Saya punya seorang teman, sebut saja namanya L, seorang yang sangat sentimentil. Dan dia sering sekali bergumul dengan dirinya sendiri, dan rasa empatinya. L adalah pribadi yang luar biasa. Baik, murah hati, penuh cinta yang tulus, dan yang paling istimewa, memiliki empati.
Dia hancur dan menangis setiap kali dia melihat atau membaca sesuatu yang mengharukan atau melihat orang lain menderita. Dia terlihat begitu rapuh, begitu rentan dengan air mata.
Namun, rasa empatinya lah yang menjadikannya sebagai pribadi yang paling mengagumkan yang saya kenal.
Untuk L adalah sangat penting untuk memiliki rasa cinta yang sedemikian besar.
Saya tidak pernah melihatnya bergembira saat saya atau orang-orang disekitarnya tidak gembira. L seperti sebuah wadah kosong yang dipenuhi dengan rasa dan emosi dari orang-orang disekitarnya dibanding dengan perasaannya sendiri. Tidak hanya saat sedih, saat senangpun L ikut merasakan sukacita lingkungannya. Dia adalah kegembiraan dan pusat keceriaan di tengah pesta, ketika orang disekelilingnya bergembira. Sepertinya dia hampir tidak memiliki kendali atas perasaannya. Tapi seperti yang saya katakan, dia adalah insan yang mengagumkan yang hadir sebagai anugrah untuk hidup saya. Seseorang yang mampu untuk mencintai semua orang.
- Dedicated to my loving and full of compassion friends -
Murah hati selalu berkenaan dengan sikap memberi; entah memberi waktu, tenaga, materi, atau juga memberi diri. Namun, tidak semua pemberian bertolak dari kemurahan hati. Sebab bisa saja orang memberi dengan maksud tertentu, dengan kata lain ada pamrihnya. Murah hati mengandung tiga pengertian: (1) Simpati, kesediaan untuk menangung kesusahan dan kesedihan orang lain; (2) Empati, kesediaan untuk menempatkan diri pada “posisi” orang lain; ikut merasakan dan mengalami apa yang orang lain rasakan atau alami; (3) Pengampunan, kesediaan untuk memaafkan orang lain yang menyakiti, lalu memulai kembali hubungan baru tanpa dibayangi kebencian.
Pada zaman modern sekarang ini nilai-nilai kemurahan hati semakin terkikis. Rasa simpati telah menjadi sesuatu yang langka. Orang bisa sambil tertawa membicarakan musibah yang menimpa orang lain, bahkan dengan tega menambah kesulitan pada orang lain yang hidupnya sudah susah. Empati juga semakin sukar ditemui. Orang gampang melontarkan celaan, fitnahan, gosip, ejekan terhadap orang lain, tanpa memikirkan bagaimana kalau mereka yang mengalaminya. Begitu pula pengampunan yang jadi semakin mahal. Sebaliknya balas dendam; mata ganti mata, gigi ganti gigi, semakin tumbuh kuat di dalam sikap hidup belakangan ini.
Marilah kita belajar untuk bermurah hati dan menjadi pribadi-pribadi yang mengagumkan. Belajar untuk menumbuhkan dan mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemurahan hati pada zaman sekarang ini ibarat segelas air segar di padang gersang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar