Jumat, 06 November 2009

Bosan Hidup???

Seorang pria mendatangi Orang Bijak, “Saya sudah bosan hidup, sungguh sangat jenuh. Rumah tangga saya berantakan, usaha saya kacau, apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati saja rasanya.”

Si Bijak pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.” Tapi pria itu menjawab, “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat walafiat. Saya hanya jenuh dengan kehidupan ini. Itulah sebabnya saya ingin mati”. Tidak peduli dengan pembelaannya, Orang Bijak itupun meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup.’ Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”

Banyak sekali di antara kita yang juga alergi terhadap kehidupan. Tanpa sadar kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita ingin berhenti. Akhirnya kita berhenti di tempat, dan tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Resistensi dan penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Sebuah usaha pasti ada pasang-surutnya, berumah-tangga wajar terjadi bentrokan-bentrokan kecil, persahabatan pun tidak selalu langgeng. Sebenarnya apa yang bisa abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari tentang sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan sesuatu, kemudian kita gagal, kecewa dan akhirnya menderita.

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjuk.” Demikian saran Si Bijak. "Tidak, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Saya sudah tidak ingin hidup lagi.” pria itu menolak tawaran tersebut. “Jadi kamu tidak ingin sembuh? Kamu sungguh ingin mati?” tanya Orang Bijak. “Ya, saya memang sudah bosan hidup,” dengan mantap pria itu menjawab. “Baiklah, besok sore kamu akan mati. Ambil botol ini, setengah botol diminum malam ini, sisanya dihabiskan besok jam enam sore, dan pada jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.” Perintah Si Bijak. Sekarang giliran pria tersebut bingung. Setiap orang yang dia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat hidup. Yang satu ini aneh, bahkan malah menawarkan racun. Tetapi karena ia memang sudah sungguh-sungguh jenuh, iapun menerimanya dengan senang hati.

Pulang ke rumah, dia langsung meneguk setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Orang Bijak itu. Dan dia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks dan santai. Tersisa satu hari satu malam dalam hidupnya. Ia akan segera terbebas dari segala macam masalah. Malam itu dia memutuskan untuk makan malam bersama keluarganya di restoran. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan belakangan ini. Pikirnya karena ini adalah malam terakhir, dia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil menikmati makan malam, dia bersenda gurau. Suasana pun menjadi sangat hangat dan akrab.

Sebelum tidur, dia mencium istrinya dan membisikkan, “Sayang, aku mencintaimu.“ Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya saat bangun tidur, dia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Hembusan angin pagi terasa segar sekali, menggoda dirinya untuk berjalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, dia melihat istrinya masih tertidur lelap. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Di tempat kerja ia menyapa dan menyalami setiap orang. Para karyawan pun bingung, “Hari ini Boss kita aneh sekali?” Dan sikap mereka pun ikut berubah. Mereka juga menjadi ramah satu sama lain. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Tiba-tiba segala sesuatu di sekitarnya berubah. Lebih ramah dan toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat yang berbeda. Hidup menjadi indah dan dia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam lima sore, dia melihat sang istri tercinta menunggunya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anaknya pun tidak ingin ketinggalan, “Pa, maafkan kami semua. Selama ini, Papa selalu pusing karena perilaku kami.” Tiba-tiba sungai kehidupannya mengalir kembali, semua menjadi sangat indah. Dia akhirnya mengurungkan niat untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum kemarin?

Ia mendatangi Orang Bijak itu lagi. Melihat wajah pria itu, Si Bijak langsung mengetahui apa yang terjadi. Katanya, “Buang saja botol itu. Isinya hanya air biasa. Kau sudah sembuh? Apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini."

"Hapus egomu, keangkuhanmu dan kesombonganmu. Jadilah lembut seperti air dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh dan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”

Pria itupun mengucapkan terima kasih dan menyalami Orang Bijak tersebut dan pulang ke rumah untuk mengulangi pengalaman seperti malam sebelumnya. Sejak saat itu dia mengalir terus, dia tidak pernah lupa hidup dalam ke-kini-an. Akhirnya diapun selalu bahagia, selalu tenang dan selalu HIDUP.

Hidup bukan beban yang harus dipikul tapi suatu anugerah untuk dinikmati...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar