Sebagian dari antara kita mungkin lebih suka dipercaya dalam hal-hal besar daripada dalam hal-hal kecil. Memang tanggung jawab dan risikonya juga makin besar. Namun harapannya semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula hasil dan kepuasan yang didapatkan. Maka hal-hal yang sederhana akhirnya hanya dipandang sebagai pekerjaan yang “tidak menantang.”
Namun ingatlah bahwa yang terpenting adalah keseriusan kita untuk mengerjakan segala sesuatu - entah hal itu “besar” atau “kecil.” Segala yang dipercayakan oleh Sang Tuan bukanlah yang utama, tetapi sikap kita sebagai hamba-hamba yang mengelolanya, itulah yang terpenting. Orang yang bijak mengembangkan titipan Sang Tuan dengan sebaik-baiknya. Itulah cara mereka menghargai kepercayaan Tuannya. Akan tetapi hamba yang bodoh akan menimbun titipan itu di dalam tanah. Sikap ini tidak berkenan di hadapan Sang Tuan, sebab si hamba yang bodoh ini tidak menggunakan kepercayaan yang ada dengan sebaik-baiknya. Mari kita melihat kembali apa saja yang telah dipercayakan dalam hidup kita. Mungkin kita dipercayakan sebuah pekerjaan yang lumayan, sebuah keluarga yang harmonis walaupun tidak kaya raya, sahabat-sahabat yang setia dan jujur, kelimpahan dalam hal materi, atau kemampuan untuk melakukan sesuatu. Sudahkah kita menggunakan dan mengembangkannya lebih lagi untuk menjadi berkat bagi orang lain sebagai bukti penghargaan kita terhadap Sang Tuan yang menitipkannya?
Meskipun ada alasan bagi kita untuk bersungut-sungut, tetaplah berjuang untuk setia mulai saat ini. “Sekecil” apa pun yang kita peroleh, kerjakanlah dengan serius. Sebab orang yang setia dalam perkara kecil, mereka mendapat tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar. Di dalam perkara kecil, tanggung jawab kita diasah!
Setialah dalam perkara “besar” atau “kecil”, sebab dengan demikian kita menyenangkan hatiNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar