe.” 
- Gail Devers -

Jumat, 25 Desember 2009

Sebuah Kisah Natal...

Saya sedang bergegas menuju sebuah department store untuk membeli kado Natal di saat-saat terakhir. Saat melihat antrian saya pun mulai menggerutu. Saya akan menghabiskan waktu yang banyak di sini sedangkan saya masih harus melakukan banyak hal. Natal pun mulai terasa sangat merepotkan. Saya agak berharap kalau saja saya bisa tidur sepanjang liburan Natal. Tapi saya memaksa diri untuk bergegas sebisa mungkin menerobos sedemikian banyak orang di bagian mainan anak-anak. Sekali lagi saya sedikit menggerutu pada diri saya sendiri saat melihat harga mainan-mainan itu. Dan saya kuatir apakah cucu-cucu saya suka dengan mainan-mainan itu.

Saya pun berakhir di lorong boneka. Di sebuah pojok pandangan saya tertuju pada seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun yang sedang menggendong sebuah boneka cantik. Dia terus mengelus rambutnya dan menggendongnya dengan lembut. Saya tidak dapat menahan diri saya dan terus melihat anak laki-laki itu sambil diliputi rasa penasaran boneka itu diperuntukkan kepada siapa. Saya melihatnya berpaling ke arah seorang wanita dan dia memanggilnya bibi dan berkata, "Apakah bibi yakin saya tidak mempunyai cukup uang?" Sang bibi menjawab dengan sedikit kesal, "Kau tahu bahwa kau tidak mempunyai cukup uang untuk membeli boneka itu." Sang bibi pun memberitahu anak tersebut untuk tidak pergi kemana-mana karena dia harus mencari beberapa barang lainnya dan akan kembali dalam beberapa menit. Kemudian dia meninggalkan lorong itu dan anak tersebut melanjutkan acaranya menggendong boneka itu.

Sesaat kemudian saya bertanya kepada anak itu boneka itu diperuntukkan untuk siapa. Dia berkata, "Ini adalah boneka yang sangat diinginkan oleh adik saya untuk Natal. Dia yakin sekali bahwa Santa akan memberikan boneka ini kepadanya." Saya berkata kepada anak itu bahwa mungkin saja Santa akan memberikannya. Dia berkata "Tidak, Santa tidak dapat pergi ke tempat dimana adik saya berada... Saya harus menitipkan boneka ini kepada ibu untuk dapat diberikan kepada adik saya." Saya pun bertanya kepadanya dimana adiknya berada.

Dia melihat saya dengan pandangan penuh duka dan berkata "Dia telah pergi ke tempat Yesus. Ayah saya berkata ibu saya juga akan segera pergi menyusul dia." Jantung saya serasa hampir berhenti berdetak. Kemudian sang anak melihat ke arah saya lagi dan berkata, "Saya bilang kepada ayah saya untuk memberi tahu ibu jangan pergi dahulu. Saya berkata kepadanya untuk memberitahu ibu agar menunggu saya sampai saya pulang dari department store." Kemudian dia bertanya kepada saya apakah saya ingin melihat gambar yang baru saja dibuatnya. Saya merespon dengan senang hati. Dia mengeluarkan sebuah gambar sederhana yang baru dibuatnya tadi di depan department store. Dia berkata "Saya mau ibu turut membawa ini dengannya supaya dia tidak akan pernah lupa dengan saya. Saya sangat mencintai ibu dan berharap dia tidak harus pergi. Tapi ayah berkata dia harus pergi agar bisa bersama adik saya."

Saya melihat anak laki-laki ini menundukkan kepala dan terdiam. Ketika dia tidak melihat ke arah saya, saya pun meraih dompet saya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Saya berkata kepada anak ini, "Bolehkah saya menghitung uangmu sekali lagi?" Dia menjadi sangat bersemangat, sambil menyodorkan uangnya kepada saya diapun berkata "Ya, boleh, dan saya yakin sekali ini cukup." Demikianlah saya menyelipkan uang saya di antara uang miliknya dan mulai menghitung, dan tentu saja jumlahnya cukup untuk membeli boneka tersebut. Dia berkata dengan lembut, "Terima kasih Yesus untuk memberikan saya uang yang cukup." Kemudian si anak berkata "Saya tadi baru saja meminta kepada Yesus untuk memberikan saya uang yang cukup untuk membeli boneka ini supaya ibu bisa membawanya bersama dia untuk diberikan kepada adik saya. Dan Dia mendengar doa saya. Tadinya saya mau meminta kepadaNya uang lebih untuk membeli boneka ini dan setangkai mawar putih untuk ibu, tapi saya tidak jadi memintaNya. Tapi Dia tahu isi hati saya dan memberi saya lebih dari cukup untuk membeli sebuah boneka dan setangkai mawar untuk ibu. Ibu saya sangat menyukai mawar putih."

Beberapa menit kemudian sang bibi kembali dan saya pun mendorong gerobak belanja saya pergi menjauh. Saya tidak dapat berhenti memikirkan anak laki-laki tadi saat saya selesai belanja dalam suasana hati yang sangat bertolak belakang pada saat saya mulai berbelanja. Dan saya juga terus teringat sebuah cerita yang saya lihat di surat kabar beberapa hari sebelumnya mengenai seorang pengemudi mabuk yang menabrak sebuah mobil membunuh seorang anak perempuan dan sang ibu dalam kondisi sangat memprihatinkan. Keluarga korban sedang memutuskan untuk melanjutkan atau menghentikan pengobatan terhadap sang ibu. Saya saat itu yakin bahwa anak laki-laki ini tidaklah berkaitan dengan cerita ini.

Dua hari kemudian saya membaca di surat kabar bahwa keluarga tersebut telah menghentikan segala upaya pengobatan dan pendukung kehidupan sehingga sang wanita muda itu telah meninggal. Saya tidak dapat melupakan anak laki-laki itu dan terus bertanya dalam hati apakah mereka saling berhubungan. Hari itu juga, saya tidak dapat menahan diri saya untuk pergi keluar membeli beberapa mawar putih dan membawanya ke rumah duka di mana wanita itu berada. Dan jenazahnya ada di sana sambil memegang sebuah mawar putih yang indah, sebuah boneka cantik, dan gambar dari anak laki-laki yang saya temui di department store.

Saya meninggalkan tempat itu dengan berlinang air mata, cara saya melihat kehidupan telah berubah semenjak saat itu. Cinta anak laki-laki itu terhadap adik dan ibunya sangat berlimpah ruah, dan dalam hitungan detik seorang pengemudi mabuk telah menghancurkan kehidupan anak laki-laki tersebut menjadi kepingan-kepingan yang tidak akan pernah dapat diperbaiki lagi.

"Kita menjalani hidup dengan apa yang kita peroleh; Kita menjadikan sesuatu terasa hidup dengan apa yang kita beri." Semoga di hari Natal ini kita bisa belajar memberi, walaupun hal kecil, akan sangat bermakna bagi orang yang menerimanya. Merry Christmas and Happy New Year, semoga semangat Natal terus ada di hati kita sepanjang tahun mendatang...