Senin, 26 Juli 2010

Pengampunan, Kebebasan, Pelepasan dan Melanjutkan Hidup...

Sebuah Kisah Yang Mengharukan Mengenai Pengampunan.

Bayangkan bagaimana rasanya berada di dalam kendaraan Anda, menyetir mobil dengan perasaan tenang dan damai, dan kemudian mendadak sesuatu yang keras menghantam dan memecahkan kaca mobil depan Anda, menghantam Anda dan meremukkan hampir semua tulang di wajah Anda. Dan ternyata "senjata" yang menghantam Anda itu adalah sebuah kalkun beku, dihempaskan dari jendela belakang sebuah mobil yang sedang mengebut dikendarai oleh seorang mahasiswa dalam perjalanan ugal-ugalan dengan teman-temannya.

Hal inilah yang terjadi pada Victoria Ruvolo, seorang manajer berusia 44 tahun, pada sebuah jalan pada bagian Timur kota Riverhead di Long Island. Dia bisa saja terbunuh, dan bisa saja mengalami kerusakan otak. Para ahli bedah harus memperbaiki wajahnya menggunakan pelat logam dan baut. Namun secara luar biasa, dia sembuh dan dalam beberapa bulan dia pulih dan kembali bekerja.

Tapi itu bukan cerita yang ingin dissampaikan. Yang terjadi pada bulan Agustus di persidangan inilah yang menjadikan cerita ini sebuah kisah yang perlu diingat. Bocah yang melempar kalkun tersebut, Ryan Crushing berusia 19 tahun dan menderita gangguan penglihatan, didakwa atas serangan tingkat pertama dan menghadapi hukuman maksimal 25 tahun penjara. Dan kemudian Ruvolo pun masuk ke ruang sidang.

Saya belajar bahwa pengampunan dimulai dengan melepaskan kemarahan kita. Saat hal itu telah dilakukan, kebebasan hadir kembali dalam diri kita. Kita dapat melanjutkan ke tahap berikutnya dari pengampunan,yaitu mendoakan mereka yang telah menyakiti kita dan menyadari bahwa insan ini juga ciptaan Tuhan.

Dia melihat Crushing pertama kali saat di luar ruang sidang. Sang pemuda berhenti, tersedak dan menangis sambil berusaha untuk meminta maaf kepada perempuan malang itu.

"Dalam beberapa menit yang sangat emosional, Ruvolo justru merangkul pemuda itu dengan erat, mengelus wajahnya dan menepuk pundak pemuda itu saat dia terisak tak terkendali," tulis seorang reporter New York Times. Saat sang pemuda terus menerus berkata, "Saya minta maaf, saya sungguh-sungguh tidak bermaksud menyakiti Anda," sang wanita yang bisa saja terbunuh menjawab berulang kali, "Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Saya hanya ingin kamu menjalani hidupmu sebaik mungkin."

Kemudian, dengan desakan Ruvolo, penuntut setuju untuk menurunkan masa hukuman Crushing sehingga dia hanya mendekam enam bulan di penjara dan lima tahun masa percobaan, bukan 25 tahun kurungan.

Sang penuntut yang sudah menjalani profesinya selama 30 tahun berkata "Saya tidak pernah melihat seorang korban yang begitu pemaaf."

Begitu banyak kisah dan tulisan yang telah ada mengenai pengampunan. Saya sendiri telah berusaha untuk mendedikasikan waktu dan kata-kata untuk membagikan proses yang harus saya lewati agar dapat memaafkan orang-orang yang begitu kejam dalam hidup saya. Jika saya ditanya : Apakah pengampunan memungkinkan bagi orang yang menghancurkan hidup Anda? Memang butuh waktu, tapi bila tiba saatnya saya akan menjawab ya.

Pada saat-saat mencari pengampunan saya menyadari hal apa yang membuat pengampunan menjadi sangat sulit. Kemarahan.

Saat saya melihat cahaya dan kebenaran dari apa yang dapat dilakukan rasa marah terhadap diri saya, seketika itu juga saya menggarisbawahi kebutuhan saya untuk sebuah pengampunan. Saya merelakan niat dan kemampuan untuk mengejar prinsip yang populer tapi palsu bahwa kita dibenarkan untuk "membalas dendam."

Dan disinilah saya belajar bahwa pengampunan dimulai dengan melepaskan kemarahan kita. Saat hal itu telah dilakukan, kebebasan hadir kembali dalam diri kita. Kita dapat melanjutkan ke tahap berikutnya dari pengampunan,yaitu mendoakan mereka yang telah menyakiti kita dan menyadari bahwa insan ini juga ciptaan Tuhan.

Saya rasa hal ini jugalah yang dipercayai oleh Ruvolo.

New York Times juga menulis sebuah editorial mengenai Ruvolo, berjudul "Sebuah Momen Anugrah." Kata-kata yang tertulis di dalamnya sungguh mengharukan :

"Diberikan kesempatan untuk mendapatkan keadilan, Nona Ruvolo justru memberi dan mendapat sesuatu yang lebih baik : penghapusan kemarahan dan pemulihan harapan, sebuah sikap penyembuhan yang membersihkan bagaikan air matanya yang membasuh wajahnya yang rusak dan wajah sang bocah bodoh yang menyedihkan, dimana hidup pemuda tersebut dipulihkan oleh Nona Ruvolo seorang diri."

Sebuah anugrah luar biasa yang diberikan oleh Victoria Ruvolo...

Begitu banyak video yang telah diposting mengenai pengampunan dan memaafkan.











Saya berharap tulisan dan beberapa video ini dapat membantu kita untuk dapat memaafkan dan mengampuni. Maukah Anda dan Saya terbebas dari beban yang selama ini menghantui hidup kita hanya dengan satu tindakan - Mengampuni? 

“To forgive is the highest, most beautiful form of love. In return, you will receive untold peace and happiness” - Robert Muller

365 Hari Bersyukur...

Seni Bersyukur...

Kata bersyukur memiliki beberapa arti. Yang pertama adalah untuk berterima kasih atau menunjukkan rasa syukur. Arti lainnya adalah untuk menaikkan atau meningkatkan nilai sesuatu, misalnya menghargai waktu sebagai investasi yang berharga. Saya merasa dengan menghargai dan bersyukur, nilai dari hal-hal yang kita miliki dan kita inginkan dalam hidup kita juga akan meningkat.

Dalam hidup kita yang penuh hiruk-pikuk dan serba cepat, sangatlah mudah bagi kita untuk melupakan banyak hal yang seharusnya kita syukuri. Kita cenderung mengejar prestasi, dan menjadi orang yang berorientasi pada hasil.

Dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Walaupun demikian, sangatlah vital dan penting bagi kita untuk tidak kehilangan pandangan pada hal-hal yang jelas-jelas ada di dekat kita, hal-hal yang seringkali kita anggap sepele.

Apa yang kita fokuskan akan berkembang. Jika kita fokus pada masalah-masalah dalam hidup kita, mereka cenderung akan bertambah sulit. Jika kita fokus pada hal-hal baik yang telah kita miliki, hal ini juga, memiliki kecenderungan untuk bertumbuh.

Saya melihat hal ini sebagai bentuk lain dari doa. Jika kita kuatir dan resah oleh berbagai masalah, kita menjadikan masalah-masalah itu bertambah besar dari keadaan sesungguhnya, dan hal ini bagaikan magnet yang akan menambah masalah-masalah itu menjadi benar-benar besar. Hal ini bagaikan sebuah doa negatif... sebuah doa yang terbalik.

Berfokus pada apa yang kita PUNYA dan apa yang kita INGINI, mulai menghargai hal-hal ini - dan mereka akan benar-benar bertumbuh.

Sesaat sebelum pergi tidur setiap malam, saya dan istri saya berbagi setidaknya tiga hal yang patut kita syukuri. Kami menyebutnya sebagai ritual "Bersyukur." Hanya perlu beberapa saat, tapi ritual ini mengalihkan pikiran kami pada hal-hal yang baik... pada hal-hal yang kami harapkan untuk bertambah dan bertumbuh dalam hidup kami.

Saya menyarankan untuk melakukan perenungan secara sadar atas berkat-berkat yang Anda terima tiap-tiap hari daripada melakukannya dalam periode per tahun. Jika Anda melakukannya, Anda akan merasakan bagaimana hal-hal ini lebih nyata hadir - tidak hanya hadir, tetapi juga bertumbuh - dalam hidup Anda.

"Jika Anda belajar untuk lebih menghargai terhadap hal-hal yang telah Anda miliki, Anda akan menyadari ternyata Anda memiliki lebih banyak hal yang patut Anda syukuri." - Michael Angier.

Sungguh luar biasa saat kita menyadari begitu banyak hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Pernahkah terpikir oleh Anda untuk membuat jurnal harian untuk hal-hal yang patut Anda syukuri? Mungkin pernah terbersit di benak Anda, tapi seringkali kesibukan membuat kita lupa untuk tetap konsisten dalam membuat jurnal ini. Mungkin situs ini dapat membantu, sebuah situs bertema 356 Days of Being Grateful (365 Hari Dengan Bersyukur).

When you’re grateful, that allows God to do great things in your life - Joel Osteen

Minggu, 25 Juli 2010

Tidak Banyak Melihat...

Kawan saya, suami-istri pemilik warung makan sederhana, mengatur keuangan mereka secara menarik. Setiap hari mereka menyisihkan penghasilan ke dalam beberapa kaleng menurut keperluan-keperluan tertentu. Dengan cara itu, mereka berhasil mencicil sepeda motor selama dua tahun, dan kini masih aktif membayar premi asuransi pendidikan untuk kedua anak mereka. Apa kunci mereka dalam berdisiplin mengelola keuangan? “Tidak sering jalan-jalan,” kata sang istri. "Kenapa begitu?" “Kalau sering jalan-jalan, kan banyak yang dilihat. Kalau banyak yang dilihat, banyak juga yang diinginkan,” jelasnya.

Keinginan memang ada dalam diri setiap manusia. Sesuatu yang masih tersimpan di dalam hati; belum terwujud menjadi tindakan - tetapi, mengapa dilarang? Memangnya ada yang salah dengan keinginan? Apakah manusia tidak boleh memiliki keinginan? Tentu tidak. Yang terpenting adalah mengendalikan keinginan. Tidak semua hal perlu diinginkan. Keinginan ada yang patut dan ada yang tidak patut; mesti dipilah dan dipilih mana yang sesuai dengan situasi dan kondisi.

Meskipun masih di dalam hati, keinginan yang tidak terkendali menjadikan kita rentan terhadap pencobaan. Daripada mengumbar keinginan, marilah kita belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Belajar untuk bersyukur atas apa yang sudah kita miliki; berkat yang sudah disediakan Tuhan untuk kita. Dengan begitu, kita akan menggunakan berkat tersebut secara efektif. Kita tidak menghambur-hamburkannya untuk keinginan yang sia-sia, tetapi memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermakna.

Keinginan yang tidak dikendalikan akan berbalik mengendalikan kita.

Kamis, 22 Juli 2010

Siapa Peduli?

Akhir April lalu terjadi peristiwa tragis. Hugo Tale Yax, seorang gelandangan, tertikam senjata tajam karena menolong seorang perempuan yang dirampok. Saat ia sekarat di tepi jalan selama dua jam, tak seorang pun peduli untuk menolongnya walaupun banyak orang lalu lalang. Ada yang memotret, memperhatikan, juga mencoba mengangkatnya dari genangan darah, tetapi kemudian tetap ditinggalkan. Ironisnya, peristiwa ini terjadi di New York di mana kantor pusat PBB yang mengurus masalah kemanusiaan berada. Akhirnya polisi menemukan gelandangan baik hati itu telah menjadi mayat. Jangan kaget apabila ketidakpedulian telah menjadi hal yang lumrah pada jaman sekarang.



Pada zaman modern di mana tingkat persaingan makin tinggi, ketika hati manusia semakin dingin dan lebih mencintai dirinya sendiri, kita dipanggil untuk mendemonstrasikan kasih kepada sesama dalam tindakan nyata. Kepedulian memang tidak menghentikan kejahatan, tetapi bisa memberi kesempatan kepada mereka yang terkapar sebagai “korban ketakpedulian” untuk tetap hidup dan berjuang dengan penuh harapan.

Jangan biarkan kepedulian punah dalam hidup ini...

Bengkok, Tapi Jangan Sampai Patah

Salah satu kenangan yang teringat di benak saya adalah saat saya berada di sungai dan duduk di tepiannya. Di sana saya menikmati kedamaian dan kesunyian, memandangi air yang mengalir turun, mendengarkan kicauan burun dan suara dedaunan dari pohon-pohon di sekitar. Saya juga mengamati pohon-pohon bambu yang bengkok akibat tekanan udara yang kuat dan secara anggun mereka kembali ke posisi tegak setelah angin yang menerpa mereka berlalu.

Ketika saya memikirkan kemampuan pohon bambu tersebut yang dapat memantulkan tekanan atau kembali ke posisi semula, kata ketahanan datang dalam pikiran saya. Bila digunakan sebagai acuan untuk seseorang kata ini berarti kemampuan untuk segera pulih dari goncangan, depresi atau situasi apapun yang menekan batas diri seseorang.

Apakah Anda pernah merasa seperti akan patah? Apakah Anda pernah merasa seperti berada di titik puncak daya tahan Anda? Bersyukurlah karena Anda mampu bertahan dalam menghadapi pengalaman itu dan tetap hidup untuk membagikannya kepada yang membutuhkan. Selama pengalaman itu mungkin Anda merasa merasakan berbagai perasaan bercampur aduk dan kesehatan fisik Anda terganggu. Anda secara emosional kering, lelah secara mental dan bukan tidak mungkin mengalami gejala-gejala gangguan kesehatan fisik yang tidak menyenangkan.

Hidup adalah kombinasi dari saat-saat indah dan saat-saat buruk, momen-momen bahagia dan momen-momen tidak bahagia. Bila Anda mengalami saat-saat buruk atau momen-momen tidak bahagia yang membawa Anda pada titik patah, bengkoklah, tapi jangan patah. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak dikuasai oleh situasi.

Sebuah sikap penuh pengharapan akan membantu Anda menghadapi masa-masa tidak menyenangkan ini. Dengan harapan untuk hari esok yang lebih baik atau situasi yang lebih baik, keadaan jadi terlihat lebih ringan dari sebelumnya. Siksaan yang Anda hadapi akan lebih mudah dihadapi dengan melihat hasil akhir yang akan Anda dapatkan.

Jika keadaan menjadi buruk dan Anda pada titik patah Anda, tunjukkan ketahanan. Seperti pohon bambu, bengkok, tapi jangan sampai patah!

Jumat, 09 Juli 2010

Roda Kehidupan...

Selama 45 tahun, Ken Karpman hidup nyaris dalam kesempurnaan. Ia lulus dari salah satu universitas terbaik di Amerika dan menikah dengan gadis impiannya. Kariernya sebagai pialang saham terus menanjak dan memberinya penghasilan hingga Rp8,8 miliar per tahun. Lalu tibalah saat itu. Tahun 2008 resesi menghantam perekonomian Amerika. Hidup Karpman pun “terjun bebas” dalam sekejap. Ia kehilangan pekerjaan, tabungan, dan hartanya.

Untuk menghidupi keluarganya, Karpman mengambil langkah drastis. Ia melamar pekerjaan sebagai pengantar pizza dengan penghasilan yang amat pas-pasan, bahkan untuk orang kebanyakan. Kehidupannya pun berubah 180 derajat, tetapi ia tidak menyesalinya, “Ini hanya sebuah proses. Saya mensyukuri tiap sen yang saya dapat. Ada pelajaran berharga dari setiap potong pizza yang saya antar, yaitu kerendahan hati.”



Hidup di dunia ini memang serba tidak pasti. Apa yang ada kini, bisa tiba-tiba hilang tak berbekas. Hari ini kita berhasil, besok gagal. Usaha yang semula maju mendadak bangkrut. Kita semula sehat, tiba-tiba sakit. Namun, tak usah khawatir. Sejauh kita berjalan bersamaNya, semua itu tak akan “melumpuhkan” kita. Bersama Yang Kuasa, kita siap menghadapi perubahan apa pun yang terjadi.

"Roda kehidupan selalu berubah, terkadang di atas, terkadang di bawah. Tetapi ingat kasih setia-Nya tidak pernah berubah."

Minggu, 30 Mei 2010

Bangkitkan Cinta Mula-Mula...

Seringkali kita merasakan bahwa hidup ini mulai terasa membosankan saat kita berkeluarga, mulai segalanya terasa perlahan-lahan kering. Rasa cinta yang begitu besar awalnya pada saat mulai berpacaran, perlahan-lahan mulai surut seiring dengan berjalannya waktu. Saat ini saya hanya ingin berbagi cerita agar rasa cinta kita terhadap pasangan kita dapat disegarkan kembali melalui kisah yang menyentuh ini :

Kisah ini menceritakan tentang pasangan muda yang bernama Jim dan Della. Mereka miskin namun mereka saling mencintai satu sama lain.

Saat menjelang Natal, Della berpikir untuk memberikan Jim sebuah hadiah Natal. Dia sangat ingin memberikan suaminya sebuah rantai untuk jam kantungnya, tetapi dia tidak memiliki cukup uang. Kemudian diapun mendapat sebuah ide. Dia memiliki rambut panjang yang indah. Dan akhirnya Della memutuskan untuk memotong rambutnya dan menjualnya supaya dia dapat membelikan sebuah rantai yang bagus untuk jam kantungnya Jim.

Pada malam Natal dia pulang ke rumah, dan di dalam tangannya ada sebuah kotak indah berisi rantai jam terbuat dari emas yang dia beli dengan menjual rambutnya. Kemudian Della mulai kuatir. Dia tahu Jim sangat mengagumi rambut panjangnya, dan dia bertanya-tanya apakah Jim akan kecewa saat Jim mengetahui bahwa dia memotong rambutnya dan menjualnya.

Della pun menaiki tangga dengan penuh rasa bingung menuju apartemen mereka yang kecil. Saat dia membuka pintu, dia terkejut melihat Jim sudah berada di rumah dan sedang menunggunya. Di dalam genggaman tangannya ada sebuah kotak yang terbungkus rapi berisi kado yang Jim belikan untuk istrinya.

Saat Della melepas scarfnya dan Jim melihat rambut Della yang pendek, mata Jim mulai berkaca-kaca. Tapi dia menahan air matanya agar tidak menetes dan memberikan Della kotak hadiahnya.

Saat Della membukanya, diapun tidak dapat mempercayai apa yang ada di depannya. Di dalam kotak itu ada satu set sisir perak yang indah untuk rambutnya yang panjang.

Dan saat Jim membuka bingkisannya, diapun juga terkejut. Di dalam kotak itu ada sebuah rantai emas yang indah untuk jam kantung emasnya. Hanya saja saat itu Della mengetahui bahwa Jim menggadaikan jam emasnya untuk membelikan istrinya sisir-sisir perak tersebut.

Hadiah-hadiah ini sebenarnya sangat indah, tetapi jauh lebih indah cinta yang dilambangkan oleh hadiah-hadiah yang mereka berikan ini.

O. Henry

Mari kita segarkan kembali kasih dan cinta kita kepada pasangan kita. Saat segalanya mulai terlihat tidak baik, ingat saat pertama kali kita bertemu dengan pasangan kita. Bangkitkan cinta yang dahulu pernah ada. Belajar mengingat kebaikan pasangan kita, bukan hanya melihat keburukannya. Anda pernah mencintainya dengan sepenuh hati jiwa raga Anda, mengapa sekarang tidak? Semoga kisah sederhana di atas dapat membangkitkan rasa cinta mula-mula yang sekarang mulai pudar...

Selasa, 25 Mei 2010

Sebuah Kisah Tentang Tekad

Hidup dapat menjadi hal yang paling kejam bagi beberapa orang dan ketika hal itu terjadi pada seseorang hanya tersisa dua pilihan. Mereka dapat mengalah dan menyerah, atau bahkan mencoba untuk bunuh diri, atau berusaha untuk melawan balik keadaan.

TinyRay Grier adalah seorang petarung. Pada tahun 1972 di usia 17 tahun TinyRay sedang bermain bola kaki di SMU ketika sebuah kecelakaan mengakibatkan kerusakan tulang belakang yang parah. Ini adalah momen yang menghapus semua impian pemuda itu dan meninggalkan dirinya dengan masa depan yang penuh ketidak pastian.

Operasi demi operasi berlangsung dan TinyRay menderita rasa sakit tiada akhir. Cedera tulang belakangnya menjadi komplikasi yang sangat parah akibat sebuah kecelakaan mobil dan beberapa gegar otak.

Tubuh ini tidak pernah dirancang untuk diam. Tubuh ini tidak dirancang untuk tetap berada dalam satu posisi di kursi roda walaupun menjalani latihan, TinyRay merasakan rasa sakit akibat berada dalam posisi lumpuh permanen ini.

Dalam beberapa tahun dia telah berjuang mengatasi beberapa penyakit ini:

Asthma - COPD
Degenerative Joint Disease
Strokes - April 98, July 98
Hypertension
Diabetes
Acid Reflux
Diastolic Dysfunction
Reflex Sympathetic Dystrophy
Spinal Stenosis
Spina Bifida - Occulta
Right Shoulder Impingement
Carpel Tunnel Syndrome
Calcified Granuloma - Bottom Lobe Right Lung
Sleep Apnea
Chronic Sinusitis - Allergies

Sebagian besar dari penyakit ini adalah dampak akibat kecelakaan yang diakibatkan ketika seorang pemuda pergi untuk menikmati sebuah permainan bola kaki tanpa menyadari bahwa itu adalah kesempatan terakhirnya untuk menikmati permainan tersebut.

Sampai saat ini TinyRay menunggu dengan penuh harap dan kesabaran untuk beberapa suntikan tulang belakang, yang *mungkin* menghalau rasa sakit yang menyiksa itu untuk sementara, atau untuk sebuah operasi, sebuah pilihan yang mungkin menjadikannya lebih lumpuh lagi dan lebih bergantung pada orang lain dibanding saat ini.

Tapi TinyRay Grier tidak pernah menyerah. Dia menggunakan bakat luar biasanya dalam menggambar dan melukis untuk mengungkapkan perasaannya, untuk melawan keganasan rasa sakit yang dihadapinya setiap hari. Bakat dan dedikasinya pada seni menjadikan dirinya dihormati diantara rekan-rekannya dan gaya lukisannya mencerminkan sebuah ciri khas.

Setiap hari dia melukis, bersantai bersama keluarga atau menikmati kebebasan yang diberikan kepadanya melalui dunia internet. Dia mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang dia nikmati, mengangkat rasa sakit dan mengalihkan pandangannya dari masalah yang ada di depannya.

Dalam menjalani tahun-tahun penuh rasa sakit TinyRay bisa saja mengembangkan rasa benci pada dunia karena dunia telah mengambil kemampuannya untuk berjalan dan dia tetap hidup untuk menjalani hari-hari penuh siksaan ini. Tapi hal itu tidak terjadi. TinyRay merasa jika dunia ini tidak mau membantunya, dengan imannya kepada Tuhan, keluarga dan teman-teman, dia akan memperjuangkan hidup ini langkah demi langkah, dan dia melakukannya, setiap hari dan dalam setiap cara.

Rabu, 19 Mei 2010

Menjadi Kaya - Sebuah Kisah Nyata

Seringkali kita mengeluh saat himpitan materi menekan kita, terutama kita yang tinggal di kota-kota besar. Semua orang berlomba untuk menumpuk harta dan kekayaan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Memang di jaman sekarang ini segalanya butuh uang, tapi bukan berarti uang dapat membeli segalanya. Kebahagiaan tidak dapat dibeli oleh materi, dan seringkali kita melupakan hal itu. Berikut kisah seorang Jaye Lewis, sebuah kisah sederhana dan biasa saja, tapi menggugah hati.

Sehari setelah Natal kami berkeliaran pada sebuah toko buku bekas, dengan suami saya, Louie, anak perempuan kami, Jenny dan Helen, dan saya sendiri. Ini adalah waktu yang sangat berarti buat kami, karena kami akan berpisah lagi sebagai sebuah keluarga, hanya dalam beberapa hari.

Delapan bulan terakhir terasa sangat berat semenjak suami saya pensiun dari Angkatan Laut. Kami telah memanipulasi "sistem militer," ketika pada saat bertugas, kami berusaha untuk menghindari perpisahan yang lama satu sama lain semampu kami. Sekarang di sinilah kami, pensiun, dan hanya tersisa delapan bulan menjelang pepisahan terpanjang.

Ketika suami saya pensiun, kami mengetahui bahwa pekerjaan yang tersedia untuknya hanyalah di kota Norfolk, Virginia. Impian kami adalah untuk menghabiskan sisa hidup kami di pegunungan sebelah Barat Daya Virginia, sejauh enam setengah jam perjalanan. Dengan kondisi kesehatan saya yang menurun, sangatlah tidak memungkinkan untuk saya untuk tinggal bersama Louie di kota. Kami terus menerus dipisahkan, berdoa dan berharap agar ada sebuah pekerjaan yang tersedia di sebuah daerah indah yang kami sukai. Jadi disinilah kami, menunda hal yang tidak dapat dihindarkan, menghabiskan waktu di sebuah toko buku bekas, sebelum anak-anak dan saya kembali menuju ke Barat Daya Virginia. Saat itu kami miskin seperti hari-hari sebelumnya; namun kami sangat bersyukur karena bersama-sama, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk pelukan ekstra, berbagi impian dan tawa. Di sana hanya ada seorang lagi di dalam toko buku selain sang pemilik, seorang wanita yang menawan berusia lebih kurang sama dengan saya. Saya memperhatikan pakaiannya, sepatunya dan tas tangannya yang mahal, dan saya bertanya-tanya dalam hati apa rasanya menjadi kaya, masuk ke sebuah toko buku dan memiliki uang untuk membeli buku apapun yang saya inginkan. Tapi saat itu kami sangat bergembira, dan dalam sekejap saya melupakan wanita itu.

Kami berkelakar sambil melanjutkan perburuan harta kami, menggenggam uang kami sebanyak lima dollar, berharap untuk dapat menjadi yang pertama untuk menemukan buku yang paling tua, dan tentu saja paling murah. Itu adalah perjalanan yang menyedihkan sekaligus menyenangkan. Seringkali Louie dan saya melewati satu sama lain, mencari alasan untuk bersentuhan atau untuk memberi satu sama lain genggaman tangan ekstra. Jenny teringat tidak jauh dari toko buku ada sebuah mesin ATM, dan dia memutuskan bahwa dia membutuhkan tambahan duapuluh dollar dan bergegas pergi.

"Tidak adil!" Saya mengeluh. "Kami semua hanya dapat membelanjakan lima dollar, dan kamu akan menghabiskan duapuluh lima dollar?!"

Kami semua tertawa dan mulai mengolok-olok Jenny tanpa ampun, tapi dia dapat meyakinkan ayahnya bahwa dia harus mendapatkan $20 tambahan agar dapat membeli buku yang tidak dapat ditolaknya itu.

"Ayo, Jenny," Louie tertawa. "Ayah akan mengantarmu ke ATM."

Kemudian kami melakukan sebuah babak berpelukan dan berciuman lagi, tidak satupun dari kami ingin berpisah bahkan hanya untuk beberapa menit. Tak lama kemudian Louie dan saya berkata "selamat tinggal." Kami tidak dapat menolak kesempatan untuk meyakinkan satu sama lain tentang cinta kami, dan keyakinan kami bahwa perpisahan kami akan segera berakhir. Hal ini bagaikan sebuah sandiwara, drama situasi keluarga, namun kami tidak peduli tentang apa pendapat orang lain.

Keluarga militer sepertinya dapat dikategorikan menjadi dua : mereka yang mencari kesempatan untuk menunjukkan rasa sayang, dan mereka yang menghindari kontak, karena "selamat tinggal" adalah menyakitkan. Saya harus akhi kami adalah keluarga yang sangat penuh dengan "peluk-cium," dengan tidak menghiraukan orang lain, kami melanjutkan untuk memberikan kecupan dan pelukan terus menerus. Dalam karir militer, kami telah menyadari apapun dapat terjadi bahkan dalam perpisahan yang sangat singkat. Tapi sekarang ketika saya mengingat kembali, saya menyadari bagaimana kami terlihat sangat aneh.

Akhirnya, di antara banyak pelukan dan ciuman, saya melihat sebuah buku yang sempurna untuk saya! Buku itu berusia seratus tahun, dan berkisah persis pada periode waktu yang menjadi favorit saya, abad pertengahan. Oh, betapa saya menginginkan buku itu! Saya segera memeriksa berapa harganya, dan hati saya hancur. Harganya duapuluh lima dollar! Kami tidak memiliki uang sebanyak itu. Saya menatap Louie, dan seketika itu juga saya mengetahui jawabannya.

Dia pasti sangat menginginkan agar saya dapat memiliki buku itu. Saya dapat melihat kesedihan itu di matanya. Louie mengulurkan tangan dan memberikan saya pelukan ekstra. Saya mengerti pesan "sayang, kita tidak mampu untuk membelinya," yang hendak ia sampaikan. Saya bersandar pada lengannya, dan saya melihat perempuan menawan tadi juga memegang buku yang saya inginkan. Ya sudahlah, biarkan dia memilikinya. Saya memeluk Louie lagi, dan setengah serius, saya bergumam, saat mata saya beradu pandangan dengan perempuan itu.

"Oooohh, Andaikan saja saya kaya raya!"

"Terlihat bagiku, Anda sudah terlihat kaya." dia berkata sambil tersenyum.

Saat itu ada jeda yang cukup lama dan hati saya dipenuhi dengan pemahaman. Saya melihat suami saya, menatap anak-anak saya, saling merangkul bagaikan dalam naungan penuh cinta, dan saat itu saya menyadarinya. Saya kaya. Sangat kaya. Saya segera berbalik untuk berterima kasih pada wanita itu untuk mengingatkan hal ini kepada saya, tapi dia telah pergi!

Siapa dia? Saya tidak akan pernah tahu. Tapi apa yang dia lakukan menurut pandangan saya sangatlah penuh mujizat. Saya tidak akan melupakannya. Kemana dia menghilang? Saya tidak tahu.

Cukup aneh, dalam hitungan hari suami saya menerima tawaran kerja di Barat Daya Virginia. Dalam waktu kurang dari dua minggu, dia dipekerjakan dan pindah ke tempat yang sekarang menjadi rumah kami. Surat panggilan kerja itu telah dikirimkan dua hari sebelum Natal, bahkan pada saat kami berpelukan dan berciuman di toko buku itu. Bahkan momen saya mendengar kata-kata, "Terlihat bagiku, Anda sudah terlihat kaya," saat itu sudah dalam proses pergerakan untuk menyatukan keluarga kami. Saya sangat yakin bahwa ini semua adalah rencana Tuhan, untuk mengingatkan saya apa arti dari menjadi "kaya" ... keyakinan, cinta, keluarga, dan sahabat. Dan ketika saya sampai di surga, saya tidak akan terkejut sama sekali saat saya menyadari bahwa Tuhan mengirimkan seorang malaikat ke sebuah toko buku bekas, di Norfolk, Virginia, untuk memberikan pesan yang paling kaya, sehari setelah Natal, bertahun-tahun yang lalu.

Jaye Lewis, 2003

Kekayaan bukan hanya soal materi. Orang-orang terdekat kita juga merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Saat kita kehilangan materi, kita dapat membelinya lagi. Tapi saat kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, mereka akan pergi untuk selamanya. Marilah sebelum terlambat, sadarilah bahwa kita kaya, dan mulai menunjukkan kasih kita kepada mereka. Jangan tunda lagi, mulailah dari sekarang...

Kamis, 06 Mei 2010

Pianis Berjari 4...

Kisah ini akan menginspirasi Anda... untuk dapat menyadari bahwa siapapun dapat mengatasi kesulitan!

Apa yang Anda lakukan ketika Anda dilahirkan dengan dua jari pada setiap tangan dan kedua kaki Anda diamputasi dari lutut ke bawah ketika Anda berusia tiga tahun? Jika Anda seorang Hee Ah Lee, Anda akan menjadi seorang pianis konser. Dia sudah cukup professional sekarang, dan Anda akan sangat suka mendengarnya bermain piano... Silahkan saksikan video berikut ini :



Hee Ah Lee dilahirkan dengan cacad fisik yang cukup parah. Dia hanya memiliki dua jari pada setiap tangan. Dan kedua kakinya hanya utuh sampai ke lutut. Dokter yang merawatnya tidak berharap dia dapat bertahan hidup.

Tapi dia tetap bertahan hidup. Pada usia enam tahun dia mulai bermain piano. Saat itu keempat jarinya sangat lemah. Dia bahkan tidak dapat memegang sebuah pensil. Sang ibu berharap dengan bermain piano genggaman sang anak dapat menjadi lebih kuat.

Ternyata hal itu berhasil. Tetapi lebih dari itu, Lee menyadari panggilannya. Dia sekarang tur keliling dunia, bermain piano untuk para pemirsanya yang terkesan. Dia memainkan lagu-lagu yang bahkan sulit untuk dimainkan oleh manusia berjari lengkap.

Sebuah kisah nyata yang menggetarkan hati...

Kisah ini nyata dan Hee Ah Lee memang benar-benar ada. Ini adalah sebuah kisah mengenai seorang ibu dan seorang anak perempuan yang mampu mengatasi permasalahan dari awal.

Ibu Lee secara tidak diketahui hamil saat dia menikah dengan seorang yang lumpuh. Para dokter berkata akibat penggunaan obat tertentu mungkin anaknya tidak dapat dilahirkan normal. Namun dia memilih untuk melanjutkan kehamilannya dan pada tahun 1985 di Seoul, Korea Selatan, Hee Ah Lee kecil dilahirkan dengan hanya dua jari pada masing-masing tangan, kerusakan pada kedua kakinya, dan sedikit cedera otak. Pihak rumah sakit berkata kepada sang ibu bahwa dia tidak dapat merawat anaknya di rumah dan pihak keluarga menginginkannya untuk menempatkan anak tersebut untuk diadopsi di negara lain. Namun sang ibu tetap berpikir bahwa anaknya sempurna, dan bertekat bahwa anak tersebut dapat menjalani sebuah hidup yang sukses dan berhasil.

Pada masa kanak-kanak Lee, sang ibu memutuskan untuk memberikan anaknya pelajaran piano untuk dua alasan. Yang pertama adalah dengan belajar piano akan memperkuat kedua tangan anaknya sehingga dia dapat memegang pensil. Yang kedua adalah jika anak ini dapat menguasai permainan piano, dia dapat menguasai apapun. Begitu banyak kesulitan, pergumulan dan air mata yang dijalani pasangan ibu dan anak ini selama beberapa tahun. Dan pada usia 7 tahun Lee memenangkan Korea’s 19th National Handicap Conquest Contest dan mendapatkan penghargaannya langsung dari Presiden Korea.

Sekarang Lee berusia 22, memiliki banyak penghargaan, dan telah menjadi seorang pianis konser kelas dunia dengan lebih dari 200 pertunjukan. Album pertamanya berjudul “Hee-ah, a Pianist with Four Fingers” dirilis pada Juni 2008.

Lee memberikan penghargaan kepada ibunya untuk tantangannya menguasai piano dan berkata walaupun begitu banyak kesulitan pada masa-masa latihan, "dengan berlalunya waktu, sang piano menjadi sumber inspirasi saya dan sahabat saya."