Apakah Anda pernah mendengar tentang kisah seorang ayah yang luar biasa yang mau berkorban demi sepercik kebahagiaan anaknya? Saya yakin semua ayah pasti lebih dari ingin untuk melakukannya, dan saat ini saya ingin membagikan kisah keluarga Hoyt, sebuah kisah mengenai pengorbanan seorang ayah demi sang anak yang sungguh luar biasa.
Dick dan Rick Hoyt adalah tim ayah dan anak dari Massachusetts yang bersama-sama telah menyelesaikan secara luar biasa 224 Triathlon, 65 Marathon (termasuk 25 Boston Marathon) dan 6 Ironmans - dan juga banyak kompetisi-kompetisi lainnya. Mereka juga telah mendaki banyak gunung dan pernah melintasi Amerika sejauh 3.735 mil dalam waktu 45 hari.
Ini adalah suatu rekor mengenai pengerahan tenaga yang luar biasa - terlebih lagi jika Anda tahu bahwa Rick tidak dapat berjalan dan berbicara. Pada saat kelahiran Rick tahun 1962 tali pusar melilit lehernya dan menghambat aliran oksigen ke otaknya. Dick dan istrinya, Judy, divonis oleh tim medis bahwa tidak ada harapan bagi tumbuh dan kembang anaknya. Tanpa gentar, pasangan itu membawa pulang anaknya dan memutuskan untuk membesarkannya se-"normal" mungkin.
Setelah bertahun-tahun berjuang melawan birokrasi pendidikan setempat, Rick akhirnya mendapat pengakuan dan bisa masuk ke sekolah publik pada tahun 1975. Dua tahun kemudian, Rick memberi tahu ayahnya (melalui sebuah program komputer baru yang dirancang oleh Universitas Tufts) bahwa dia ingin berpartisipasi pada sebuah lomba lari amal untuk seorang pemain lacrosse lokal yang lumpuh dalam sebuah kecelakaan sejauh lima-mil. Dick, yang bukan seorang pelari jarak jauh, setuju untuk mendorong Rick di atas kursi rodanya. Mereka menyelesaikan lomba pada urutan nomor dua dari akhir tetapi mereka merasa telah meraih sebuah kemenangan. Malam itu Dick ingat perkataan Rick, "Saya tidak merasa lumpuh saat kami berlomba" dan kehidupan keduanya semenjak saat itu berubah selamanya.
Dick Hoyt yang tidak pernah berlari satu milpun dalam sekali tempuh - tidak keberatan untuk berlari sejauh lima mil, bahkan mendorong anaknya beserta kursi roda seberat 50 pon bersamanya. Seorang teman sempat mengambil foto sang ayah dan anak saat mereka melewati garis finish saat itu. "Itu adalah senyum terbesar yang pernah kau lihat dalam hidupmu," Dick menggambarkan wajah anaknya. "Rick masih memiliki foto itu di rumah."
Begitulah cerita "Tim Hoyt" dimulai dan mereka mulai ikut berbagai lomba semenjak itu. Dalam dua puluh lima tahun terakhir, Dick Hoyt telah mendorong dan menarik anaknya menyebrangi negeri dan melewati ratusan garis finish. Ketika Dick berlari, Rick berada di atas kursi roda yang didorongnya. Ketika Dick menggenjot sepeda, anaknya duduk di kursi khusus yang dipasang pada bagian depan sepeda. Pada saat kompetisi renang, Rick berada di dalam perahu kecil yang berat dan stabil sambil ditarik oleh ayahnya.
Sikap saling mendukung dan menguatkan dari sesama anggota keluarga Hoyt mulai merangkul dan menginspirasi orang lain - banyak penonton dan sesama peserta lomba yang melihat Tim Hoyt sebagai sebuah contoh dashyat tentang kebulatan tekad.
Ini adalah sebuah kesaksian yang luar biasa mengenai kekuatan cinta antara orang tua dan anak.
Sebuah video sebagai penghormatan mengenai perjuangan seorang ayah yang tidak pernah menyerah dan seorang anak yang tidak pernah berhenti berharap. Sebuah tindakan luar biasa, yang patut mendapat rasa hormat dan kagum.
Semoga kisah ini dapat menginspirasi Anda dan saya untuk tetap memelihara kasih kita dalam keluarga apapun pengorbanan yang harus dibayar. God bless you always...
Sabtu, 31 Oktober 2009
Sebuah Senyuman...
Sebuah senyuman tidak perlu mengeluarkan biaya apapun, tapi memberikan begitu banyak.
Senyum memperkaya orang yang menerimanya, tanpa menjadikan mereka yang memberikannya miskin.
Senyuman membutuhkan waktu hanya sesaat, tetapi kenangan yang ditinggalkan terkadang bertahan abadi.
Tidak ada seorangpun terlalu kaya atau hebat untuk dapat hidup tanpanya, dan tidak ada seorangpun pula yang terlalu miskin sehingga tidak dapat diperkaya olehnya.
Sebuah senyuman menciptakan kebahagiaan di rumah, memelihara kebaikan dalam usaha dan mempererat sebuah persahabatan.
Dia memberikan kelegaan bagi yang lelah, penghiburan bagi yang berkecil hati, cahaya mentari bagi yang bersedih, dan penawar alami terbaik bagi masalah hidup.
Namun demikian senyum tidak dapat dibeli, diminta, dipinjam ataupun dicuri, karena dia adalah sesuatu yang tidak berharga kecuali dia diberikan.
Sebagian orang terlalu lelah untuk memberikan Anda senyuman;
Berikan senyum Anda bagi mereka yang sangat membutuhkannya, karena mereka tidak memiliki satu senyuman pun untuk diberikan.
(diterjemahkan dari : L Gibson, Laughter, The Universal Language, 1990)Percayakah Anda kekuatan dashyat sebuah senyuman? Hal yang sulit menjadi mudah, dan yang tak mungkin menjadi mungkin. Orang Cina kuno bahkan memiliki pepatah, "Tanpa wajah yang tersenyum, Anda tidak boleh membuka toko." Bisa jadi ini kunci sukses orang Cina dalam berdagang. Begitu banyak hal baik yang kita dapatkan dalam senyuman. Bahkan tidak ada negatifnya sama sekali bila kita tersenyum. Tentu saja yang dimaksud adalah senyum tulus dari hati, bukan senyum sinis atau terpaksa yang tidak sedap dipandang mata. Berikut beberapa fakta mengenai senyum :
Senyum Membuat Anda Lebih Menarik
Orang yang tersenyum memiliki daya tarik. Senyuman membuat perasaan orang di sekitarnya menjadi nyaman dan senang. Orang yang merengut, cemburut, mengerutkan kening dan menyeringai membuat lingkungannya tidak nyaman. Sudah tentu orang yang banyak tersenyum memiliki banyak teman.
Senyum Mengubah Perasaan
Jika Anda sedih, cobalah tersenyum. Menurut penelitian, senyum bisa mengubah mood sehingga perasaan berubah menjadi lebih baik.
Senyum Itu Menular
Ketika seseorang tersenyum, suasana menjadi lebih riang. Orang di sekitarnyapun pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia.
Senyum Menghilangkan Stress
Stress bisa terlihat di wajah. Senyuman menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih. Cobalah berhenti sejenak dan tersenyum ketika Anda stress, rasakan stress tersebut berkurang dan pikiran menjadi lebih jernih.
Senyum Meningkatkan Imunitas
Menurut penelitian senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik karena fungsi imunitas tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Bahkan sebuah riset menyatakan tersenyum dapat menyembuhkan flu dan batuk.
Senyum Menurunkan Tekanan Darah
Tidak percaya? Coba Anda catat tekanan darah saat Anda tidak tersenyum dan saat tersenyum.
Senyum Melepas Endorphin dan Serotonin
Senyum sebagai pengobatan alami. Endorphin dan serotonin adalah zat yang baik bagi tubuh.
Senyum Menjadikan Anda Awet Muda
Banyak sekali otot wajah yang digerakkan saat tersenyum. Akibatnya otot wajah terlatih sehingga tidak perlu lagi yang namanya face lift.
Senyum Membuat Anda Kelihatan Sukses
Sebuah senyum memancarkan aura percaya diri, mantap, dan professional. Pasang senyum saat rapat atau bertemu klien, pasti mereka melihat Anda dengan lebih baik.
Senyum Mendorong Positive Thinking
Coba pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pastilah sulit. Penyebabnya adalah ketika Anda tersenyum tubuh mengirim sinyal “hidup adalah baik” ke otak Anda.
Dan masih ada 1001 alasan lagi mengapa kita harus tersenyum, yang tidak akan habisnya kalau saya terus tuliskan disini. Tetaplah tersenyum, untuk dunia yang lebih baik...
Jumat, 30 Oktober 2009
Tumbuh Besar Karena Mimpi
Suatu saat sebuah pertanyaan dilontarkan pada seorang pebisnis yang sangat sukses : "Bagaimana Anda bisa berbuat begitu banyak hal dalam hidup Anda?"
Dia menjawab, "Saya hanya bermimpi. Saya telah membebaskan pikiran saya untuk membayangkan apa yang ingin saya lakukan. Kemudian saya pergi tidur dan dan memikirkan impian saya. Pada malam hari saya memimpikan impian saya. Dan saat saya bangun di pagi hari, saya melihat cara untuk membuat mimpi itu jadi kenyataan. Ketika orang lain berkata, 'Kamu tidak bisa melakukan itu, sungguh suatu hal yang mustahil,' saya justru sedang dalam perjalanan meraih apa yang saya inginkan itu." Seperti kata Woodrow Wilson, Presiden Amerika yang ke-28 : "Kita tumbuh besar karena mimpi. Semua orang-orang hebat adalah pemimpi."
Mereka melihat segala sesuatu seperti kabut halus di musim semi, atau api merah membara pada malam musim dingin yang panjang. Banyak dari kita membiarkan impian-impian besar kita mati, tetapi orang lain justru memupuk dan melindunginya; memeliharanya melewati hari-hari yang sulit sampai tiba saatnya cahaya dan sinar mentari yang pasti datang bagi mereka yang dengan tulus berharap suatu saat impian mereka akan jadi kenyataan.
Jadi jangan biarkan seorangpun mencuri impian Anda, atau membiarkan mereka berkata bahwa mimpi Anda adalah hal yang terlalu mustahil. "Nyanyikan lagumu, Mimpikan impianmu, harapkan asamu dan doakan permohonanmu."
Dia menjawab, "Saya hanya bermimpi. Saya telah membebaskan pikiran saya untuk membayangkan apa yang ingin saya lakukan. Kemudian saya pergi tidur dan dan memikirkan impian saya. Pada malam hari saya memimpikan impian saya. Dan saat saya bangun di pagi hari, saya melihat cara untuk membuat mimpi itu jadi kenyataan. Ketika orang lain berkata, 'Kamu tidak bisa melakukan itu, sungguh suatu hal yang mustahil,' saya justru sedang dalam perjalanan meraih apa yang saya inginkan itu." Seperti kata Woodrow Wilson, Presiden Amerika yang ke-28 : "Kita tumbuh besar karena mimpi. Semua orang-orang hebat adalah pemimpi."
Mereka melihat segala sesuatu seperti kabut halus di musim semi, atau api merah membara pada malam musim dingin yang panjang. Banyak dari kita membiarkan impian-impian besar kita mati, tetapi orang lain justru memupuk dan melindunginya; memeliharanya melewati hari-hari yang sulit sampai tiba saatnya cahaya dan sinar mentari yang pasti datang bagi mereka yang dengan tulus berharap suatu saat impian mereka akan jadi kenyataan.
Jadi jangan biarkan seorangpun mencuri impian Anda, atau membiarkan mereka berkata bahwa mimpi Anda adalah hal yang terlalu mustahil. "Nyanyikan lagumu, Mimpikan impianmu, harapkan asamu dan doakan permohonanmu."
Kamis, 29 Oktober 2009
Bakat Terpendam...
Suatu saat ada seorang pemain piano bekerja di sebuah bar. Orang ini adalah pianis yang hebat. Banyak orang datang ke tempat ini hanya untuk mendengar permainan pianonya. Tapi pada suatu malam, seorang langganan tetap berkata padanya bahwa dia tidak ingin lagi mendengarnya bermain piano saja. Dia ingin mendengar pemain piano itu juga menyanyi.
Sang pianis berkata, "Saya tidak menyanyi."
Tetapi pelanggan itu sangat gigih. Dia berkata kepada bartender, "Aku lelah mendengarkan suara piano. Aku mau orang itu bernyanyi!"
Si bartender berteriak dari seberang, "Hei kawan! Kalau kau mau tetap dibayar, nyanyikan sebuah lagu. Seorang pelanggan meminta kau untuk bernyanyi!"
Akhirnya sang pianispun bernyanyi. Dia menyanyikan sebuah lagu. Seorang pemain piano yang tidak pernah bernyanyi di hadapan publik akhirnya bernyanyi untuk pertama kalinya. Dan tidak ada seorangpun pernah mendengar lagu Mona Lisa yang dibawakan secara spektakuler oleh Nat King Cole malam itu!
Dia mempunyai bakat dan dia memendamnya! Dia bisa saja berakhir dengan menghabiskan seluruh sisa hidupnya sebagai seorang pianis "biasa" di sebuah bar "biasa", tapi karena dia harus bernyanyi, diapun meneruskan langkahnya menjadi salah satu entertainer paling terkenal di Amerika.
Andapun demikian, memiliki berbagai keahlian dan kemampuan. Anda mungkin menilai "talenta" Anda secara sepele sebagai sesuatu yang tidak hebat, tetapi JUSTRU mungkin kenyataannya malah melebihi dari apa yang Anda bayangkan selama ini! Dan dengan ketekunan, hampir semua keahlian dapat dipertajam. Juga sebaliknya, Anda mungkin juga tidak akan memiliki kemampuan sedikitpun jika Anda memendam apapun bakat yang Anda miliki! Pertanyaannya sekarang bukanlah "Kemampuan apa yang saya miliki yang bisa berguna?" Akan tetapi "Bagaimana saya akan menggunakan apapun kemampuan yang saya miliki?"
Tulisan ini didedikasikan untuk teman-teman dan keluarga saya yang sedang mencoba meraih cita-cita mereka tanpa mengenal lelah, dengan banyak pengorbanan berupa waktu, biaya, tenaga, perasaan, dan lain sebagainya. Terus semangat, sadarilah bakat-bakat terpendam kalian, dan bertekun senantiasa sampai memperoleh hasil yang maksimal. May my prayers be with you all...
Sang pianis berkata, "Saya tidak menyanyi."
Tetapi pelanggan itu sangat gigih. Dia berkata kepada bartender, "Aku lelah mendengarkan suara piano. Aku mau orang itu bernyanyi!"
Si bartender berteriak dari seberang, "Hei kawan! Kalau kau mau tetap dibayar, nyanyikan sebuah lagu. Seorang pelanggan meminta kau untuk bernyanyi!"
Akhirnya sang pianispun bernyanyi. Dia menyanyikan sebuah lagu. Seorang pemain piano yang tidak pernah bernyanyi di hadapan publik akhirnya bernyanyi untuk pertama kalinya. Dan tidak ada seorangpun pernah mendengar lagu Mona Lisa yang dibawakan secara spektakuler oleh Nat King Cole malam itu!
Dia mempunyai bakat dan dia memendamnya! Dia bisa saja berakhir dengan menghabiskan seluruh sisa hidupnya sebagai seorang pianis "biasa" di sebuah bar "biasa", tapi karena dia harus bernyanyi, diapun meneruskan langkahnya menjadi salah satu entertainer paling terkenal di Amerika.
Andapun demikian, memiliki berbagai keahlian dan kemampuan. Anda mungkin menilai "talenta" Anda secara sepele sebagai sesuatu yang tidak hebat, tetapi JUSTRU mungkin kenyataannya malah melebihi dari apa yang Anda bayangkan selama ini! Dan dengan ketekunan, hampir semua keahlian dapat dipertajam. Juga sebaliknya, Anda mungkin juga tidak akan memiliki kemampuan sedikitpun jika Anda memendam apapun bakat yang Anda miliki! Pertanyaannya sekarang bukanlah "Kemampuan apa yang saya miliki yang bisa berguna?" Akan tetapi "Bagaimana saya akan menggunakan apapun kemampuan yang saya miliki?"
Tulisan ini didedikasikan untuk teman-teman dan keluarga saya yang sedang mencoba meraih cita-cita mereka tanpa mengenal lelah, dengan banyak pengorbanan berupa waktu, biaya, tenaga, perasaan, dan lain sebagainya. Terus semangat, sadarilah bakat-bakat terpendam kalian, dan bertekun senantiasa sampai memperoleh hasil yang maksimal. May my prayers be with you all...
Rabu, 28 Oktober 2009
Rasa Ingin Tahu, Baik atau Buruk???
Mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia untuk memiliki rasa ingin tahu, mungkin memang curiosity itu ada dalam hati setiap kita. Tapi seberapa besar rasa ingin tahu ini ada, dan seberapa jauh kita bertindak untuk memuaskan rasa ingin tahu ini, hal itulah yang sebenarnya menjadi masalah. Buat saya, rasa penasaran itu membuat kita maju, membuat kita melihat hal-hal yang belum pernah kita lihat dan mengerti. Contohnya pengalaman penemu pesawat terbang, Wright Bersaudara, dengan rasa ingin tahu mengapa burung bisa terbang bermuara pada penciptaan pesawat terbang. Juga Isaac Newton sang penemu prinsip gravitasi yang berawal dari rasa penasaran kenapa apel bisa jatuh dari atas pohon. Tapi harap diingat ada batasan yang jelas saat kita berhadapan dengan dinding tebal yang bernama "privacy" yang dengan jelas menunjukkan bahwa hanya sejauh itulah kita perlu tahu.
Belakangan ini saya menemukan banyak sekali orang-orang yang bisa dibilang memiliki rasa keingin-tahuan yang sangat besar (saya menyebutnya dengan istilah kepo, berasal dari bahasa daerah yang lebih kurang punya arti ingin tahu, tapi dalam konotasi negatif), bahkan sedemikian besarnya sampai-sampai tembok "privacy" saya pun hendak dijebol oleh mereka. Mulai dengan memata-matai situs pertemanan saya, berpikir, bercerita negatif dan sindiran-sindiran sinis tentang saya di lingkungan sekitar (seperti kanker merasuk satu per satu, dari satu orang menyebar ke orang lain), dan sampai keluar tuduhan-tuduhan yang sangat tidak masuk akal, dengan kata lain sudah menjadi fitnah. Luar biasa bukan? Berawal dari rasa kepo, menyebar seperti racun yang masuk ke dalam pembuluh darah sehingga orang lainpun merasa perlu untuk bersikap kepo. Tidak hanya sampai disitu, bahkan untuk memuaskan rasa kepo itu cerita yang dibuat-buat sendiri pun akhirnya muncul ke permukaan, suatu fitnah. Sedangkan saya sendiri bukan kekurangan pendukung, tapi saya merasa tidak perlu menyeret-nyeret orang lain ke dalam masalah saya, karena ini adalah masalah saya pribadi, bukan masalah teman-teman saya, dan saya tidak suka bersembunyi di balik komplotan dengan bendera solidaritas.
Sungguh luar biasa yang namanya kepo itu. Saat saya sudah bersikap merelakan dengan lapang dada dan tidak lagi memperkeruh masalah yang ada, tetap saja tidak ada habisnya rasa ingin tahu mereka tentang saya. Sampai blog ini ditulispun saya masih banyak mendengar tentang sindiran-sindiran sinis dari sumber-sumber yang bisa dipercaya. Kalau mau diibaratkan, saya ini sudah seperti artis top papan atas yang dicari-cari kesalahannya, ditunggu lengah sampai berbuat salah, langsung di-expose seperti sebuah paparazzi. Entah harus merasa jengkel atau merasa terhormat sebenarnya kalau sampai privasi saya dikorek-korek bagaikan seorang selebriti. Hahaha...
Kembali bicara soal kepo, saya pernah membaca suatu kisah yang memberi saya cara menghadapi orang-orang seperti ini :
Belakangan ini saya menemukan banyak sekali orang-orang yang bisa dibilang memiliki rasa keingin-tahuan yang sangat besar (saya menyebutnya dengan istilah kepo, berasal dari bahasa daerah yang lebih kurang punya arti ingin tahu, tapi dalam konotasi negatif), bahkan sedemikian besarnya sampai-sampai tembok "privacy" saya pun hendak dijebol oleh mereka. Mulai dengan memata-matai situs pertemanan saya, berpikir, bercerita negatif dan sindiran-sindiran sinis tentang saya di lingkungan sekitar (seperti kanker merasuk satu per satu, dari satu orang menyebar ke orang lain), dan sampai keluar tuduhan-tuduhan yang sangat tidak masuk akal, dengan kata lain sudah menjadi fitnah. Luar biasa bukan? Berawal dari rasa kepo, menyebar seperti racun yang masuk ke dalam pembuluh darah sehingga orang lainpun merasa perlu untuk bersikap kepo. Tidak hanya sampai disitu, bahkan untuk memuaskan rasa kepo itu cerita yang dibuat-buat sendiri pun akhirnya muncul ke permukaan, suatu fitnah. Sedangkan saya sendiri bukan kekurangan pendukung, tapi saya merasa tidak perlu menyeret-nyeret orang lain ke dalam masalah saya, karena ini adalah masalah saya pribadi, bukan masalah teman-teman saya, dan saya tidak suka bersembunyi di balik komplotan dengan bendera solidaritas.
Sungguh luar biasa yang namanya kepo itu. Saat saya sudah bersikap merelakan dengan lapang dada dan tidak lagi memperkeruh masalah yang ada, tetap saja tidak ada habisnya rasa ingin tahu mereka tentang saya. Sampai blog ini ditulispun saya masih banyak mendengar tentang sindiran-sindiran sinis dari sumber-sumber yang bisa dipercaya. Kalau mau diibaratkan, saya ini sudah seperti artis top papan atas yang dicari-cari kesalahannya, ditunggu lengah sampai berbuat salah, langsung di-expose seperti sebuah paparazzi. Entah harus merasa jengkel atau merasa terhormat sebenarnya kalau sampai privasi saya dikorek-korek bagaikan seorang selebriti. Hahaha...
Kembali bicara soal kepo, saya pernah membaca suatu kisah yang memberi saya cara menghadapi orang-orang seperti ini :
Saya memiliki sebuah kisah favorit mengenai berhadapan dengan "teman" kepo (suka ikut campur urusan orang lain), dimana saya rasa pada awalnya banyak dari mereka sebenarnya bukan teman saya.Semua ini berbalik kepada diri kita sendiri. Kita tidak dapat mengubah sikap dan perilaku orang lain. Namun sebaliknya, kita sendiri yang harus berubah menanggapi sikap-sikap negatif semacam ini. Jadikan hati ini seluas samudra yang mampu menelan segala kepahitan dan kegetiran, sehingga segala macam hal buruk yang menimpa kita tidak akan mempengaruhi suasana hati kita, sama seperti halnya sebuah samudra yang tidak akan bergelora walaupun dilemparkan sebuah batu besar ke dalamnya. Kebesaran hati dan kelapangan dada, kunci keberhasilan kita untuk bertahan dalam menghadapi dunia ini. Seperti kata pepatah, "Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu." Life goes on, jangan menyibukkan diri kita dengan hal-hal sepele seperti ini. May this writing inspire you, God bless you always...
Ketika saya pertama kali jatuh cinta, semua orang kelihatannya punya sebuah cerita tentang saya di kota kecil tempat saya tinggal (jika mereka tidak memilikinya, mereka menciptakannya sendiri). Sebagian besar orang yang seusia dengan saya umumnya sudah menikah atau memiliki hubungan dengan orang lain, dan saya sebagai seorang wanita lajang rupanya mulai menjadi daya tarik dan pusat perhatian yang "interesting". Sebagai contoh, saya mulai mendengar bahwa saya telah menjalin hubungan dengan seorang penghuni penjara yang kebetulan berasal dari kota asal saya (seorang laki-laki yang tidak pernah saya lihat atau temui sebelumnya), dan dikisahkan bahwa saya telah melahirkan seorang anak haram (bahkan saya sendiri tidak tahu saya sudah memiliki anak!) dengan si penghuni penjara ini. Bahkan sampai hari ini saya tidak tahu dimana keberadaan anak saya yang tersembunyi ini, namun hal itu tetap saja masuk akal bagi mereka yang sungguh-sungguh kepo, bukankah begitu? Beberapa cerita lain yang mulai saya dengar benar-benar luar biasa, dan saya rasa dapat menyaingi The Omen, Something to Talk About, Pretty Woman, dan banyak lagi!
Saya akhirnya lelah mendengar gosip tentang diri saya (dan sebagai catatan saya tidak percaya kalau seorang menyambung-lidahkan gosip yang sedemikian negatifnya adalah seorang teman sejati), jadi akhirnya saya memasang sebuah iklan di koran lokal setempat. Isinya seperti ini :
"Bagi Anda yang tertarik untuk mengetahui kehidupan pribadi dan percintaan saya (atau merasa kekurangan hal-hal ini dalam hidupnya), Anda sangat dipersilahkan dan disambut dengan tangan terbuka untuk menghubungi saya untuk menanyakan hal-hal tersebut kepada saya, dan saya dapat mengkonfirmasikan atau menyangkal segala desas-desus yang pernah Anda dengar atau sebarkan. Silahkan Anda menghubungi saya, atau bila tidak, tolong tahan diri Anda untuk tidak menyebarkan cerita-cerita yang tidak jelas ini. Terima kasih."
Harap diingat bahwa ini adalah sebuah kota KECIL, dan keesokan harinya banyak sekali wanita yang saya jumpai berwajah merah padam dan tidak berani menatap mata saya. Dan terlebih lucu lagi, pacar dan suami-suami mereka secara spontan tertawa dengan lepas melihat respon dari pasangan mereka. Dengan demikian saya sungguh-sungguh merasa tidak sia-sia mengeluarkan biaya untuk memasang iklan itu. Hal ini juga langsung menghentikan segala macam gosip yang menerpa diri saya SETIDAKNYA selama tiga atau empat tahun... Sungguh, hal ini benar-benar nyata!
Dalam suatu lingkungan yang akrab dimana ada orang yang betul-betul suka ikut campur, ada beberapa cara untuk menghadapinya, dan salah satunya adalah mengkonfrontasikan atau menantangnya secara jelas dan nyata, seperti dengan menjawab : "Kenapa? Apakah Anda sedang menulis buku?" atau, "Apakah Anda menulis biografi saya, karena semestinya saya juga dapat royalti...", dan lain sebagainya. Saya menemukan humor adalah cara yang hebat untuk menepis komentar balik pada orang yang tepat. Walaupun demikian, sebuah tantangan langsung dan frontal memang terkadang diperlukan untuk memastikan apakah orang itu mengerti bahwa kepo itu tidaklah lucu ATAU dapat diterima.
Jika orang-orang ini termasuk teman sejati Anda, mungkin mereka adalah jenis teman yang langka yang menunjukkan rasa peduli mereka dengan menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi, dan jika mereka telah menjadi teman Anda untuk waktu yang cukup lama, tentunya Anda akan dapat mengidentifikasi apakah mereka betul-betul peduli atau memang suka ikut campur urusan Anda. Dalam kasus ini, jika yang ditemui adalah orang yang kepo, Anda bisa langsung memberi tahu mereka bahwa Anda tidak nyaman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Seorang teman sejati SELALU mengerti dengan respon seperti ini. Kemudian bergantung pada lingkungan dimana Anda berada, tindakan lainnya adalah sesederhana berdiri dan pergi menjauh, karena jelas sekali ada beberapa kasus dimana kepo tidak perlu ditanggapi sama sekali.
Juga dengan respon "SAYA MERASA" sangatlah berguna dalam situasi-situasi tertentu: Sebagai contoh, "SAYA MERASA tidak nyaman membicarakan hal ini dengan siapapun" adalah sebuah respon yang baik, sama seperti, "SAYA MERASA mengkhianati kepercayaan seseorang dengan membicarakan hal itu," atau, "SAYA MERASA direndahkan saat Anda menanyakan pertanyaan seperti itu kepada saya, dan saya yakin Anda tidak bermaksud begitu, bukan?" Respon terakhir ini secara khusus sangat membantu karena statemen ini secara absolut membuat orang lain kehabisan kata2 ketika hal itu memang ADALAH maksud mereka. Lagipula orang kepo jarang sekali mempunya maksud untuk membangun diri Anda bukan?
Respon favorit terakhir saya ketika ke-kepo-an itu berbentuk sebuah pertanyaan mengenai orang lain adalah seperti ini : "Saya rasa anda mestinya langsung menanyakan hal itu kepada dia, karena saya tidak yakin dia akan nyaman jika saya mendiskusikan hal ini saat dia tidak ada di sini. Mungkin saja hal ini sifatnya pribadi."
Saya percaya bahwa salah satu cara terbaik untuk menghadapi orang kepo adalah dengan menunjukkan bahwa kita sendiri adalah orang yang sopan (tidak suka ikut campur), dan komentar-komentar yang telah disebutkan di atas dapat membantu kita membuat standarisasi dan batasan yang jelas. Saat Anda ragu, simpan sendiri tentang informasi Anda, demikian pula halnya dengan informasi orang lain.
Sumber : MiracleInProgress
Senin, 26 Oktober 2009
Integritas...
Hari ini ujian mengenai kejujuran dan etika datang menghampiri saya. Hari ini saya pergi ke sebuah supermarket, dengan tujuan membeli barang-barang keperluan saya. Salah satu yang saya butuhkan adalah bohlam, karena lampu di rumah saya ada yang putus. Sesampainya saya di rak-rak yang berisi ribuan bohlam, saya mencari bohlam yang sesuai dengan yang saya perlukan. Setelah menemukan bohlam yang tepat, saya membuka kardusnya, mencolokkannya ke dalam soket untuk menguji apakah bohlam tersebut menyala atau tidak. Saat melihat bohlam tersebut berfungsi dengan baik, saya memutuskan untuk membeli bohlam tersebut. Tapi apa yang terjadi? Saat saya hendak mencabut bohlam tersebut dari soketnya, bohlam tersebut terasa panas sehingga bohlam tersebut terlepas dari genggaman saya. Sang bohlam pun jatuh ke lantai, dan hancur berkeping-keping.
Masih dalam kondisi kaget karena memecahkan barang milik supermarket yang belum saya beli, datang seorang pegawai menghampiri saya menawarkan bantuannya. Pegawai itupun segera mengambil bohlam yang baru, mencolokkannya di soket, dan memberikannya kepada saya. Sementara pecahan yang berserakan di lantai itu juga dipungutinya, dimasukkan ke dalam kardusnya dan juga diberikan kepada saya. Jujur saja, saya merasa jengkel karena telah memecahkan barang yang belum saya beli, dan saya harus membayar untuk kelalaian saya. Setelah selesai dengan semua itu, sang pegawai pun meninggalkan saya, dan saya berdiri dengan dua kardus bohlam di dalam keranjang belanjaan saya. Saat itu sempat timbul sebersit pikiran jahat dalam benak saya untuk meletakkan kembali kardus bohlam yang pecah tersebut ke dalam rak. "Lagipula saat ini tidak ada orang di sekeliling saya, dan si pegawaipun sudah meninggalkan saya," muncul pembenaran sepihak dalam hati saya. Tapi saat itu juga saya diliputi oleh perasaan bersalah, dan seketika itu juga saya teringat dengan suatu bacaan mengenai integritas diri :
Dua buah kardus bohlam di tangan saya. Yang satu masih bagus, yang lainnya pecah berantakan. Saat itu saya mulai menemukan integritas diri saya, yang mencegah saya berbuat hal yang tidak etis. Mungkin dengan mengembalikan bohlam pecah itu ke dalam rak akan mengemat saya sejumlah uang, tapi apakah uang tersebut dapat membeli integritas diri saya? Akhirnya saya pun pergi ke kasir, dan membayar kedua bohlam tersebut. Mungkin ada rasa kecewa karena saya telah memboroskan uang akibat keteledoran saya, tapi setidaknya saya tidak kehilangan integritas diri saya. Tetaplah jaga integritas kita, apapun harga yang harus di bayar...
Masih dalam kondisi kaget karena memecahkan barang milik supermarket yang belum saya beli, datang seorang pegawai menghampiri saya menawarkan bantuannya. Pegawai itupun segera mengambil bohlam yang baru, mencolokkannya di soket, dan memberikannya kepada saya. Sementara pecahan yang berserakan di lantai itu juga dipungutinya, dimasukkan ke dalam kardusnya dan juga diberikan kepada saya. Jujur saja, saya merasa jengkel karena telah memecahkan barang yang belum saya beli, dan saya harus membayar untuk kelalaian saya. Setelah selesai dengan semua itu, sang pegawai pun meninggalkan saya, dan saya berdiri dengan dua kardus bohlam di dalam keranjang belanjaan saya. Saat itu sempat timbul sebersit pikiran jahat dalam benak saya untuk meletakkan kembali kardus bohlam yang pecah tersebut ke dalam rak. "Lagipula saat ini tidak ada orang di sekeliling saya, dan si pegawaipun sudah meninggalkan saya," muncul pembenaran sepihak dalam hati saya. Tapi saat itu juga saya diliputi oleh perasaan bersalah, dan seketika itu juga saya teringat dengan suatu bacaan mengenai integritas diri :
Apa Yang Anda Lakukan Mencerminkan Diri Anda Yang Sesungguhnya
oleh : Patricia Fripp, A Cup of Chicken Soup for the Soul
Pada hari Sabtu yang cerah sore di kota Oklahoma, teman saya Bobby Lewis sedang mengajak dua anak laki-lakinya untuk pergi bermain mini-golf. Dia berjalan menuju loket penjualan tiket dan berkata, "Berapa harga tiket masuknya?"
Sang penjaga loket menjawab, "3.00 $ untuk Anda dan 3.00 $ untuk anak-anak berusia enam tahun ke atas. Untuk anak-anak yang berumur enam tahun ke bawah kami tidak mengenakan biaya masuk. Berapa usia anak-anak Anda?"
Bobby menjawab, "Sang pengacara berumur tiga tahun dan sang dokter berumur tujuh tahun, jadi saya rasa saya perlu membayar 6.00 $ kepada Anda."
Sang penjaga loket itu berkata, "Hei Tuan, apakah Anda baru saja menang lotere atau sesuatu? Anda bisa saja menghemat tiga dolar. Anda bisa saja bilang kepada saya bahwa anak yang lebih tua berumur enam tahun; Saya pasti tidak akan menyadari kalau Anda berbohong mengenai usia mereka." Bobby menjawab, "Ya, bisa saja saya berbuat seperti itu, tetapi anak-anak saya tentu akan menyadari kalau saya berbohong kepada Anda mengenai usia mereka."
Seperti yang dikatakan oleh Ralph Waldo Emerson, "What you do speaks so loud that I cannot hear what you say." Pada saat cobaan datang dimana etika Anda diuji, pastikan Anda menjadi contoh yang baik bagi orang-orang di sekeliling Anda.
Dua buah kardus bohlam di tangan saya. Yang satu masih bagus, yang lainnya pecah berantakan. Saat itu saya mulai menemukan integritas diri saya, yang mencegah saya berbuat hal yang tidak etis. Mungkin dengan mengembalikan bohlam pecah itu ke dalam rak akan mengemat saya sejumlah uang, tapi apakah uang tersebut dapat membeli integritas diri saya? Akhirnya saya pun pergi ke kasir, dan membayar kedua bohlam tersebut. Mungkin ada rasa kecewa karena saya telah memboroskan uang akibat keteledoran saya, tapi setidaknya saya tidak kehilangan integritas diri saya. Tetaplah jaga integritas kita, apapun harga yang harus di bayar...
Minggu, 25 Oktober 2009
Peace of Mind...
Saat ini saya sedang mencapai titik jenuh dalam hidup ini, merasa semua sangat berat, tidak teratur, hectic dan berbagai rasa yang tidak menyenangkan bercampur menjadi satu. Banyak pihak menuntut ini dan itu, sehingga saya merasa kelelahan, kehabisan tenaga dan kekurangan energi. Exhausted, mungkin sebuah kata yang tepat untuk mengungkapkan kondisi saya saat ini. Bukan kelelahan fisik, tetapi kelelahan mental karena tekanan bertubi-tubi dan tuntutan hidup yang berat sehingga saya merasa kehabisan kekuatan. Mencoba bertahan kelihatannya tidak akan banyak hasilnya, sebab endurance/daya tahan saya ada batasnya. Saya harus segera mencari solusi untuk mengatasi masalah ini, secepatnya. Dan beruntung hari ini saya menemukan tulisan yang bagus yang memberi saya cara untuk mengembalikan kekuatan mental dan spiritual saya.
Sebuah pemahaman yang luar biasa mengenai kesunyian dan keheningan. Suatu pengalaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata, saat kita bisa mendengarkan kesunyian "berbicara" dan memberikan kekuatan kepada kita. Saatnya kita mundur dari hingar-bingar dunia ini, menikmati kesunyian dan keheningan agar esok kita dapat kembali menghadapi dunia ini dengan segala hiruk-pikuknya. Ambil sedikit waktu untuk memulihkan diri kita sendiri, jadikan hal ini sebagai suatu kebiasaan agar hidup ini terasa lebih berwarna. May this inspire you all, God bless you always...
Peace of Mind : Keheningan Mendalam yang Indah
oleh S S Hans
Selama empat bulan yang dingin di musim dingin Antartika tahun 1934, Admiral Bryd terlibat dalam sebuah pencarian data sains. Suatu hari, saat dia berdiri diam tak bergeming diatas lempengan es tak berpenghuni, dia secara kuat menyadari suatu keheningan yang begitu luas dan mendalam. Kemudian pada sore harinya dia menulis di buku hariannya : "Pada saat munculnya keheningan mendadak itu, sebuah pemahaman lahir di dalam diri saya bahwa saya adalah bagian dari Tuhan, bagian dari alam semesta dan bahwa saya tidak sendiri."
Admiral Bryd menyadari bahwa di dalam keheningan itu sesuatu di dalam relung hati kita menunggu untuk disadari dan ditemukan oleh kita. Saat pagi hari yang sepi di rumah, waktu sunyi yang singkat dalam waktu-waktu doa kita, atau bahkan saat berjalan sepi di taman. Seperti Byrd, kita juga dapat mengalami pengalaman kesunyian yang mendalam. Sri Aurobindo menggambarkan pengalaman pribadinya dalam puisi Savitri: "Sebuah keheningan absolut, bebas dari segala jenis komunikasi. Menyadari batasan tipis mengenai penemuan diri yang sesungguhnya di dalam sanubari." Dalam keheningan mutlak hadir sebuah kekuatan mutlak.
Secara umum, ketenangan, keredaan, kedamaian, kesunyian dan keheningan dianggap sebagai suatu gambaran perasaan. Tapi dalam kenyataannya tidaklah demikian. Semua kondisi di atas adalah urutan tingkat kesadaran, dimana keheningan adalah yang terdalam. Dalam kondisi keheningan yang mendalam, tidak akan ada pemikiran, perasaan, atau pergerakan batin yang dapat mengganggu atau mengubah kedamaian terdalam yang ada di dalam jiwa. Segala pemikiran manusiawi terhisap sirna ke dalam pusaran keheningan saat tersentuh dengan sumber asli dari energi, cinta, kemurnian dan kebahagiaan Sang Kuasa, yang akhirnya berujung pada penemuan keberadaan jiwa kita. Pikiran kita berubah menjadi Pikiran Terang. Transformasi inilah yang menjadi jembatan yang mengarahkan kita menjadi diri kita yang sesungguhnya. Di dalam kondisi ini, kehadiran Tuhan menjadi nyata, dan terjadi sebuah percakapan "sunyi" antara jiwa kita dengan Tuhan, tanpa kata-kata dan terasa begitu indah.
Bahkan sesungguhnya keheningan selalu mengetuk pintu hati kita, namun jarang sekali kita dapat mendengarnya. Kesunyian adalah sebuah harta terpendam, menunggu untuk digali dan ditemukan. Mencari keheningan adalah sebuah kebutuhan harian yang perlu dibiasakan agar kobaran api di dalam batin kita tetap menyala. Saat kita sendiri dan sepi, kita mengalami pemulihan dan mulai terisi dengan kekuatan dan inspirasi. Kesunyian adalah hal yang penting dalam pertumbuhan spiritual kita. Kita harus memelihara momen-momen kesunyian kita dengan baik dan tidak membiarkan rutinitas sehari-hari menghilangkan waktu kita untuk menikmati keheningan dalam kesendirian. Kesunyian dan meditasi memulihkan kondisi batin kita agar kita senantiasa siap menghadapi dunia dengan peremajaan diri dan perspektif yang segar setiap hari.
Kesunyian sangatlah penting dalam meditasi yang efektif. Tempat terbaik untuk menikmati keheningan dan meditasi adalah di alam terbuka. Saat-saat sunyi dalam perenungan di lingkungan alami mengenai keberadaan diri kita perlahan-lahan menghasilkan kepekaan terhadap suatu keadaan damai yang selalu dapat diraih, apapun kondisi yang sedang terjadi dalam hidup ini.
Keheningan bukan selalu berarti tanpa suara. Pada suatu titik, seseorang dapat mendengarkan suara dari keheningan yang sering disebut sebagai suara hati. Dalam puisi Silence is Shy, seorang filsuf Bhakta bernama Vimla Thakkur menulis "Kesunyian bersembunyi jauh di dalam lubuk hati manusia. Dia berbicara saat pikiran terdiam. Dia menjadi dirimu saat kau bukan dirimu."
Sebuah mitos Nasrani berkata : "Selalu ada keheningan dalam hati semua mahkluk. Kau akan menemukannya pada saat kau tidak mencarinya tetapi justru saat kau hanya berdiri dan menunggu seperti lembah atau pohon yang diam sesuai dengan keberadaannya. Saat itulah kau akan mendengar keheningan berbicara."
Saya dan seorang sahabat seringkali pergi berjalan-jalan menikmati keheningan yang mendalam dalam waktu yang cukup lama. Dia pernah berkata kepada saya bahwa dia terkadang merasakan (mendengar) musik surgawi - sebuah simponi astronomis - yang membuatnya "gembira" secara spiritual. Mungkin apa yang dikatakan oleh ibu dari Aurobindo Ashram, Pondicherry, secara parsial dapat menjelaskan ini : "Dalam kedalaman dari seluruh keberadaan kita, dalam perenungan sunyi, sebuah kuasa yang bercahaya membanjiri alam sadar kita dengan kedamaian yang begitu besar yang mampu untuk meruntuhkan segala reaksi-reaksi picik dan mempersiapkan kita untuk bersatu secara ilahi - sebuah tujuan akhir dari keberadaan individual."
Sumber : http://www.experiencefestival.com/a/Peace_of_Mind/id/219687
Sebuah pemahaman yang luar biasa mengenai kesunyian dan keheningan. Suatu pengalaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata, saat kita bisa mendengarkan kesunyian "berbicara" dan memberikan kekuatan kepada kita. Saatnya kita mundur dari hingar-bingar dunia ini, menikmati kesunyian dan keheningan agar esok kita dapat kembali menghadapi dunia ini dengan segala hiruk-pikuknya. Ambil sedikit waktu untuk memulihkan diri kita sendiri, jadikan hal ini sebagai suatu kebiasaan agar hidup ini terasa lebih berwarna. May this inspire you all, God bless you always...
Sabtu, 24 Oktober 2009
Gagal? Coba Pikirkan Lagi...
Dalam hidup ini seringkali kita merasa gagal dan merasa telah membuang banyak waktu, tenaga, biaya dan lain sebagainya dalam kegagalan itu. Banyak orang yang menyerah karena terbentur dengan batu karang yang bernama "kegagalan" ini, dan akhirnya tidak berani bergerak maju kembali. Terpuruk dengan rasa kecewa, stress, depresi, dan berbagai perasaan-perasaan negatif, akhirnya seseorang yang pernah mengenal kata "gagal" akan diam di tempat, mengasihani dirinya sendiri dan akhirnya mengalami stagnasi.
Beberapa orang mencoba mengubah pandangan "kegagalan" sebagai awal dari suatu keberhasilan. Tidak sedikit pula yang akhirnya bisa bangkit karena gagal bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan saya terinspirasi oleh sejarah produk "Post-it Notes," kertas dengan perekat yang berfungsi untuk menulis memo dan dapat direkatkan di mana saja. Produk ini begitu laris di pasaran, dan apabila kita tahu bagaimana lahirnya sang "Post-it Notes," kita akan mengerti bahwa sesuatu yang gagal itu belum tentu gagal. Berikut saya bagikan kisah lahirnya "Post-it Notes" yang mendunia itu :
Perusahaan 3M yang terkenal itu hendak memulai suatu gebrakan baru, dan mengerahkan tenaga-tenaga kreatifnya untuk menciptakan inovasi baru. Perusahaan tersebut mengijinkan para peneliti untuk menghabiskan 15% dari waktu mereka untuk proyek apapun yang dinilai menarik oleh mereka. Perilaku seperti ini melahirkan suatu keuntungan yang fantastis tidak hanya bagi para karyawannya, tapi juga untuk perusahaan 3M itu sendiri. Seringkali lahir sebuah percikan ide yang kemudian berubah menjadi sebuah produk yang sangat sukses, yang berdampak secara luar biasa terhadap keuntungan perusahaan 3M.
Beberapa tahun silam, seorang peneliti di 3M bernama Art Fry menggunakan 15% waktu kreatifnya dengan luar biasa. Beliau menemukan sebuah ide untuk menghasilkan sebuah produk 3M yang paling laku. Semua ini berawal dari kejengkelan kecil setiap hari Minggu pada saat dia bernyanyi di paduan suara gereja. Dia selalu menyelipkan kertas-kertas kecil di buku nyanyiannya sebagai pembatas, tapi entah bagaimana kertas itu terus menerus jatuh berserakan di lantai.
Seketika itu juga terbersit sebuah ide di dalam benaknya. Dia teringat dengan sebuah bahan perekat yang dikembangkan oleh rekan kerjanya yang pada pada saat itu dianggap suatu produk gagal karena tidak dapat melekat dengan kuat. "Saya melapisi perekat itu pada kertas sampel," kata Fry sambil mengingat kembali, "dan saya menemukan bahwa hal itu tidak hanya bagus untuk digunakan sebagai pembatas buku, tapi ternyata juga bisa berfungsi untuk menuliskan memo. Kertas ini akan tetap melekat di tempatnya selama yang Anda inginkan, dan hebatnya lagi, saat tidak dibutuhkan, Anda bisa mencabut kertas tersebut tanpa menimbulkan kerusakan apapun pada bidang yang direkatkan."
Ya, Art Fry telah menemukan suatu titik terang. Produk akhir yang dikenal sebagai Post-it! telah menjadi salah satu produk 3M yang paling sukses.
Suatu penemuan yang luar biasa, hanya dengan barang-barang yang sederhana. Sebuah perekat yang dianggap gagal, malah menjadi perekat yang sempurna untuk melapisi kertas yang sangat ringan. Siapa yang mengira, produk gagal setelah diterapkan di kertas, menjadi produk yang luar biasa : Post-it!
Jangan menyerah saat kita menemui kegagalan. Selalu ada inovasi-inovasi untuk mengubah kegagalan itu menjadi keberhasilan. Keep on trying, never give up. God Bless You all...
Beberapa orang mencoba mengubah pandangan "kegagalan" sebagai awal dari suatu keberhasilan. Tidak sedikit pula yang akhirnya bisa bangkit karena gagal bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan saya terinspirasi oleh sejarah produk "Post-it Notes," kertas dengan perekat yang berfungsi untuk menulis memo dan dapat direkatkan di mana saja. Produk ini begitu laris di pasaran, dan apabila kita tahu bagaimana lahirnya sang "Post-it Notes," kita akan mengerti bahwa sesuatu yang gagal itu belum tentu gagal. Berikut saya bagikan kisah lahirnya "Post-it Notes" yang mendunia itu :
Perusahaan 3M yang terkenal itu hendak memulai suatu gebrakan baru, dan mengerahkan tenaga-tenaga kreatifnya untuk menciptakan inovasi baru. Perusahaan tersebut mengijinkan para peneliti untuk menghabiskan 15% dari waktu mereka untuk proyek apapun yang dinilai menarik oleh mereka. Perilaku seperti ini melahirkan suatu keuntungan yang fantastis tidak hanya bagi para karyawannya, tapi juga untuk perusahaan 3M itu sendiri. Seringkali lahir sebuah percikan ide yang kemudian berubah menjadi sebuah produk yang sangat sukses, yang berdampak secara luar biasa terhadap keuntungan perusahaan 3M.
Beberapa tahun silam, seorang peneliti di 3M bernama Art Fry menggunakan 15% waktu kreatifnya dengan luar biasa. Beliau menemukan sebuah ide untuk menghasilkan sebuah produk 3M yang paling laku. Semua ini berawal dari kejengkelan kecil setiap hari Minggu pada saat dia bernyanyi di paduan suara gereja. Dia selalu menyelipkan kertas-kertas kecil di buku nyanyiannya sebagai pembatas, tapi entah bagaimana kertas itu terus menerus jatuh berserakan di lantai.
Seketika itu juga terbersit sebuah ide di dalam benaknya. Dia teringat dengan sebuah bahan perekat yang dikembangkan oleh rekan kerjanya yang pada pada saat itu dianggap suatu produk gagal karena tidak dapat melekat dengan kuat. "Saya melapisi perekat itu pada kertas sampel," kata Fry sambil mengingat kembali, "dan saya menemukan bahwa hal itu tidak hanya bagus untuk digunakan sebagai pembatas buku, tapi ternyata juga bisa berfungsi untuk menuliskan memo. Kertas ini akan tetap melekat di tempatnya selama yang Anda inginkan, dan hebatnya lagi, saat tidak dibutuhkan, Anda bisa mencabut kertas tersebut tanpa menimbulkan kerusakan apapun pada bidang yang direkatkan."
Ya, Art Fry telah menemukan suatu titik terang. Produk akhir yang dikenal sebagai Post-it! telah menjadi salah satu produk 3M yang paling sukses.
Suatu penemuan yang luar biasa, hanya dengan barang-barang yang sederhana. Sebuah perekat yang dianggap gagal, malah menjadi perekat yang sempurna untuk melapisi kertas yang sangat ringan. Siapa yang mengira, produk gagal setelah diterapkan di kertas, menjadi produk yang luar biasa : Post-it!
Jangan menyerah saat kita menemui kegagalan. Selalu ada inovasi-inovasi untuk mengubah kegagalan itu menjadi keberhasilan. Keep on trying, never give up. God Bless You all...
Jumat, 23 Oktober 2009
Menjadi Dewasa atau Menjadi Tua?
Hari pertama di kampus kami seorang professor memperkenalkan dirinya dan menugaskan kami untuk mengetahui sesuatu dari seseorang yang belum dikenal.
Saya berdiri dan melihat ke sekeliling sampai saya merasakan sentuhan tangan yang lembut mendarat di bahu saya. Saya berbalik dan melihat seorang wanita tua yang sudah keriput sambil tersenyum kepada saya yang membuat saya merasakan kehangatan dan niat baiknya.
Dia berkata, "Hai, tampan! Nama saya Rose. Saya berumur 87 tahun. Bolehkah saya memberikan kamu sebuah pelukan?"
Saya tertawa dan dengan antusias merespon, "Tentu saya boleh!" dan diapun memberikan pelukan yang erat.
"Mengapa Anda berada di kampus dengan usia Anda yang masih muda dan sangat polos?" Saya bertanya. Dia sambil berkelakar menjawab, "Saya disini untuk bertemu dengan seorang suami kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan berkeliling dunia."
"Tidak-tidak, saya serius dengan pertanyaan saya," saya menegaskan rasa penasaran saya. Saya sangat tertarik untuk mengetahui apa yang memotivasi dirinya sehingga dia ikut kuliah dengan usianya yang sekarang.
"Saya selalu bermimpi untuk megecap bangku kuliah dan sekarang saya ada disini untuk meraihnya!" kata wanita itu kepada saya.
Setelah pelajaran usai kami berjalan ke kantin dan berbagi segelas milkshake coklat. Seketika itu juga kami menjadi teman. Setiap hari selama 3 bulan berikutnya kami menghabiskan waktu bersama seusai kuliah dan bercerita terus tanpa henti.
Saya selalu terpesona mendengarkan tentang "mesin waktu" yang dia bagikan berupa kebijaksanaan dan pengalamannya kepada saya.
Selang waktu satu tahun, Rose menjadi icon kampus dan dia dengan mudah berteman dengan siapapun dimanapun dia berada. Dia sangat suka bersolek dan gemar menjadi pusat perhatian di antara para mahasiswa lainnya. Dia sangat menikmati hidupnya saat itu.
Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk menjadi pembicara di sebuah acara makan malam tim sepak bola kampus. Saya tidak akan pernah melupakan apa yang dia ajarkan kepada kami semua saat itu. Pembawa acara memperkenalkan dirinya dan dia pun mulai naik ke atas podium. Saat dia bersiap untuk menyampaikan pidatonya, dia menjatuhkan kertas panduan pidatonya sehingga berserakan di atas lantai.
Kecewa dan merasa sedikit malu dia maju menuju mikrofon dan dengan sederhana berkata, "Maaf, saya sangat gugup sekali. Whiskey ini sungguh menyebalkan! Saya tidak akan bisa menyusun kembali pidato saya, jadi biar saya bagikan kepada Anda apa yang saya ketahui saja." Saat itu kami tertawa, diapun menelan ludahnya dan memulai pidatonya:
"Kita tidak berhenti bermain karena kita menjadi tua; kita menjadi tua karena kita berhenti bermain. Sebenarnya sederhana untuk bisa tetap muda, tetap bahagia dan memperoleh keberhasilan. Kita hanya perlu tertawa, harus memiliki dan mencari lelucon setiap hari, harus punya impian, sebab pada saat kita kehilangan impian, kita akan mati. Ada banyak orang 'mati' berjalan disekeliling kita, dan mereka bahkan tidak menyadarinya sama sekali!" katanya.
"Ada perbedaan besar antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Jika Anda berusia sembilan belas tahun, berbaring di tempat tidur selama setahun penuh dan tidak melakukan satupun hal yang produktif, Anda akan berusia dua puluh tahun di tahun berikutnya. Jika saya berusia delapan puluh tujuh tahun, juga berbaring di tempat tidur selama satu tahun, dan tidak pernah berbuat apapun, saya juga akan berusia delapan puluh delapan tahun pada tahun berikutnya. Setiap orang dapat menjadi tua. Hal ini tidak memerlukan suatu bakat atau kemampuan," dia menambahkan.
"Inti dari menjadi dewasa adalah dengan selalu menemukan kesempatan-kesempatan dalam hidup untuk berubah menjadi lebih baik. Tidak ada penyesalan. Semakin waktu berjalan dan semakin kita tua, kita tidak memiliki penyesalan terhadap apa yang pernah kita lakukan, tetapi justru terhadap hal-hal yang tidak kita lakukan. Hanya orang-orang yang takut akan kematian adalah orang-orang yang memiliki penyesalan."
Dia menutup pidatonya dia dengan lantang menyanyikan lagu "The Rose." Dia meminta setiap dari kami untuk mempelajari liriknya dan menerapkannya dalam kehidupan kami sehari-hari.
Pada akhirnya, Rose menyelesaikan pendidikannya yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Seminggu setelah wisuda Rose meninggal dengan damai dalam tidurnya. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri pemakamannya sebagai bukti pernghormatan bagi seorang wanita yang luar biasa yang telah menjadi seorang contoh nyata bahwa tidak pernah terlambat untuk meraih sesuatu yang mungkin diraih.
Ingatlah kata-kata 'penuh inspirasi' ini untuk mengenang ROSE...
"MENJADI TUA ADALAH KEHARUSAN, MENJADI DEWASA ADALAH PILIHAN."
Saya berdiri dan melihat ke sekeliling sampai saya merasakan sentuhan tangan yang lembut mendarat di bahu saya. Saya berbalik dan melihat seorang wanita tua yang sudah keriput sambil tersenyum kepada saya yang membuat saya merasakan kehangatan dan niat baiknya.
Dia berkata, "Hai, tampan! Nama saya Rose. Saya berumur 87 tahun. Bolehkah saya memberikan kamu sebuah pelukan?"
Saya tertawa dan dengan antusias merespon, "Tentu saya boleh!" dan diapun memberikan pelukan yang erat.
"Mengapa Anda berada di kampus dengan usia Anda yang masih muda dan sangat polos?" Saya bertanya. Dia sambil berkelakar menjawab, "Saya disini untuk bertemu dengan seorang suami kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan berkeliling dunia."
"Tidak-tidak, saya serius dengan pertanyaan saya," saya menegaskan rasa penasaran saya. Saya sangat tertarik untuk mengetahui apa yang memotivasi dirinya sehingga dia ikut kuliah dengan usianya yang sekarang.
"Saya selalu bermimpi untuk megecap bangku kuliah dan sekarang saya ada disini untuk meraihnya!" kata wanita itu kepada saya.
Setelah pelajaran usai kami berjalan ke kantin dan berbagi segelas milkshake coklat. Seketika itu juga kami menjadi teman. Setiap hari selama 3 bulan berikutnya kami menghabiskan waktu bersama seusai kuliah dan bercerita terus tanpa henti.
Saya selalu terpesona mendengarkan tentang "mesin waktu" yang dia bagikan berupa kebijaksanaan dan pengalamannya kepada saya.
Selang waktu satu tahun, Rose menjadi icon kampus dan dia dengan mudah berteman dengan siapapun dimanapun dia berada. Dia sangat suka bersolek dan gemar menjadi pusat perhatian di antara para mahasiswa lainnya. Dia sangat menikmati hidupnya saat itu.
Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk menjadi pembicara di sebuah acara makan malam tim sepak bola kampus. Saya tidak akan pernah melupakan apa yang dia ajarkan kepada kami semua saat itu. Pembawa acara memperkenalkan dirinya dan dia pun mulai naik ke atas podium. Saat dia bersiap untuk menyampaikan pidatonya, dia menjatuhkan kertas panduan pidatonya sehingga berserakan di atas lantai.
Kecewa dan merasa sedikit malu dia maju menuju mikrofon dan dengan sederhana berkata, "Maaf, saya sangat gugup sekali. Whiskey ini sungguh menyebalkan! Saya tidak akan bisa menyusun kembali pidato saya, jadi biar saya bagikan kepada Anda apa yang saya ketahui saja." Saat itu kami tertawa, diapun menelan ludahnya dan memulai pidatonya:
"Kita tidak berhenti bermain karena kita menjadi tua; kita menjadi tua karena kita berhenti bermain. Sebenarnya sederhana untuk bisa tetap muda, tetap bahagia dan memperoleh keberhasilan. Kita hanya perlu tertawa, harus memiliki dan mencari lelucon setiap hari, harus punya impian, sebab pada saat kita kehilangan impian, kita akan mati. Ada banyak orang 'mati' berjalan disekeliling kita, dan mereka bahkan tidak menyadarinya sama sekali!" katanya.
"Ada perbedaan besar antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Jika Anda berusia sembilan belas tahun, berbaring di tempat tidur selama setahun penuh dan tidak melakukan satupun hal yang produktif, Anda akan berusia dua puluh tahun di tahun berikutnya. Jika saya berusia delapan puluh tujuh tahun, juga berbaring di tempat tidur selama satu tahun, dan tidak pernah berbuat apapun, saya juga akan berusia delapan puluh delapan tahun pada tahun berikutnya. Setiap orang dapat menjadi tua. Hal ini tidak memerlukan suatu bakat atau kemampuan," dia menambahkan.
"Inti dari menjadi dewasa adalah dengan selalu menemukan kesempatan-kesempatan dalam hidup untuk berubah menjadi lebih baik. Tidak ada penyesalan. Semakin waktu berjalan dan semakin kita tua, kita tidak memiliki penyesalan terhadap apa yang pernah kita lakukan, tetapi justru terhadap hal-hal yang tidak kita lakukan. Hanya orang-orang yang takut akan kematian adalah orang-orang yang memiliki penyesalan."
Dia menutup pidatonya dia dengan lantang menyanyikan lagu "The Rose." Dia meminta setiap dari kami untuk mempelajari liriknya dan menerapkannya dalam kehidupan kami sehari-hari.
Some say love it is a river
that drowns the tender reed
Some say love it is a razer
that leaves your soul to blead
Some say love it is a hunger
an endless aching need
I say love it is a flower
and you it's only seed
It's the heart afraid of breaking
that never learns to dance
It's the dream afraid of waking that never takes the chance
It's the one who won't be taken
who cannot seem to give
and the soul afraid of dying that never learns to live
When the night has been too lonely
and the road has been too long
and you think that love is only
for the lucky and the strong
Just remember in the winterfar beneath the bitter snows
lies the seed
that with the sun's love
in the spring
becomes the rose
that drowns the tender reed
Some say love it is a razer
that leaves your soul to blead
Some say love it is a hunger
an endless aching need
I say love it is a flower
and you it's only seed
It's the heart afraid of breaking
that never learns to dance
It's the dream afraid of waking that never takes the chance
It's the one who won't be taken
who cannot seem to give
and the soul afraid of dying that never learns to live
When the night has been too lonely
and the road has been too long
and you think that love is only
for the lucky and the strong
Just remember in the winterfar beneath the bitter snows
lies the seed
that with the sun's love
in the spring
becomes the rose
Pada akhirnya, Rose menyelesaikan pendidikannya yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Seminggu setelah wisuda Rose meninggal dengan damai dalam tidurnya. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri pemakamannya sebagai bukti pernghormatan bagi seorang wanita yang luar biasa yang telah menjadi seorang contoh nyata bahwa tidak pernah terlambat untuk meraih sesuatu yang mungkin diraih.
Ingatlah kata-kata 'penuh inspirasi' ini untuk mengenang ROSE...
"MENJADI TUA ADALAH KEHARUSAN, MENJADI DEWASA ADALAH PILIHAN."
Kamis, 22 Oktober 2009
Hukum Pygmalion - Kekuatan Berpikir Positif...
Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus.Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi oleh orang-orang di sekelilingnya. Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
* Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."
* Ketika ada seorang pembeli patung bersikeras tawar-menawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih penting."
* Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia sungguhan. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu." Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu seperti manusia sungguhan. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia nyata. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya,
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan. Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion.
Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
* Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
* Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang tidak jelas. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain. Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikiran buruk, kita akan menjadi curiga, "Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita mengomel, "Ah, hadiahnya cuma barang murah."
Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita." Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Lingkungan menjadi hangat dan akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah. MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only. How nice...
* Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."
* Ketika ada seorang pembeli patung bersikeras tawar-menawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih penting."
* Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia sungguhan. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu." Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu seperti manusia sungguhan. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia nyata. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya,
* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan. Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion.
Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.
* Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
* Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang tidak jelas. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain. Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikiran buruk, kita akan menjadi curiga, "Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita mengomel, "Ah, hadiahnya cuma barang murah."
Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita." Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Lingkungan menjadi hangat dan akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah. MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only. How nice...
Langganan:
Postingan (Atom)